Menggagas Sistem Politik Anti Ambyar


Pasca runtuhnya Khilafah pada tahun 1924. Umat Islam mengalami kemunduran yang sangat pesat dari segala lini kehidupan. Bagaikan buih berterbangan kemana mana mencari sistem politik dan pemerintahan. Inilah kali pertama paham sekulerisme tidak hanya diterima oleh umat islam, tapi dijadikan sebagai ideologi yang diterapkan secara konsisten di tengah kehidupan.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia ini, ada segelintir orang yang beranggapan bahwa agama tidak boleh dicampur dengan politik. Beberapa pihak menyayangkan Islam dimasukan dalam politik. Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin dalam keterangan pers menuturkan, semua pihak hendaknya menempatkan agama pada tempat yang tepat. Agama, lanjutnya, tidak boleh dibenturkan dengan politik. Sementara itu, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Benny Susetyo mengatakan, agama hendaknya tidak dijadikan alat untuk menyerang lawan politik, apalagi menghancurkan karakter (Okezone.com, 2019/04/05).

Tak hanya di dalam negeri, tokoh dunia ikut menunjukkan keberatannya atas campur tangan agama dalam ranah politik. Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Mohammed Dajani, Founder and Chairman Wasatia Movement, Jerusalem mengatakan agama seharusnya tak dijadikan kendaraan politik. Senada dengan hal itu Zainab al-Suwaij, Executive Director American Islamic Congress dari Irak mengatakan, negaranya hancur karena menjadikan agama sebagai alat politik (Tempo.co/2018/10/28).

Dari sini nampak sekali bahwa ada keberatan agama dibawa dalam ranah politik. Seolah mereka beranggapan bahwa agama akan membawa kerusuhan dalam politik. Karenanya agama harus dipisahkan dari politik yang kotor, karena agama itu suci tidak boleh dicampur dengan yang kotor. Namun pada faktanya ketika hendak mencari suara kekuasaan, tak sedikit dari mereka yang mengunjungi para ulama bahkan menggandengnya yang notabene ahli agama. 

Pemahaman yang rusak ini tentu muncul akibat dari menancapnya pemahaman yang menyesatkan pada pola pikir mereka, seperti nasionalisme, liberalisme, dan demokrasi. Sehingga Islam hanya dianggap sebagai ilmu dan ibadah semata. Hukum Fiqh hanya dijadikan sebagai sekumpulan teori murni dan syariat hanya dipelajari sebagai pengetahuan dalam ranah akhlak dan masalah-masalah ibadah ritual saja, bukan lagi sebagai hukum yang mampu menyelesaikan problematika umat dan mengatur seluruh kehidupan umat.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt, kepada Nabi Muhammad Saw, melalui malaikat Jibril, untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya (Allah), dengan dirinya sendiri, serta manusia dengan sesamanya. Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, sebagaimana yang termaktub dalam ayat suci Alquran, "Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, dan mencukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan meridhai Islam sebagai agama kalian." (TQS. al-Maidah:3) Islam memang mengatur urusan ritual. Menyembah sang Pencipta seperti ibadah sholat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya. Tapi Islam juga mengatur urusan di luar ibadah seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan, perekonomian, pergaulan, bahkan politik. Islam sempurna karena ajarannya utuh dan komplit. Karenanya Islam bukan sekedar agama melainkan juga suatu ideologi. 

Dalam Islam, politik bermakna kepengurusan umat, dijalankan dengan tujuan mengurusi kepentingan rakyat. Bagaimana urusan umat tertangani dengan baik sehingga kesejahteraan dirasakan semua pihak. Berbagai kebijakan dalam politik Islam sudah jelas tertera di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga tidak mudah diselewengkan seperti yang terjadi pada sistem demokrasi saat ini. Yang niatnya berpihak kepada rakyat tapi prakteknya berpihak kepada konglomerat. 

Islam dan kekuasaan adalah satu kesatuan, ibarat dua sisi mata uang logam dalam satu koin yang tidak bisa dipisahkan. Islam sebagai asasnya (aqidah), sedangkan kekuasaan sebagai penjaganya. Sesuatu yang tidak memiliki asas pasti akan runtuh, dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga pasti akan hilang. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang berjudul al-Iqtishad fi al-I'tiqad yang berbunyi, “Agama adalah pondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa pondasi akan roboh, dan sesuatu tanpa penjaga akan hilang.”

Umat Islam harus memahami secara keseluruhan bahwa Islam tidak hanya sekedar agama ritual saja, namun Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk sistem politik, dan yang terpenting pengaplikasian baik dalam ranah individu, masyarakat, dan negara.
 
Umat Islam pernah memiliki suatu peradaban yang gemilang dan menjadi adidaya dunia. Hanya memerlukan kurang lebih sekitar 20 tahun Islam pada saat itu mampu menaklukkan dua imperium besar pada masanya, yakni Persia dan Romawi. Pada masa itu Kepemimpinan Islam mampu menjadi adidaya dunia yang ditakuti seluruh dunia. Kedudukan umat Islam maju dan berkembang pesat, memiliki peradaban yang kuat tidak mudah tergoyahkan, kecuali sejak kaum kafir penjajah berhasil melenyapkan kedudukan umat islam. Yaitu sejak runtuhnya khilafah Islam yang terakhir di Turki pada tanggal 3 Maret tahun 1924.[]

Oleh: Robby Vidiansyah Prasetio 
(Pegiat Majelis Gaul) 

Posting Komentar

1 Komentar