Memahami Toleransi Islam dalam Keberagaman



Mencintai kerukunan antar keberagaman (pluralitas) di masyarakat merupakan salah satu karakter Islam yang sekaligus sebagai agama dengan pemeluk mayoritas di negeri ini. Fakta betapa keluhuran akhlak yang mengajarkan sikap anti pemaksaan sampai hari ini pun masih bisa kita rasakan. Ditambah dalam keseharian beribadah, kaum muslim menjalaninya dengan santai tanpa merasa tidak disukai atau sebaliknya membenci umat beragama lain.

Seperti diketahui kehidupan masyarakat muslim yang selalu berdampingan dengan umat berkeyakinan lain adalah suatu kondisi nyata yang tidak bisa ditolak. Kemajemukan ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa memang tidak ada kehidupan manusia yang homogen di dunia ini. Hanya saja untuk menghadirkan perdamaian dalam keragaman, dibutuhkan sikap toleransi antar umat beragama. Maka dari itu, Islam menganjurkan kepada para pengikutnya untuk senantiasa menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama. Bahkan tidak saja dianjurkan tapi justru bisa disebut salah satu perintah agama.

Secara etimologi istilah toleransi berasal dari kata 'tolerare' (bahasa latin) yaitu sabar dan menahan diri. Sedangkan dalam bahasa Arab, toleransi berarti 'tasamuh'. Toleransi juga bisa berarti suatu karakter saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau individu (perseorangan) baik di dalam masyarakat ataupun lingkup lebih kecil lainnya. Makna toleransi juga memiliki banyak penafsiran, bisa bermakna tenggang rasa, lapang dada, dan bermurah hati.

Adalah Rasulullah ﷺ meneladankan sikap toleransi terhadap kaum Nasrani bahkan Yahudi yang telah menjadi dzimmi dengan memberikan jaminan khusus. Yakni memperoleh perlindungan Islam bagi keluarga, harta benda, cara makan, cara pernikahan bahkan cara peribadatan mereka. Sangat simetris dengan hadits beliau, "Barang siapa menyakiti seorang dzimmi (non muslim yang tidak memerangi umat muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.” (HR. Imam Thabrani).

Demikian keberlangsungan pluralitas yang senantiasa terjaga bahkan berlanjut hingga masa kepemimpinan sahabat empat (Khulafaur Rasyidin) berikut para Khalifah di era kejayaan Islam setelahnya. Sampai-sampai seorang orientalis Inggris sekaligus sejarawan seni Islam, Thomas Walker Arnold dalam The Preaching of Islam 1896 hal. 134 mengatakan, 'perlakuan terhadap warga kristen oleh pemerintah khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa'. Terlebih tentang masuknya Islam ke Indonesia, beliau juga menyebutkan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang lil’alamin.

Dengan demikian, implikasi toleransi beragama tidak lantas mengharuskan seorang muslim ikut serta menghadiri aktifitas kepercayaan orang lain. Seperti perayaan kegiatan keagamaan atau acara-acara yang berhubungan dengan peribadatan. Bahkan sekedar mengucapkan selamat saja, Islam mengisyaratkan agar tanpa menyertakan rasa dari hati. Jika tidak, maka fatal akibatnya. Maka dari itu tidak semua mukmin walau dengan kadar iman tinggi sekalipun mampu melakukannya. Sebab berpotensi merusak pengakuan (syahadat) seorang muslim itu sendiri yang menjadi kunci masuk ke dalam Islam. Dimana dua kalimat syahadat juga merupakan intisari dari arkanul iman (rukun-rukun iman) yang muncul dari dalam hati.

Pun bukan berarti acuh layaknya sebuah kebencian. Cukup membiarkan saja sebagai cara menghormati dan menghargai kepercayaan orang lain. Lagipula tidak perlu ada kesan mencampur adukkan hal prinsip tiap-tiap keyakinan jika sekedar ingin menunjukkan bahwa agama Islam juga mencintai dan merindukan kerukunan hidup.

Bukan berarti juga menghilangkan hubungan persaudaraan berupa kebiasaan anjangsana seperti menjenguk dan mendo'akan kebaikan dunia untuk saudara non muslim yang sedang sakit atau menghadiri undangan pernikahan mereka yang kebetulan menjadi tetangga kita. Namun demikian apabila dalam acara tersebut ada unsur kemaksiatan atau perbuatan yang dilarang oleh syari’at seperti syiar-syiar agama mereka, maka hukum menghadirinya adalah haram.

Oleh karena itu sebagai salah satu wujud akhlak yang baik, umat Islam senantiasa dituntut untuk mampu bersikap baik dan adil kepada mereka. Sementara terhadap orang kafir yang memusuhi kaum muslim karena alasan agama, justru syari'at melarang pertemanan bahkan sekedar bersikap baik saja tidak boleh. Hal ini dikarenakan orang tersebut menunjukan loyalitasnya kepada orang-orang kafir untuk memusuhi umat Islam.

Sebagaimana firman Allah ﷻ, surat Al-Mumtahanah ayat 8-9 yang artinya "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al Muntahanah ayat 8-9).

Dengan memperhatikan data-data baik berupa evidensi maupun kesaksian di atas terkait jejak sejarah peradaban manusia, sepertinya cukup menjelaskan bahwa sejak kebangkitannya, Islam merupakan agama yang sarat kelembutan. Maka sebagai manusia berakal, sudah sepatutnya mengapresiasi betapa tingginya toleransi Islam terhadap keberagaman.

Lebih jauh merupakan hal yang tidak benar tatkala Islam sudah menjadi satu-satunya azas kehidupan bernegara, maka segala pemaksaan terhadap umat beragama lain akan terjadi. Justru kondisi masyarakat yang saling menghormati, bermuamalah ataupun bekerja sama dalam hal kebaikan yang lain akan mudah terealisasi. Bahkan di bidang ketahanan negara, warga negara non muslim pun diperbolehkan turut serta. Demikian kiranya keadilan dan kemuliaan kekuasaan Islam memperlakukan keberagaman dalam membangun sebuah peradaban.[]

Oleh: Zainul Krian

Posting Komentar

0 Komentar