Klithih di Jogja Marak Lagi, Benarkah sebagai Efek Pandemi?




Lagi dan lagi. Aksi klithih muncul lagi. Menambah lara masyarakat di saat pandemi. Di tengah meningkatnya pergaulan bebas, kekerasan seksual terhadap anak dan beratnya orang tua menanggung beban ekonomi akibat PHK, dst. 

Dilansir dari tribunjogja.com, 17/12/2020, sejumlah remaja yang kedapatan membawa beberapa senjata tajam diringkus jajaran kepolisian dari Polres Sleman. Mereka hendak melakukan tawuran antargeng pelajar yang rencananya melibatkan dua kelompok pelajar yaitu Sunsed dan Exist yang merupakan kelompok dari sekolah yang sama. 

Benarkah kemunculan klithih saat ini lebih sebagai efek pandemi? 

Klithih, Kejahatan Remaja 'Khas' Jogja 

Klithih. Bagi warga Yogyakarta, istilah ini tak asing lagi. Sekaligus membuat was-was hati. Kata ini mewakili gambaran tindak kekerasan sekelompok pelajar SMP atau SMA yang biasanya menarget pelajar sekolah lain untuk dihajar bahkan hingga korbannya meninggal. 

Jika sebelumnya sasaran dan pelaku jelas dari sekolah yang bermusuhan, tapi saat ini korban dan pelaku tak lagi bisa dipetakan. Meski pelaku berstatus pelajar, namun mereka tak lagi hanya menyasar pelajar sekolah lawan.

Pelaku membentuk geng gabungan beberapa sekolah dengan sasaran acak. Tak peduli tua muda. Pun pria wanita. Mereka menggunakan senjata tajam seperti pisau, celurit, gir, atau benda yang ada di sekitar aksi. Perbedaan dengan begal, pelaku klithih tidak mengambil barang korban tapi hanya melumpuhkannya.

Kenekadan pelaku klithih salah satunya untuk unjuk eksistensi diri, perasaan bangga di hadapan kelompok teman sebaya karena telah berhasil memperdaya orang lain. Tak sebatas ingin menunjukkan loyalitas teman sebaya, klithih juga bermuara dari rasa kecewa, masalah di rumah, putus cinta, lingkungan sekolah, dan pergaulan. 

Mayoritas pelaku klithih adalah korban broken home. Gejolak ketidakpuasan yang lantas dilampiaskan dengan perbuatan kriminal secara brutal. 
Selain itu, klithih juga ditengarai sebagai ‘prestasi’ demi diterima menjadi bagian dari komunitas premanisme yang lebih besar yang berafiliasi dengan suatu kelompok politik maupun ekonomi. 

Merebaknya kembali klithih di masa pandemi sangat dimungkinkan karena para pelajar "hanya" belajar daring di rumah selama ini. Sepuluh bulan tanpa pembelajaran tatap muka dan aktivitas lain di sekolah tentu membuat gejolak remajanya meronta. Rasa bosan menerpa. Sayang, energi berlebih justru dilampiaskan pada aktivitas brutal yang merugikan banyak pihak. 

Klithih, Perkara Sistemik Bukan Kasuistik

Pandemi memang mengakibatkan problem di berbagai sisi. Di sektor ekonomi, banyak perusahaan bangkrut, PHK meninggi. Dalam keluarga, terjadi KDRT dan perceraian. Di aspek sosial lainnya, gaul bebas, kekerasan seksual, dll pun turut meroket angkanya. 

Namun, jika ditelisik, fenomena klithih tidak hanya terjadi saat pandemi. Kejenuhan suasana pandemi memang bisa memicu terjadinya klithih, tapi terus berulangnya klithih menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah kasuistik. Melainkan perkara sistemis. Yang melibatkan banyak aspek kehidupan.

Lemahnya ketahanan keluarga dan menurunnya fungsi orang tua sebagai pendidik utama memang berkontribusi menciptakan kekerasan pelajar. Tetapi sejatinya bukan hanya itu. Sistem kehidupan sekularisme liberal mempunyai andil besar atas sederet problem di masyarakat termasuk klithih.

Terlebih di masa pandemi di mana negara sebagai pelindung dan pengurus rakyat tak menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Gagap dan gugupnya penguasa menyikapi pandemi menambah duka rakyat berlarut-larut. Karena penyelesaian masalah bukan berporos pada keselamatan jiwa, namun lebih fokus pada ekonomi dan investasi.  

Telah lama sekularisme (paham pemisahan agama dari kehidupan) yang diadopsi sebagai landasan sistem pendidikan di negeri ini telah mencabut ruh keimanan dalam diri pelajar. Pembelajaran ilmu umum tidak dipadukan dengan aspek agama. Pendidikan agama (Islam) diajarkan sebatas ranah ibadah ritual. Dengan metode sekadar transfer pengetahuan. Dalam waktu minimalis 3-4 jam pelajaran perpekan. 

Ketika makna agama disempitkan maka iman dan takwa pun tak diizinkan mewarnai aktivitas di luar ibadah ritual termasuk pergaulan remaja. Wajar jika output pendidikan sarat dengan nilai liberal. Menjadi pribadi serba bebas, liar, dan sulit diarahkan. 

Di luar lingkungan sekolah, remaja berinteraksi dengan berbagai produk kapitalis yang mengumbar adegan kekerasan seperti games, video, dan tayangan lain yang sangat mudah diakses melalui perangkat digital. 
Gaya hidup hedonisme yang bertumpu pada kesenangan materi sebagai tujuan hidup dan asas tindakan menambah keliaran remaja.

Sistem ekonomi neoliberal saat ini juga berkontribusi dalam memproduksi kekerasan pelajar. Liberalisasi ekonomi dari hulu ke hilir berdampak pada kemiskinan struktural. Untuk dapat bertahan hidup tak hanya ayah yang mencari nafkah. Kaum ibu turut serta dalam pusaran dunia kerja. Perhatian dan pengasuhan anak pun berjalan ala kadarnya. 

Fungsi pendidik pertama dan utama sulit dijalankan oleh sang ibu. Peran ini akhirnya dilimpahkan kepada sekolah dan pengasuh. Wajar jika orang tua merasa kesulitan mengendalikan dan mengarahkan anak. Kekerasan adalah cara anak memberontak atas hilangnya kasih sayang dan perhatian dari ayah bunda.

Di tengah masifnya arus globalisasi dan penatnya beban ekonomi, orang tua dituntut sigap membentengi anak dari berbagai pengaruh merusak. Tak hanya berbagai solusi jangka pendek, problem ini membutuhkan tinjauan solusi jangka panjang. Solusi yang memastikan penerapan sistem kehidupan yang mengakomodasi fitrah manusia menuju kebaikan dunia akhirat. Ialah Islam.Aturan yang berasal dari Sang Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan.[]

Oleh: Puspita Satyawati
Analis Politik dan Media

Posting Komentar

0 Komentar