Khilafah, Sistem Sempurna Hapus Derita Perempuan

                                                                              
Perempuan bekerja pada saat ini sudah menjadi hal yang lazim dijumpai. Tingginga kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi agaknya menjadikan mereka harus melangkahkan kaki ke tempat kerja. Kendala upah minim yang didapat pun harus diterima. Keadaannya yang berbeda dengan laki-laki menjadikannya harus rela menerima upah yang lebih rendah.

Seperti artikel yang dilansir dari theconversation.com, 18 maret 2020, stigma yang melekat pada perempuan, seperti perempuan itu lebih lemah sebagai pekerja dibanding laki-laki menjadi satu alasan mengapa pihak perusahaan enggan mempekerjakan mereka. Stigma itu menurut Suci Flambonita staf pengajar di Fakultas Hukum, Universitas Sriwijaya, muncul dari budaya patriarki yang dilanggengkan. Suci menjelaskan budaya patriarki ini termanifestasi dalam hubungan industrial yang timpang antara buruh dan pemberi kerja di mana buruh perempuan selalu berada pada posisi yang lemah. "Buruh perempuan dianggap hanya second person (orang ke 2)," ujarnya. Akibatnya buruh perempuan sering diperlakukan semena-mena.

Perempuan pekerja pun menjadi mahkluk yang penuh derita. Sudahlah harus membanting tulang dengan upah rendah agaknya mereka juga sering menjadi korban kekerasan saat bekerja, dilansir dari sumber yang sama, penelitian pada paruh akhir tahun 2017, menunjukkan bahwa meski mayoritas butuh perempuan dalam sektor garment di kawasan Jakarta Timur pernah mengalami kekerasan seksual, hanya sedikit sekali yang melapor. Buruh hamil di KBN cakung ini juga mengalami tekanan saat bekerja. Mereka wajib lembur meski sedang hamil dan sering kali tidak dibayar. Hal yang serupa juga terjadi pada buruh perempuan di Aice. "Buruh perempuan yang sedang hamil baru bisa non shift (tidak bekerja) kalau usia kandungan sudah 7 bulan. Sebelum itu, masih harus angkat barang berat dan dapat shift (waktu kerja) malam," ujar Sarinah.

Resiko yang dihadapi perempuan saat bekerja dan minimnya upah yang didapat mendorong perlunya sebuah peraturan baru. Peraturan yang diharapkan mampu membawa perempuan untuk mendapatkan hak yang sama dalam bekerja dengan menepis berbedaan yang dianggap merugikan bagi kaum perempuan. Mampukah hal itu mengakhiri derita mereka dan membawa sejahtera baginya?

Derita yang dialami perempuan bekerja pada saat ini sebenarnya membuktikan bahwa sistem yang ada saat ini tidak bisa memberi jaminan kesejahteraan bagi mereka. Kebutuhan ekonomi yang tinggi menghimpit mereka dan memaksa mereka bekerja karena kebijakannya tak mampu menyentuh  perekonomian mereka karena selalu berpihak pada para cukong dan pemilik modal saja. 

Pengelolaan kekayaan berupa sumber daya alam yang melimpah ruah pun tak sampai menjamah mereka karena buruknya aturan dan para orang yang ada di dalam sistem ini. Disisi lain kapitalis yang berorentasi kepada asas manfaat cenderung menyukai pekerja perempuan karena bisa dibayar rendah. Kapitalis dengan ide feminisme nya sejatinya digunakan untuk menutupi kedoknya tersebut.

Perempuan yang seharusnya menjadi pendidik utama bagi keturunannya dan pengatur rumah tangga dihilangkan dengan iming-iming kebebasan. Mendorong perempuan lebih memilih bekerja daripada mengurus anak dan rumah. Memunculkan pandangan bahwa status sebagai ibu rumah tangga adalah status kelas bawah yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Sistem kapitalis yang saat ini diterapkan sejatinya adalah pangkal dari penderitaan yang saat ini dihadapi oleh perempuan. Menjauhkan perempuan dari tugas mulia yang telah digariskan Allah sebagai umm wa robatul ba'it, yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Selama sistem kapitalis ini masih diterapkan, peraturan baru apapun agaknya belum bisa mengakhiri derita perempuan.

Di dalam sistem Islam (khilafah) perempuan senantiasa menjadi kaum yang dimuliakan. Perempuan senantiasa terpenuhi kebutuhannya sehingga tidak lagi didera penderitaan karna khilafah senantiasa menjaminnya. Khilafah menjadikan kewajiban untuk menafkahi perempuan di tanggung oleh wali perempuan berdasar ketetapan syara'. Khilafah juga akan memastikan perempuan mendapatkan hak nafkah penuh dari para walinya. Namun di sisi lain, tidak ada larangan bagi perempuan yang ingin bekerja, namun bukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. 

Sistem Islam yaitu khilafah juga akan memastikan terbukanya lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi para lelaki sehingga memudahkan mereka untuk bisa bekerja.  Di samping itu khilafah juga mengatur hasil alam dan pendapatan negara dengan mekanisme yang tepat. Negara juga akan memberikan modal dan pelatihan supaya para lelaki dapat memenuhi kebutuhan keluarga tanpa perlu sang isteri ikut bekerja. Khilafah adalah satu-satunya sistem yang mampu mengakhiri derita kaum perempuan atau ibu yang saat ini marak dijumpai. Karena perempuan adalah tonggak peradaban yang darinya lahir generasi yang diharapkan mampu dan layak mengisi peradapan gemilang Islam.

Khilafah adalah satu satunya sistem sempurna karena aturannya lahir dari Sang Maha Pencipta dan Pengatur seluruh mahkluk yaitu Allah Swt. Kita sebagai mahkluk ciptaannya wajib mengambil seluruh aturan yang lahir dari Allah Swt secara menyeluruh sebagai wujud ketakwaan kita kepada-Nya. Dan segera mencampakkan sistem sekuler kapitalis yang melahirkan peraturan dari akal manusia yang terbatas dan hanya mengejar manfaat belaka yang semakin menjauhkan umat dari aturan-Nya, sehingga merusak tatanan alam dan semakin membawa kepada jurang penderitaan yang dalam. Allahu a,'lam bisshowab.[]

Oleh: Murni Ummu Nafeeza

Posting Komentar

0 Komentar