Khilafah, Mengakhiri Derita Panjang Muslim Rohingya



Nasib etnis muslim Rohingya masih belum menemui titik terang. Keadaan mereka yang terombang-ambing disebabkan tak ada wilayah yang mengakui eksistensi etnis ini. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Pemerintah Banglades mulai memeindahkan sekitar 1.600 pengungsi Rohingya ke Pulau Bhasan Char. Pulau ini diketahui terletak di wilayah yang cukup terpencil dan rawan banjir di daerah Teluk Bengal (viva.co.id). Ironisnya sebagian besar dari para pengungsi ini tidak menginginkan pemindahan tersebut.

Pulau Bhasan Char adalah pulau yang tak layak huni. Pulau ini diketahui rentan terhadap banjir dan terjangan angin topan. Namun otoritas Bangladesh setempat mengklaim bahwa pihaknya telah merenovasi kawasan tersebut sehingga dapat ditinggali oleh pengungsi Rohingya. Dikatakan pula sejumlah 100.000 pengungsi dapat ditampung di Pulau Bhasan Char. Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina juga memastikan kepada dunia internasional tidak ada bentuk paksaan yang mereka berikan kepada para pengungsi (news.okezone.com,04/12/20).

Sikap Pemerintah Bangladesh nampak tidak berpihak pada keselamatan etnis Rohingya. Sebelumnya Bangladesh pernah berusaha untuk mengirim pengungsi Rohingya untuk kembali ke Myanmar pada November lalu. Upaya ini dilakukan oleh Pemerintah Bangladesh dalam koridor kerjasama Bilateral dengan Myanmar. Hanya saja tidak ada pengungsi Rohingya yang bersedia kembali ke Myanmar disebabkan alasan keamanan (news.okezone.com,04/12/20).

Sungguh memprihatinkan jika kita melihat ketidakjelasan nasib etnis Rohingya. Tetapi lebih memprihatinkan saat mengetahui bahwa negari-negeri Muslim yang berada di sekitarnya tidak ada peduli atau mungkin segaja tak peduli. Seperti halnya Bangladesh. Negara Bangladesh diketahui dihuni oleh mayoritas penduduk Muslim , dengan prosentase sekitar 89,5%. Meski mayoritas Muslim, Bangladesh menyikapi isu etnis Rohingya-yang notabene juga Muslim- tidak berdasar pada dorongan kesamaan aqidah. Bangladesh menyelesaikan masalah Rohingya dengan mengikuti konvensi internasional.

Isu Rohingya telah menjadi isu bersama dunia internasional. Setidaknya karena latar belakang ini Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengerahkan badan khususnya yang mengurusi seputar pengungsian (UNHCR) di Myanmar dan Bangladesh. Selain itu juga hadir lembaga pengamat Hak Asasi Manusia (HAM) internasional atau Human Right Watch (HRW) yang seolah sangat konsen dengan pembahasan ini. Jika benar mereka semua sedang memperjuangkan perbaikan nasib etnis Rohingya, mengapa pengungsi Rohingya masih terlunta nasibnya?

Dunia internasional tentu memiliki cara pandang yang khas atas Rohingya. Meskipun PBB mengungkapkan rasa prihatin, mengirimkan tim khusus pengungsi dan mencatat setiap bentuk pelanggaran HAM, namun itu semua tidak menyentuh masalah mendasar. Rohingya menjadi etnis yang tidak memiliki kewarganegaraan karena keberadaan mereka tidak diakui oleh Pemerintahan Myanmar. Eksistensi mereka dipertanyakan hanya karena mereka minoritas dan memeluk Islam. Etnis Rohingya menjadi kontras dengan kondisi Myanmar yang berpenduduk mayoritas Budha.

Masalah Rohingya sejatinya tidak akan pernah selesai kecuali dengan penyelesaian secara syariat Islam. Islam memandang bahwa antara Muslim satu dengan lainnya ibarat satu tubuh. Islam menyeru pada persatuan seluruh kaum Muslim dan melarang adanya perpecahan. Jika diketahui ada bagian dari umat yang terzhalimi maka menjadi wajib bagi kaum Muslim yang lainnya untuk menolong. Kondisi ini hanya akan mungkin terwujud ketika umat Islam berada dalam satu kepemimpinan politik, yakni Khilafah Islamiyah.

Khilafah akan menjaga setiap jengkal wilayahnya dari segala perpecahan. Khilafah juga akan menyatukan negeri Muslim menjadi satu negara besar yang berdaulat berdasar syariat Islam kaffah. Sangat berbeda dengan konsep negara bangsa atau nation state yang melahirkan sikap nasionalisme pada negeri-negeri Muslim. Nasionalisme secara nyata memutuskan tali ukhuwah diantara sesame Muslim. Sedangkan Khilafah Islamiyah yang berpijak pada hukum syara’ meniscayakan adanya ukhuwah yang kuat atas ikatan aqidah.

Rohingya hanya akan terselamatkan dengan syariat Islam melalui institusi Khilafah Islamiyah. Cukup sudah kita menyaksikan penderitaan panjang dari para saudara kita ini. Tidak ada kepentingan bagi kaum Muslim untuk masih berharap pada dunia Internasional. Satu-satunya jalan keluar yang akan mengangkat duka nestapa Rohingya adalah dakwah politik untuk tegaknya Khilafah Islamiyah.[]

Oleh: Ummu Hanan 
Aktifis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar