Ketamakan Proyek Wisata Alam



Taman Nasional Komodo (TNK) direncanakan oleh pemerintah akan dijadikan pariwisata kelas dunia. Konsultan global berpengalaman menata pariwisata premium-pun disarankan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Tutur Luhut bahwa antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo akan dijadikan salah satunya sebagai masif turis dan satu lainnya wisata premium (six stars). Namun, tampak potret foto seekor komodo menghadang laju truk proyek wisata alam di TNK, Pulau Rinca menjadikan topik #savekomodo populer di Twitter oleh keramaian netizen yang menolak proyek tersebut. (cnnindonesia.com, 27/11).
 
Meskipun terdapat penolakan, TNK yang berlokasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini akan tetap dipromosikan sebagai proyek wisata oleh Luhut. Menurut Luhut yang juga pencetus nama proyek “Jurassic Park”, komodo yang hanya satu-satunya di dunia, sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi. Lanjutnya, proyek pembangunan wisata TNK bertujuan agar dapat menjaga keberlangsungan komodo. (galamedia.pikiran-rakyat.com, 27/11).
 
**
 
Habitat komodo di TNK akan dijual untuk dijadikan proyek sebagai wisata alam. Ini akan dapat mengganggu kelangsungan hidup dan habitat komodo maupun makhluk hidup lainnya yang ada di TNK. Dilansir dari bbc.com, TNK termasuk dalam kawasan konservasi yang telah dijaga ketat puluhan tahun. Maka, dengan adanya proyek pembangunan wisata alam mengharuskan truk maupun alat berat lainnya untuk beroperasi, sehingga menimbulkan gangguan bagi makhluk hidup yang ada, serta akan mengalami kerusakan alam.
 
Kerugian bagi makhluk hidup dan alam-pun timbul dari adanya proyek wisata alam. Hewan dan tumbuhan akan mengalami perubahan dalam habitatnya. Pembangunan dan wisatawan yang akan berdatangan cenderung merugikan melalui polusi yang dapat berupa asap kendaraan, bisingnya kendaraan, hingar-bingar wisatawan, hingga sampah. Hal ini mengganggu kenyamanan, keamanan, kelangsungan Sumber Daya Alam (SDA) termasuk kehidupan hewan dan tumbuhan yang ada didalamnya. Warga lokal di sekitarnya-pun akan terganggu dan terpinggirkan.
 
Proyek wisata alam oleh pemerintah di TNK ini juga mengalihkan dari pengelolaan SDA yang memberi pemasukan yang besar. Alih-alih pengelolaan SDA dengan melestarikan kawasan TNK, pemerintah mengutamakan keinginan dan kepentingan demi memperoleh lebih banyak keuntungan daripada yang diperlukan bagi kemanfaataan rakyat, maupun kelangsungan SDA yang ada di dalamnya.
 
Proyek wisata alam yang merugikan SDA ini-pun menunjukkan ketamakan pemerintah untuk mengeksploitasi SDA yang ada di dalam negara hanya untuk kepentingan dan keuntungannya. Anggapan komodo sebagai hewan satu-satunya di dunia yang dimanfaatkan untuk dijual dalam proyek taman wisata alam. Bukan untuk melindungi dan melestarikannya, tetapi malah memanfaatkannya demi keuntungan ekonomi.
 
*Kawasan Konservasi dan Sumber Pendapatan dalam Sistem Islam*
 
Kawasan konservasi dalam islam disebut dengan hima. Hima dalam sistem islam bukan untuk pariwisata. Pengelolaan hima yang didasarkan sistem islam tidak diperbolehkan secara individu, tetapi untuk kemanfaatan umum guna melindungi dan melestarikan SDA di dalamnya, sehingga tidak untuk dijadikan pariwisata. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hima, kecuali milik Allah dan RasulNya”.
 
Sistem islam dalam negara khilafah tidak menjadikan bidang pariwisata sebagai sumber pendapatan negara. Sumber pendapatan negara diperoleh melalui baitul mal yang berasal dari fai yaitu pembayaran dari nonmuslim dengan damai tanpa perang; kharaj yaitu hasil tanah nonmuslim melalui perang atau perjanjian damai; ghanimah yaitu harta dari musuh islam dengan perang; dharibah yaitu harta kaum muslim tertentu ketika keadaan darurat baitul mal tidak ada harta; jizyah yaitu pembayaran dari nonmuslim yang menerima perlindungan dan keamanan negara; khumus yaitu seperlima harta tertentu; kepemilikan umum yaitu SDA terbatas, tidak terbatas, dan yang tidak untuk dimiliki individu seperti bandara; zakat, sehingga tampak beberapa diantaranya tersebut melalui bidang pertanian, perdagangan, industri, dan jasa. Keseluruhan sumber pendapatan negara ini akan mampu membiayai negara dan mampu memenuhi kebutuhan umat berdasarkan syariat demi mengharap keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala semata, sehingga ketamakan dan eksploitasi demi kepentingan dan keuntungan tidak akan terjadi dalam sistem islam.
 
Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Andhari

Posting Komentar

0 Komentar