Kepada Apa Kami Menyeru?



Pada hakekatnya, dakwah yang mempunyai landasan pemikiran Islam ideologis akan mengalami berbagai macam hambatan yang merintangi langkah perjuangannya. Kelompok Islam yang menyerukan kembali penegakan Khilafah Islamiyah itu tentunya berbeda dengan kelompok-kelompok yang hanya menyeru kepada perubahan parsial yakni cabang-cabangnya tanpa menyentuh akarnya sama sekali.

Kelompok Islam yang memperjuangkan tegaknya Khilafah mempunyai pemikiran yang khas dan metode yang shahih. Ia berjuang disegala bidang, mencakup seluruh gerakan pembebasan dan memobilisir seluruh pejuang dalam aktivitas dakwahnya. Ia menyeru kepada gerakan pembebasan umat dari warisan intelektual penjajahan, yang hanya dapat dicapai melalui konsensus masyarakat sehingga Islam menjadi rujukan dalam berbagai hubungan kemasyarakatan. Pada titik inilah, umat akan menuntut negara menerapkan syariah untuk mengatur seluruh sistem kehidupannya dan seruan penegakkan khilafah secara mendesak dan revolusioner berdasarkan landasan penggalian hukum Islam beserta Ijtihadnya yang akan membangun kredibilitas sistem politik Islam Ideologis. 

Pada saat realita masyarakat tengah diatur oleh sistem jahiliyah yang tidak mengakui keberadaan sistem Islam Khilafah, maka sesungguhnya pertarungan antara kelompok Islam Ideologis dengan penguasa beserta sistemnya tentunya akan mengalami benturan yang hebat. Kelompok Islam yang memperjuangkan Khilafah mendapatkan berbagai macam musuh, menyerang dari berbagai arah, serangan dalam bentuk narasi atau propaganda jahat maupun serangan dalam bentuk fisik. Sunnatullahnya, pengemban dakwah yang hanya menyeru kepada penerapan sistem Islam secara totalitas dan revolusioner, jika tidak mempunyai musuh (penguasa beserta sistem jahiliyahnya) maka bukanlah dikatakan sebagai dakwah Islam ideologis yakni syariah dan Khilafah. Sejatinya, semua manusia sekarang ini hidup dalam suatu masa jahiliyah, dilihat dari sudut pandang sumber yang merasuki berbagai sendi kehidupan dan tatanannya. 

Yakni, suatu jahiliyah dimana berbagai kemajuan fasilitas fisik-materi tidak akan mengurangi kejahiliayahan sistem tersebut karena sistem tersebut berasal dari sistem hukum buatan manusia dan jahiliyah tampil diatas prinsip menentang intervensi kekuasaan Allah SWT dimuka bumi, terutama berkaitan dengan karakteristik sistem kekuasaan. Dalam hal ini, ia menyerahkan sistem kekuasaan kepada manusia yang mempunyai akal yang lemah dan terbatas.

Setiap muslim yang merasakan Islam dengan hatinya tidak akan pernah membiarkan sistem diktator yang aniaya serta penguasa lalim itu secara terus-menerus berbuat kerusakan dimuka bumi. Padahal, bumi ini adalah ciptaan Allah dan hukum hanyalah milik Allah yang segalanya mengetahui apa yang terbaik untuk makhluk ciptaanNya. Karena itu, para pejuang akan terus maju kedepan dengan jiwa dan hartanya, untuk memperkenankan seruan TuhanNya yang menciptakannya dan memberi rezeki kepadanya. Dalam firman-Nya Q.S An Nisa:75 

Kenapa kamu tidak berjuang dijalan Allah dan untuk kepentingan orang-orang tertindas, yang terdiri atas laki-laki, wanita dan anak-anak kecil, berkata : Hai Tuhan Kami! Keluarkanlah kami dari negara yang penduduknya aniaya ini. Berikanlah kepada kami seorang penolong dari sisi-Mu. Berikanlah kepada kami seorang pembantu dari sisi-Mu. 


Jadi, firman ini telah cukup untuk mendorong pejuang dakwah syariah dan Khilafah sebagai garda terdepan menentang pendudukan sistem yang rusak dengan berani, mati-matian, penuh pengorbanan dan kepahlawanan intelektual. Para pioner yang melihat ketidakadilan di sepanjang jalan, dan bertemu kesewenang-wenangan disetiap saat, dan mereka tidak menggerakkan tangan maupun lidah, padahal mereka itu mampu, mereka ini adalah orang-orang yang hatinya tidak tergugah oleh Islam. 

Jika hatinya tergugah untuk mau berjuang, tentulah mereka mau menjadi agen perubahan yang berjuang mulai dari saat api yang suci menyentuh hati yang rasional dan menyalakannya dan mendorongnya dengan dorongan yang kuat ke medan perjuangan. Bahkan saat syair akhi anta hurrun teladan keteguhan dari Sayyid Qutb begitu membumi dikalangan aktivis Islam barangkali membuat hati ummat senantiasa istiqomah dalam barisan perjuangan ini. Bunyi syair yang sebagaimana ditulis Sayyid Qutb 

Akhi jika engkau meneteskan air mata atas kepergianku

dan dengannya engkau taburi kuburku dengan keheningan, Maka nyalakanlah api perjuangan untuk mereka dari tulang belulangku, Dan majulah dengannya untuk menuju kemuliaan yang telah menanti. Syair ini merupakan salah satu syair yang bisa menyentuh hati dan akal para pejuang untuk terus bergerak secara konsisten melawan berbagai bentuk kedzholiman.

Lantas, bagaimanakah proses stimulasi sistem Islam akan dimulai? Harus ada kelompok Islam yang membulatkan tekad yang mulia ini, kemudian menindaklanjutinya dengan pengamalan yang tidak hanya bergumul dengan hipotesa sebab Islam adalah manhaj yang bersentuhan langsung dengan realitas. Islam adalah aqidah revolusioner yang aktif artinya ia menyentuh kesadaran ummat. Dari kesadaran itulah akan terjadi suatu revolusi beserta konsepsinya. Revolusi dalam pemikiran, perasaan maupun peraturan. Ini menjadi landasan bahwa Islam itu suatu aqidah revolusioner yang mencakup seluruh sendi-sendi kehidupan yang aktif dan dinamis. 

Kelompok inipun terjun kedalam lautan kejahiliyahan yang memiliki network diseluruh penjuru bumi. Disana, perjuangan mereka tidak terlepas dari metode Rasulullah ketika menegakkan negara Islam Madinah. Perjuangannya dengan dakwah syariah dan Khilafah tidak akan pernah berhenti walaupun berbagai macam halangan dan rintangan yang dihadapinya. 

Karena itu, kelompok yang ingin menegakkan Khilafah Islamiyah adalah sebagai puncak perjuangan tertinggi yang akan mengatur seluruh sistem kehidupan ummat manusia dengan baik. 

Seorang manusia tidak akan berfikir untuk melakukan perubahan kecuali jika dia memahami bahwa dalam kehidupannya terdapat realita yang rusak. Kondisi ummat manusia saat ini telah didominasi oleh sistem kapitalisme yang rakus lagi menyengsarakan ummat manusia. Jika seandainya kelompok dakwah yang menyeru untuk kembali menegakan khilafah tidak mengubah realita yang rusak menuju ke realita yang benar, maka tentulah ummat manusia akan menggigit jari dengan penuh penyesalan. 

Tetapi dalam faktanya, kelompok tersebut hadir di tengah-tengah ummat, membina mereka agar tidak keluar dari ideologi Islam, mencerdaskan mereka dengan pemahaman menyeluruh bahwa inti Islam itu adalah gerakan pembebasan. Mulai dari hati nurani setiap individu dan berakhir di samudera kelompok manusia sebab Islam tidak pernah menghidupkan hati, kemudian hati itu dibiarkannya menyerah tunduk kepada suatu kekuasaan diatas permukaan bumi selain dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Perkasa. 

Penulis kembali mengingatkan tentang benturan yang hebat tadi antara sistem yang direpresentasikan oleh kelompok penguasa dan kroninya dengan kelompok pejuang Khilafah masih dalam bentuk sederhana. Pejuang Khilafah tersebut melontarkan berbagai pemikiran yang bertolak belakang dengan sistem yang ada. Lalu sistem itupun berlindung dari ejekan, dan keganjilan yang mereka lakukan. Namun, pada saat sistem tersebut menyaksikan kesungguhan para pioner -pioner Islam dalam aktivitasnya maka ia pun kemudian berlindung pada propaganda yang menyesatkan, cacian, makian dan berbagai tuduhan bathil. Sistem tersebut lalu melontarkan tuduhan bahwa kelompok Islam ini telah memberontak kepada ummat, memecah belah barisan dan menjadi agen musuh. Setelah cara-cara tadi gagal, mereka akan melakukan upaya intimidasi dan ancaman. 

Setelah upaya mereka menuai kegagalan, sistem itupun berlindung pada cara bujukan dan rayuan. Berupaya untuk membujuk kelompok Islam dan para anggotanya dengan harta, ketenaran dan jabatan pemerintahan. Tetapi, Lagi-lagi mereka gagal. Setelah seluruh upaya yang dilakukan sistem itupun berujung pada kegagalan, ia mulai menggunakan perangkat fisik, berupa penindasan, penjara, boikot, ekonomi dan pengusiran. Apa yang telah dipaparkan tadi hampir menjadi sebuah kepastian dengan adanya pergolakan dan benturan antar kedua kubu.

Apakah yang lebih menakutkan dari penguasa ketika sistem yang dipertahankannya runtuh? Tak lain adalah akibat dari cinta dunia dan takut mati. Kekuasaan yang dilandasi atas dasar kedzholiman adalah kekuasaan yang tidak akan bertahan lama.

Peradaban ketika sudah mulai dzolim, peradaban ketika sudah mulai merusak dan mencapai puncaknya, maka itu pertanda yang sangat jelas sebentar lagi jatuh. Fenomena ini kerap kali direnungkan oleh Sayyid Qutb ketika memerangi berbagai kekufuran yang bercokol dinegeri-negeri Islam, sehingga beliau pernah ditanya, mengapa kedzholiman masih seringkali menang dan suaranya semakin meninggi? Sayyid Qutb menjawab "Agar ketika kejatuhannya nanti dentumannnya terdengar kencang dan semua orang akan mendengarnya.


Allah berjanji kepada para mujahid dengan janji yang pasti bahwa Dia akan membela dan memenangkan mereka atas musuh-musuhnya, sehebat apapun musuh itu, selengkap apapun bekal yang dimilikinya, dan seberapapun jumlah personilnya, serta secanggih apapun strategi yang diterapkan. Para mujahid tidak boleh gentar mengahadapi semua itu dan mereka harus bersandar kepada Allah saja. Ingatlah FirmanNya dalam Q.S Ar-Rum:47 

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.


Oleh sebab itu, Kelompok ini hanya akan menyeru kepada sistem Islam untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Inilah satu-satunya jalan dengan perjuangan penegakan Khilafah Islamiyah lah yang akan membebaskan keseluruhan ummat manusia dari berbagai belenggu sistem kufur dan kelompok Islam ideologis ini akan membimbing umat manusia dengan naungan cahaya Islam. Sesungguhnya Allah selalu beserta orang-orang yang memperjuangkan agamaNya.

Oleh : Ansar Elhaddadi
Referensi :
Quthb Sayyid. 2009. Ma'alim Fi Ath-Thariq. Yogyakarta: Darul Uswah. 
Athiyat Ahmad. 2004. Jalan Baru Islam. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.
Pankhurst Reza. 2019. The Inevitable Caliphate. Oxford University Press:Penerbit Quwwah.

Posting Komentar

0 Komentar