Kemiskinan Akut Mendera Negeri Zamrud Khatulistiwa


Ditengah wabah corona yang mendera negeri kita, susul menyusul musibah tak terelakan di depan mata. Mulai dari banjir, kebakaran, ketidakadilan, kemiskinan dan lain sebagainya. Negeri zamrud khatulistiwa seolah tak berdaya menghadapi itu semua. 

Masalah kemiskinan menjadi masalah yang cukup pelik di negeri kita. Dari tahun ke tahun masalahnya belum juga terurai. Ironis, negeri kita mengalami kemiskinan akut. Jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2020 sebanyak 26,42 juta jiwa atau sebesar 9,78%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 9,41% atau 25,14 juta penduduk. Persentase penduduk miskin terbesar terdapat di Maluku dan Papua, yaitu 20,34%. Sementara persentase terendah terdapat di Kalimantan sebanyak 5,81%. 

Badan Pusat Statistik menyebutkan, kenaikan angka kemiskinan dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang memukul perekonomian Indonesia. Dampaknya dirasakan oleh 12,15 juta penduduk hampir miskin yang bekerja di sektor informal. (Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 15 Juli 2020)

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kekayaan alam negeri kita. Lautan yang terhampar luas yang di dalamnya menyimpan kekayaan ikan yang cukup melimpah. Hutan yang menghijau terkandung di dalamnya tanaman yang dapat dimakan. Tanah kita subur yang mampu ditamani berbagai jenis tanaman. Rakyat sedang mengalami kemiskinan akut, bak ayam mati di lumbung padi. 

Sempat geger seorang ibu di Nias Utara tega membunuh tiga orang anak kandungnya. Kini justru dikabarkan meninggal dunia. MT (30) tersangka sekaligus ibu yang membunuh tiga anak kandungnya dikabarkan meninggal dunia saat menjalani hukuman di penjara. Sempat dilarikan ke rumah sakit, sayang nyawa MT tak tertolong.

Namun siapa sangka, di balik aksi nekat MT (30) yang tega membunuh tiga anak kandungnya, kini terkuak penderitaan hidupnya tak kalah mengiris hati. Bagaimana tidak, saking terdesak ekonomi selama ini MT bersama ketiga anaknya ternyata sering menahan lapar lantaran tak memiliki uang. Bahkan MT dan ketiga anaknya selama ini hanya 3 hari sekali baru bisa merasakan makan. (Tribunnewsmaker.com , Senin 14/122020)

Inilah fakta yang terjadi di negeri kita. Seorang ibu tega membunuh darah dagingnya dikarenakan oleh kemiskinan yang mendera keluarga. Sempitnya lapangan pekerjaan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka kemiskinan. Banyak sarjana-sarjana yang menganggur dikarenakan tidak adanya lapangan pekerjaan yang memadahi. Tidak sedikit para sarjana dan kaum intelektual dari negara kita justru bekerja di negara lain. Lapangan pekerjaan seolah menjadi barang langka di negeri kita. Lapangan pekerjaan yang tidak memadahi membuat rakyat semakin terkungkung dalam kemiskinan. Ditambah lagi serangan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di negeri kita, membuat semakin terpinggir tenaga kerja dari dalam negeri. 

Coba kita tengok kebelakang, berapa juta orang yang mengantri mendapatkan pekerjaan. Namun faktanya kondisi berbanding terbalik dengan keadaan. Belum lagi yang mendaftar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) jumlahnya jutaan. Namun yang diterima hanya segelintir orang. Sempitnya lapangan pekerjaan menyumbang angka kemiskinan di negeri ini. 

Selain sempitnya lapangan pekerjaan, rendahnya mutu pendidikan di negeri ini menyumbang meningkatnya angka kemiskinan. Anak negeri yang tidak mengenyam pendidikan akhirnya bekerja serabutan dan manjadi buruh kasar. Upahnya pun sangatlah minim. Jelas upah ini tidak akan mampu mengampu kebutuhan sehari-hari. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Nofendi Suami MT. Nofedi tak menyangkal bahwa keluarganya kini mengalami himpitan ekonomi. Sebelumnya Nofendi bekerja di kebun karet. Ia biasanya mendapat Rp 200 ribu per minggu. Himpitan ekonomi inilah yang membuat Nofedi sering berselisih dengan sang istri.

Peran negara telah hilang dalam pengurusan rakyatnya. Negara seyogyanya menjadi pengayom rakyat, kini rahib bak ditelan bumi. Pemimpin negeri ini sibuk memperkuat singgasana kekuasaan. Bantuan langsung kepada rakyat sifatnya hanya seremonial. Rakyat berjibaku untuk menghidupi kehidupannya sendiri tanpa ada pengurusan dari negara. Rakyat yang hidup kelaparan seolah menjadi hal yang biasa di negeri ini. 

Selain itu rakyat hanya diperas suaranya untuk agar penguasa dapat naik ke singgasana kekuasaan. Suara rakyat sangat berharga menjelang pilkada. Setelah pilkada rakyat dicampakkan begitu saja. 

Pangkal dari kemiskinan di negeri ini adalah diterapkan sistem kapitalisme. Kapitalisme atau Kapital adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar (Wikipedia). Dalam kapitalisme pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dengan prinsip tersebut, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna memperoleh keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

Investasi di negeri ini bak jamur di tengah hujan. Kekayaan negeri di lelang ke asing dan aseng untuk kepentingan segelintir orang. Rakyat dibiarkan mati kelaparan. Rakyat tak diberikan ruang untuk merasakan kekayaan negeri ini. 

Selain itu dalam kapitalisme halal kekayaan negeri dikelola oleh asing. Barang tambang emas, minyak bumi dan lain-lain diangkut ke negara mereka, anak negeri hanya menikmati remahannya. Inilah penyebab kemiskinan akut di negeri ini. Kapitalisme telah memiskinkan negara kita. 

Negeri ini butuh berbenah agar kemiskinan yang menderanya tidak semakin akut. Butuh solusi sistemik untuk menyelesaikan. Solusi itu bukan berasal dari manusia seperti kapitalisme. Solusi ini harus berasal dari Rabb yang menciptakan manusia. Sistem Islam bersumber dari wahyu Allah yang akan memberangus kemiskinan dari akarnya. Sistem ini telah diterapkan selama 14 abad dan hasilnya mampu menyelesaikannya masalah kemiskinan. 

Dalam politik ekonomi Islam menjamin kebutuhan pokok per individu. Negara menjamin kebutuhan pokok individu sehingga tidak akan terjadi kemiskinan akut yang dirasakan oleh negara kita. Dalam hal memenuhi kebutuhan pokok ini Islam telah mewajibkan kaum laki-laki untuk bekerja. Hal ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan pokok dirinya, sanak kerabatnya yang tidak mampu, serta isteri anak-anaknya. Allah SWT berfirman: "Dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya" (QS. al Baqarah: 233)

Bagi yang tidak mampu bekerja, Islam telah menetapkan nafkah mereka akan dijamin oleh sanak kerabatnya. Jika sanak kerabatnya juga tidak mampu memenuhi kebutuhannya, maka beban menafkahi diserahkan kepada negara. Negara Islam dengan Baitul Maalnya akan menanggung nafkah bagi rakyatnya yang tidak mampu bekerja dan berusaha. Rasulullah SAW bersabda: "Seorang Imam adalah pemimpin dan pengatur urusan rakyatnya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Negara selayaknya juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Hal ini bertujuan agar rakyat bisa bekerja dan berusaha. Selain itu negara juga mendorong rakyatnya agar giat bekerja. Hal ini agar mereka bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. 

Fakta bahwa pemerintahan Islam saat itu telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Hal ini tercermin dengan apa yang dilakukan oleh Umar Bin Khatab. Beliau telah membangun suatu rumah yang diberi nama "daar Al-daaqiq (rumah tepung). Di dalam rumah itu tersedia berbagai macam jenis tepung, kurma, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Tujuan dibangunnya rumah itu adalah untuk menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan pokok rakyat sampai kebutuhannya terpenuhi. 

Jika negara tidak mampu, maka seluruh kaum muslimin wajib menanggungnya. Ini direfleksikan dengan cara penarikan pajak oleh negara dari orang-orang yang mampu. Setelah itu didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan. 

Demikianlah cara Islam untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan cari ini maka kemiskinan dalam negara Islam akan terminimalisir. Negara turun langsung dalam mengurus rakyatnya sehingga tidak ada rakyat terjebak dalam jerat kemiskinan. Waulahu A'lam Bi Showab.[]

Oleh: Siti Masliha, S.Pd
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar