Kegagalan Sistem Merenggut Nurani Ibu


Miris! Lagi-lagi masyarakat dikejutkan dengan adanya kasus pembunuhan anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Dilansir dari laman viva.co.id, seorang ibu berinisial MT tega membunuh ketiga anaknya di Nias Utara karena himpitan ekonomi. Peristiwa pilu tersebut terjadi pada Minggu pagi (13/12) ketika ayah dan anggota keluarga korban lainnya tengah menggunakan hak pilihnya di TPS terdekat. Sosok keluarga, terutama ibu yang seharusnya memberi rasa aman pada anak, justru merenggut nyawa buah hatinya dengan alasan ekonomi dan tekanan mental.

Kasus menghenyakkan tersebut mendapat perhatian khusus dari Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, La Nyalla Mahmud Matalliti, yang kemudian menyebutkan bahwa kasus pembunuhan anak oleh anggota keluarga terdekat harusnya menjadi perhatian seluruh pihak. "Sungguh sangat menyayat hati, ada seorang ibu yang tega membunuh anak-anaknya yang masih balita karena tertekan himpitan ekonomi. Ini tamparan keras bagi kita. Saya sangat merasa berduka atas pilu keluarga ini. Kemiskinan harus merenggut nyawa anak-anak tak berdosa, sekaligus sang ibu", ujar La Nyalla pada Senin (14/12).

Disebutkan oleh La Nyalla bahwa suami MT mengakui kondisi keluarga mereka yang mengalami kesulitan ekonomi dan sering hanya bisa makan sehari sekali. Bahkan tak jarang anak-anak MT hanya diberi makan pisang dan air putih saja dalam sehari. La Nyalla lebih lanjut menuturkan bahwa kemiskinan masih banyak dialami oleh masyarakat pedesaan dengan penghasilan di bawah standar dan terkategori sangat miskin. (nusadaily.com, 15/12/2020).

Pada kesempatan lain kasus yang serupa dilakukan oleh warga Jakarta Pusat. Seorang ibu tega menganiaya anak perempuannya hingga tewas hanya gara-gara sang anak sulit memahami pelajaran saat belajar daring. Untuk menghilangkan jejak pembunuhan, pelaku dibantu sang suami menguburkan jasad anaknya yang masih berpakaian lengkap di TPU Cipabaluh, Banten. Tidak hanya itu pelaku juga sempat membuat laporan palsu tentang kehilangan anak sebagai upaya mengelabui polisi. (kompas.tv,15/9/2020).

Jika ditelisik lebih dalam, kasus kekerasan yang dilakukan orang tua hingga mengakibatkan kematian anak merupakan salah satu dari sekian banyak masalah yang menimpa keluarga Indonesia. Terlebih di masa pandemi Covid-19, tekanan fisik dan psikis yang dialami para orang tua semakin besar mulai dari himpitan ekonomi hingga stress dalam mendampingi anak belajar daring. 

Lagi-lagi faktor utama kejahatan di lingkungan keluarga adalah kemiskinan. Dan lebih ironisnya lagi, tingkat kemiskinan yang mengkhawatirkan semacam ini justru terjadi di negeri yang terkenal kaya akan Sumber Daya Alam (SDA).

Kemiskinan di Indonesia khususnya dan di dunia Islam pada umumnya kini menjadi persoalan sistemik yang terjadi bahkan di negara-negara kaya SDA. Penerapan kapitalisme di negeri-negeri muslim menjadikan para penguasa melepaskan tanggung jawabnya dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat, termasuk dalam penyediaan lapangan kerja. Di sisi lain, pemerintah tidak memaksimalkan SDA guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan justru menyerahkan pengelolaan SDA kepada pihak swasta serta asing.

Sebab kemiskinan bukanlah rakyat yang tidak mau bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun tidak lain adalah lepasnya tanggung jawab pemimpin dalam melayani rakyat. Dalam hal ini seharusnya negara berkewajiban untuk menyediakan lapangan pekerjaan serta memastikan kesejahteraan rakyat secara merata. Akan tetapi nampaknya hal tersebut sulit tercapai jika sistem yang bercokol di negeri ini adalah sistem rusak, yaitu kapitalisme.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa penyerahan kekayaan alam pada para pemilik modal tidak lain adalah "politik balas budi" atas keberhasilan penguasa meraih tampuk kekuasaan dengan kucuran dana kaum kapital. Selain itu, sistem ekonomi kapitalis memang mendorong negara untuk memprivatisasi sektor-sektor penting dan meminimalisasi peran negara dalam pengurusan rakyat. 

Maka dari itu tidaklah mengherankan jika banyak rakyat Indonesia terjerat dalam kubangan kemiskinan dan kelaparan, sekalipun negeri ini memiliki SDA melimpah. Karena sejatinya SDA yang luar biasa jumlahnya tersebut hanya dinikmati dan dikuasai segelintir orang, yaitu para korporat dan pemilik modal. Dan pemimpin yang ada di dalam sistem kapitalis akan senantiasa menjadi pelayan korporasi, bukan pelayan rakyat.

Kasus pembunuhan ibu terhadap anak karena himpitan ekonomi ataupun masalah-masalah lainnya justru akan sulit ditemui tatkala urusan rakyat diatur oleh Islam. Karena Islam sebagai sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara hadir sebagai solusi setiap permasalahan umat. Dimana dalam aspek ekonomi misalnya, Islam mewajibkan negara untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat seperti penyediaan lapangan kerja, terjangkaunya harga bahan-bahan pokok dan semacamnya.

Kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat tidak lain karena Islam mengharuskan negara untuk memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat. Negara mengelola SDA yang tersedia dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

Dari sini, negara diharamkan untuk mengeruk keuntungan dari pengelolaan harta kepemilikan umum dan diharuskan untuk mendistribusikan hasil kekayaan alam secara merata kepada masyarakat tanpa kecuali. Dan negara tidak diperbolehkan untuk menyerahkan harta kepemilikan umum semisal barang tambang, sumber energi ataupun harta umum lainnya yang berguna bagi hajat hidup orang banyak kepada pihak swasta apalagi asing.

Dengan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat oleh negara, tentu saja akan meringankan tugas rakyat untuk mencapai kesejahteraan. Luasnya lapangan pekerjaan bagi para ayah dan terjangkaunya bahan-bahan pokok di pasaran, tentu akan semakin mendorong para ibu untuk tetap fokus pada tugasnya sebagai pengelola rumah tangga. 

Di dalam Islam, para ibu tidak terpaksa harus bekerja keluar rumah dan mengabaikan peran utamanya sebagai pembangun peradaban. Dan hal ini yang secara pasti akan menjauhkan para ibu dari stress dan depresi, yang sesungguhnya terjadi karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidup di alam kapitalisme.

Di samping itu, sistem Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi rakyat secara gratis atau setidaknya dengan harga yang sangat terjangkau. Karena sesungguhnya Islam menjadikan sektor pendidikan sebagai kebutuhan dasar yang dijamin pemenuhannya oleh negara. Sehingga para orang tua tidak lagi dipusingkan dengan biaya pendidikan yang saat ini sangat menyulitkan masyarakat.

Selain daripada itu, sistem pendidikan Islam memfokuskan perhatiannya pada pembentukan individu-individu yang berkepribadian Islam dan bukan hanya sekedar mengejar nilai atau prestasi akademis. Sistem pendidikan semacam ini  tidak akan menjadikan anak didik dan orang tua stress hingga berujung pada kekerasan fisik.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa penyebab utama hilangnya nurani ibu dikarenakan oleh penerapan sistem yang salah, kapitalisme. Kerusakan sistemik yang menghantam hingga ranah ketahanan keluarga justru hadir tatkala sistem rusak kapitalisme diterapkan di tengah-tengah kaum muslimin. 

Sedangkan solusi dari itu semua adalah hanya dengan kembali menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan tanpa kecuali. Dan tentu saja sistem Islam tidak akan dapat diterapkan secara totalitas dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tanpa adanya institusi Daulah Khilafah Islamiyah, yang kemudian menyatukan seluruh umat muslim di dunia.[]

Oleh: Trisna AB, Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar