Kebanggaan itu Tatkala Negara Mampu Menjamin Keamanan dan Menjaga Keutuhan Bangsa



Dengan gagahnya, sosok itu terus gigih mempertahankan panji perang. Dibabat tangan kanannya, tangan kiri mengambil alih panji. Hingga kedua tangannya pun terbabat habis. Akhirnya sosok itu roboh bersimbah darah. Mush'ab bin Umair ra menjadi syahid di medan Uhud. Tentunya hal demikian adalah sebuah kebanggaan di dunia dan akherat. Ala kulli hal demikianlah pengorbanan seorang pemuda demi mempertahankan kedaulatan negerinya. 

Fragmen yang lain. Penjahat besar itu akhirnya terbunuh di tangan panglima terbaik. Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil mengakhiri petualangan keji Drakula. Tidak terhitung jumlah pembantaian yang sudah dilakukannya. Drakula, penjahat besar layak untuk dieksekusi. Negeri menjadi aman. Rakyat bersorak gembira. Inilah sebuah kebanggaan.

Merupakan kebanggaan tatkala rakyat justeru melakukan pembelaan kepada negaranya. Ya, merekalah rakyat Homsh yang nasrani bersedia menghadapi pasukan Salib yang seaqidah dengan mereka. Mereka lebih memilih hidup di bawah panji Islam daripada di bawah kekuasaan pasukan Salib yang sadis. Negara telah berhasil menjaga keutuhan wilayahnya. Rakyat menjadi aman dan tenteram. Dengan sendirinya rakyat akan membela negerinya.

Merupakan kebanggaan sejarah tatkala sang penakluk memasuki suatu daerah dengan penuh Wibawa dan mampu menebarkan keamanan di seantero negeri. Penduduk asli wilayak taklukan tidak merasa takut dengan kedatangannya. Penduduk wilayah penakluk membaur tanpa sekat dengan warga yang ditaklukan. Tiada lagi sekat di antara mereka. Mereka saling membahu membangun negerinya. Hasilnya negara besar itu mampu mempertahankan wilayahnya yang melingkupi sekitar 2/3 dunia dalam rentang waktu yang teramat panjang, yakni sekitar 13 abad. 

Saat ini, sepertinya makna kebanggaan itu bergeser. Diusulkanlah pemberian penghargaan kepada para polisi yang melakukan penembakan kepada 6 anggota FPI. Mereka dipandang layaknya pahlawan. Seorang pahlawan yang berhasil memerangi radikalisme. 

Mestinya tidak hanya penembak yang diberikan penghargaan. Semua yang terlibat juga diberikan penghargaan. 
Tentunya mereka semua layak untuk menyandang gelar Pahlawan yang memberantas radikalisme. 

Pemberian penghargaan ini layak juga diumumkan ke seantero negeri. Biar semua rakyat mengetahui. Biar sejarah menuliskannya. Biar semua rakyat bisa bercerita ke anak cucunya. Biar juga semua rakyat bisa mendapat bahan cerita kepada malaikat dan kepada pengadilan akherat. 

Cukuplah hadits Nabi Saw berikut menjadi bahan peringatan. 

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi Saw berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).

Demikianlah ke-6 muslim anggota FPI itu bukanlah pelaku kejahatan. Bukan pula koruptor. Bukan pula pelaku makar yang ingin melepaskan satu wilayah Indonesia. Mereka hanyalah menunaikan tugas dan kewajibannya menjaga ulama. Mereka hanya mengikhlaskan pengorbanannya untuk Islam. Pertanyaannya, apakah penembakan kepada mereka adalah sebuah kebanggaan? 

Oleh: Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 
#14 Desember 2020

Posting Komentar

0 Komentar