Kapitalis di Balik 'Glow Up'




Jika kita berbicara tentang kecantikan seorang perempuan, tentulah sebagian besar orang akan mengatakan bahwa cantik itu bila seseorang memiliki kulit putih, wajah glowing, badan langsing, lekuk tubuh indah, dan lain-lain. Sehingga banyak yang merasa minder ketika warna kulitnya tidak putih, bentuk tubuh tidak seperti biola, dan lain sebagainya.

Head medical and training ZAP Clinic, dr Dara Ayuningtyas, mengatakan meskipun cantik dapat dimaknai dengan cukup luas, ternyata hampir seluruh responden pada riset tahun 2019 memberikan jawaban yang sama dengan survei setahun sebelumnya. Sebesar 82,5 persen responden beranggapan bahwa cantik berarti memiliki kulit cerah dan bercahaya.

Saat ini juga berkembang istilah glow up di kalangan remaja. Istilah ini dimaksudkan untuk menggambarkan perubahan fisik yang semakin hari semakin putih, tinggi, langsing, bentuk tubuh yang seperti biola. Mereka berlomba-lomba untuk tampak glow up ini. Segala cara mereka tempuh termasuk membeli produk-produk kosmetik yang harganya selangit. 

Namun demikian, dibalik tren tersebut, ternyata istilah glow up sengaja digulirkan oleh perusahaan-perusahaan kosmetik untuk menarik para wanita untuk mengkonsumsi produk mereka. Tak tanggung-tanggung, mereka memasang harga yang sangat tinggi untuk produk-produk yang diminati pasar, dan tampaknya upaya mereka membuahkan keuntungan yang sangat besar. Faktanya di tengah pandemi covid-19, kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa. Dengan capaian nilai ekspor yang menembus US$ 317 juta atau sekitar Rp4,44 triliun pada semester I-2020 atau naik 15,2% dibanding periode yang sama tahun lalu. Itulah sifat asli dari para kapitalis, mereka menggunakan segala cara untuk memperoleh keuntungan dan menimbun kekayaan pribadi. Karena pada dasarnya mereka hanya mempedulikan asas manfaat bukan syara'.

Tapi apa benar seseorang dikatakan cantik bila tampak glow up? Tentulah cantik yang sesungguhnya tidak hanya apa-apa yang terlihat diluar saja, tapi juga dari dalam hati. Karena jika hanya cantik dari fisik saja, banyak wanita yang parasnya cantik, namun akhlak dan ketaatannya terhadap hukum syara' masih belum bisa terjaga.

Inilah efek diterapkannya sistem kapitalisme. Tolok ukur perbuatan bukanlah keterikatan terhadap hukum syara' tapi tergantung pada penilaian manusia. Maka wajar saja apabila dalam menilai kecantikan seseorang hanyalah dari casingnya dan menyebabkan seseorang fokus memperindah tampilan luar lalu mengabaikan apakah sesuai dengan syara' atau tidak. 

Seorang wanita yang cantik semestinya tidak hanya cantik fisiknya saja melainkan baik akhlaknya juga. Senantiasa berkata lemah lembut, sopan dan santun kepada orang lain. Kebaikan akhlak dan hati seorang wanita akan membuat kecantikannya terpancar. Hati dan akhlak yang baik dalam islam lebih utama dari kecantikan fisik itu sendiri.

Selain itu, kecantikan seorang wanita juga terlihat dari bagaimana keterikatannya dengan hukum syara'. Dari bagaimana pakaian yang ia kenakan, adab terhadap orang lain, hubungannya dengan sesama dan lawan jenis dan lain sebagainya.

Sebagai seorang muslimah, tentulah auratnya harus tertutup sempurna. Ingat ya! Aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Tidak hanya itu, didalam menutup aurat juga tentu ada aturannya. Seperti didalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya "Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu". Didalam ayat ini yang dimaksud jilbab adalah pakaian yg tidak berpotongan(gamis). Namun bisa kita lihat, fenomena dimasa sekarang ini, banyak wanita yang mengabaikan perintah ini, lantas menganggap bahwa menutup aurat itu bisa dengan sesuka hati, dengan memakai celana dan baju ketat agar terlihat lekuk tubuhnya. Padahal hal ini tidak dibenarkan menurut syari'at Islam.

Di dalam surat yang lain. Tepatnya didalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 31, yang artinya "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya". Didalam ayat ini begitu jelas dipaparkan bahwa wanita wajib mengenakan kerudung sampai menutupi dadanya. Bukan justru menali atau menyilangkannya kebelakang lehernya, sehingga tampaklah apa-apa yang seharusnya tertutup.

Dari sini bisa kita cermati bahwa cantiknya wanita bukan hanya terletak pada fisiknya saja, namun juga akhlak, adab, pakaian. Karena kecantikan fisik akan memudar seiring berjalannya usia. Berbeda dengan cantik dari dalam diri, yang akan semakin terpancar apabila semakin diamalkan.

Maka dari itu, inilah saatnya beralih kepada syari'at Islam secara Kaffah, agar standar kecantikan tidak lagi berpatokan pada penampilan luar saja. Apabila aturan yang shahih sudah diterapkan, maka juga akan membantu para laki-laki menundukkan pandangannya. Wanita itu ibarat permata, yg kecantikannya terjaga, tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Sehingga seharusnya para wanita terjaga dari fitnah-fitnah yg merajalela.[]

Oleh: Hanifah Dwi

Posting Komentar

2 Komentar

  1. filosofi Kapitalisme dan Komunisme memang rata-rata "melekat" di pikiran/benak umat manusia di jaman sekarang, islam atuapun non islam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. berbohong dengan agama masih bisa diidentitikasi acuannya cukup surat Al-Ma'un. Kalau berbohong dengan Kapitalisme dan Komunisme itu yang susah diidentifikasi, bagaimana? mungkin itulah kenapa 2 filosofi itu banyak "disukai".

      Hapus