Kamuflase Kawan dan Lawan di Alam Demokrasi


“Tidak ada musuh dan teman abadi di dalam politik demokrasi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Peribahasa tersebut nampaknya sangat cocok menggambarkan situasi perpolitikan di Indonesia saat ini. Dimana Presiden Joko Widodo baru saja mengumumkan perombakan (reshuffle) Kabinet Indonesia Maju, dan mengenalkan enam orang nama sebagai menteri-menteri baru di dalam kabinetnya.

Keenam nama yang muncul dalam reshuffle kabinet adalah Walikota Surabaya Tri Rismaharini sebagai menteri sosial, Sandiaga Uno sebagai menteri pariwisata, Budi Gunadi Sadikin sebagai menteri kesehatan, Yaqut Cholil Quomas sebagai menteri agama, Wahyu Sakti Trenggono sebagai menteri kelautan dan perikanan (KP) dan yang keenam M. Lutfi sebagai menteri perdagangan (kompas.com, 22/12/2020). Perombakan kabinet yang dilakukan presiden pun menuai banyak reaksi. Salah satu nama yang cukup membuat gempar publik adalah Sandiaga Uno.

Pengusaha Muda yang acapkali dipanggil dengan “Papa Online” ini tak asing lagi bagi emak-emak “militan” dan kaum milenial. Fenomena tersebut merebak setelah pencalonan dirinya sebagai wakil Presiden mendampingi  Prabowo Subianto pada pemilu 2019 silam. 

Kehadiran “Papa Online” saat itu ke kancah pemilihan calon Presiden 2019 berpasangan dengan Prabowo Subianto bak oase di padang pasir. Para mamah muda dan kaum milenial antusias ikut berkampanye demi kemenangan sang idola baru perpolitikan yang digadang-gadang akan membawa perubahan Indonesia menjadi lebih baik.

Setelah sang "Papa Online" mengalami kekalahan dalam pilpres 2019 bersama dengan pasangannya, Prabowo Subianto, nyatanya kini pasangan capres dan cawapres tersebut berbalik arah menjadi "pembantu setia" pemerintahan Jokowi. Mengikuti jejak Prabowo Subianto yang telah diangkat lebih dulu menjadi menteri pertahanan, kini Sandiaga pun bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju. Dari sini kita melihat bagaimana pada akhirnya demokrasi menampilkan wajah aslinya. Tidak ada kawan dan lawan sejati di dalam demokrasi, yang ada hanyalah kepentingan abadi dan bukan kepentingan rakyat. Duh, perihnya berharap dalam sistem demokrasi!

Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa baik Prabowo dan Sandiaga Uno pada awalnya bersikukuh untuk menjadi pihak oposisi. Namun kenyataannya kini mantan pasangan capres dan cawapres tersebut justru bergandengan tangan mesra dengan rezim yang tengah berkuasa.
Pakar politik sekaligus pendiri Lingkar Madani, Ray Rangkuti, pun ikut buka suara dan menyebut fenomena ini sebagai agenda politik kekuasaan. “Para politisi mencari kekuasaan. Untuk kekuasaan itu apapun dilakukan. Tentu akan dibuat argumen yang seolah rasional menjadi bagian khas kultur politik Indonesia,” ujarnya kepada kompas.com, Rabu (23/12).

Berbicara mengenai politik, menurut kacamata barat sekuler, istilah politik berbanding lurus dengan kekuasaan. Dimana para penguasa akan memutar otak bgaimana caranya agar dapat meraih dan mempertahankan kekuasaan yang mereka miliki. Jika tidak bisa berkuasa sendirian, maka tak masalah jika kekuasaan tersebut pun dibagi-bagi (power sharing), yang memungkinkan terjadinya kompromi bersama guna mempertahankan kekuasaan yang ada. 

Celakanya di alam demokrasi, kekuasaan yang diperoleh kemudian digunakan hanya untuk meraih kepentingan baik kepentingan individu maupun golongan. Maka wajar saja jika politik kapitalis-sekuler lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok dibanding dengan kepentingan pengurusan rakyat.

Fenomena ini kontras dengan Islam, dimana politik dimaknai sebagai riayah su’unil ummah (pelayanan terhadap masyarakat). Artinya politik Islam bukan semata-mata meraih atau mempertahankan kekuasaan seperti halnya di alam demokrasi, tetapi justru bertujuan untuk mengelola semua urusan masyarakat secara menyeluruh. Lebih dari itu, kekuasaan kemudian digunakan untuk melaksanakan syariat Allah yang sudah barang tentu akan menciptakan rahmat bagi seluruh umat manusia.

Selain daripada itu, politik Islam bersandar pada halal dan haram, bukan bersandar pada kepentingan manusia yang orientasinya adalah uang dan kekuasaan. Seperti sabda Rasulullah saw, “Imam (khalifah, penguasa) adalah laksana seorang penggembala, dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas rakyat yang dipimpinnya” (HR. Muslim).

Sampai sini jelaslah sudah apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh para penganut demokrasi. Lawan menjadi kawan, kawan menjadi lawan merupakan hal yang wajar di alam demokrasi untuk meraih kepentingan individu dan golongan. Hal ini tentu saja telah menyimpang jauh dari tujuan politik yang sebenarnya, yaitu mengurusi kepentingan umat. 

Maka dari itu selama sistem demokrasi dipertahankan, umat akan terus-menerus dikecewakan dengan para pemegang kekuasaan. Dengan demikian, sudah sepatutnya umat mulai membuka mata dan ikut memperjuangkan penerapan Islam kaffah. Karena satu-satunya jalan untuk mencapai kemaslahatan masyarakat adalah hanya dengan menerapkan sistem Islam berdasarkan Al Quran dan sunah Rasullullah Saw.[]

Oleh: Trisna AB, Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar