Inikah Alasan Sudan Dihapus dari Daftar Negara Pendukung Terorisme?




TintaSiyasi.com-- Dihapusnya Sudan dari daftar negara pendukung terorisme oleh Amerika, mendapat sorotan dari Pengamat Politik Internasional, Ustaz Farid Wadjdi S.IP. “Penghapusan Sudan dari daftar pendukung terorisme oleh Amerika, ini menunjukkan semakin gamblang dan jelas bahwa isu terorisme itu sekedar alat politik Amerika untuk mengendalikan negara lain atau untuk mengimplementasikan kepentingan-kepentingannya di satu kawasan,” tuturnya kepada Tintasiyasi.com, Jum'at (18/12/2020).

Menurutnya, isu terorisme ini dilakukan Amerika untuk menekan Sudan secara politik. “Selama ini kalau kita lihat isu terorisme seperti yang dilakukan Amerika terhadap Sudan, digunakan semata-mata untuk menekan Sudan secara politik, sampai tingkat ekonomi bisa dengan cara pemboikotan terhadap Sudan, namun apabila kemudian Amerika punya kepentingan lain, maka daftar terorisme itu bisa dicabut. Dalam hal ini bargaining-nya (baca: negosiasi) itu adalah bahwa Sudan melakukan normalisasi terhadap zionis Yahudi,” terangnya.

Pemimpin Redaksi salah satu media dakwah itu mengungkap, agenda di balik penghapusan Sudan dari daftar terorisme ini, tidak lain dan tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Amerika. “Ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Amerika, terutama di masa kepemimpinan Donald Trump dan bahkan sampai di detik-detik terakhir pemerintahan Trump sekarang, upaya Amerika untuk menekan banyak negara di Timur Tengah termasuk Sudan untuk melakukan normalisasi dengan penjajah Yahudi,” tegasnya.

Dengan demikian Farid mengatakan, ini sekaligus menunjukkan bahwa normalisasi dengan penjajah Yahudi sebenarnya bukan sekedar agendanya Trump, tapi juga merupakan agenda Amerika. “Normalisasi dengan penjajah Yahudi ini bukan sekedar agendanya Trump, tapi juga agenda Amerika yang mendorong negara-negara Timur Tengah untuk melakukan normalisasi dengan penjajah Yahudi,” jelasnya.

Selain itu lanjut Farid, peristiwa ini juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kaum muslimin dan kebodohan para pemimpin-pemimpin dunia Islam. “Kita bisa bayangkan yang menempatkan atau memasukkan Sudan sebagai daftar teroris adalah Amerika Serikat, kemudian setelah itu sudan dipaksa untuk menormalisasi dengan penjajah Yahudi dan itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap umat Islam kaum Muslimin," bebernya.

“Sudan juga kemudian dipaksa harus membayar kepada apa yang ditudingkan oleh Amerika sebagai korban terorisme yang dilakukan oleh Sudan selama ini. Meskipun biaya pembayaran itu dikabarkan berasal dari Saudi Arabia, ini merupakan bentuk kebodohan para pemimpin-pemimpin dunia Islam,” imbuhnya.

Farid menjelaskan hal itu sama dengan apa yang pernah dilakukan Maroko. "Sama halnya dengan apa yang dilakukan Maroko, dia tahu pemberontakan Sahara barat itu dikontrol oleh Amerika. Nah, kemudian Amerika menggunakan alasan Sahara Barat ini untuk menekan Maroko kemudian Maroko menjadikan pengakuan Amerika terhadap Sahara Barat bahwa itu adalah bagian dari Maroko sebagai dasar untuk melakukan normalisasi dengan penjajah Yahudi. Dan sekali lagi ini merupakan bentuk kebodohan dari penguasa-penguasa di timur tengah,” jelasnya. 

Terakhir ia mengatakan, bisa dikatakan Amerika sesungguhnya sedang mempermalukan secara terbuka penguasa-penguasa di Timur Tengah, yang selama ini sebenarnya sudah berkhianat kepada umat Islam. “Mereka sedang 'ditelanjangi' pengkhianatan mereka supaya lebih jelas lagi dan sesungguhnya hal-hal seperti itu akan menyebabkan semakin mengangahnya lubang kematian penguasa-penguasa di Timur Tengah yang semakin jelas pengkhianatannya terhadap umat Islam," pungkasnya.[] Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar