Habitat Komodo Terusik Akibat Kerakusan Rezim Kapitalistik


Beberapa waktu lalu telah beredar foto seekor komodo yang tengah berhadapan dengan truk besi material, hingga akhirnya foto tersebut berhasil mencuri perhatian publik bahkan sempat viral dan menjadi trending topic dijagat maya. Belakangan diketahui, jika truk tersebut merupakan bagian dari pembangunan proyek “Jurassic Park” di Taman Nasional Komodo. Akibatnya, publik pun ramai menolak proyek tersebut hingga tagar #savekomodo menjadi topik terpopuler di Twitter. 

Terlebih lagi, upaya pengembangan sektor pariwisata ala Jurassic Park di Pulau Rinca tersebut tampaknya juga akan semakin dilakukan percepatan serta terus gencar dipromosikan. Seperti yang telah dikutip oleh GlamediaPikiranRakyat.com (1/12/2020), menyatakan bahwa Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan pemerintah akan tetap mempromosikan pariwisata komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, Pria yang menjabat Menteri KKP Ad Interim ini juga meminta Gubernur NTT bisa menggandeng konsultan atau ahli kelas dunia untuk menata pariwisata premium seperti Taman Nasional Komodo tersebut.

Pada kesempatan lain melalui cnnindonesia (27/11/2020), Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan alasan pemerintah yang akan tetap mempromosikan pariwisata komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut karena komodo merupakan hewan yang hanya ada di Indonesia sehingga memiliki nilai jual tinggi. Pembangunan 'Jurassic Park' di Pulau Rinca itu adalah bagian dari pembangunan infrastruktur Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo di Provinsi NTT. Pemerintah berencana menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai pariwisata kelas dunia (world class tourism) dan menarik investasi.

Saat ini pariwisata memang sedang menjadi primadona baru dalam dunia bisnis, hal ini didukung dengan pola sikap masyarakat yang sangat gemar dengan liburan. Sehingga, sektor pariwisata seringkali dijadikan peluang emas untuk meraup keuntungan.
Lalu, pertanyaannya adalah siapakah yang akan diuntungkan dari pembangunan proyek wisata tersebut? Komodo, rakyat, pemerintah atau para investor? Benarkah pembangunan proyek wisata tersebut akan melindungi habitat komodo?

Komodo dengan nama latin Varanus komodoensis adalah salah satu spesies kadal yang termasuk langka dan merupakan satu-satunya binatang purba yang masih bertahan hingga saat ini. Penduduk asli Pulau Komodo menyebut dengan nama “ora”, yang memiliki morfologi dan ukuran tubuh yang sangat besar. Sehingga, biawak komodo telah dikenal sebagai kadal terbesar atau kadal raksasa yang masih hidup hingga saat ini, serta menjadikannya terkenal didunia.

Komodo banyak menempati Pulau Komodo Pulau Rinca, Pulau Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami. Wilayah ini menjadi kawasan konservasi Taman Nasional Komodo di Provinsi NTT. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat komodo  menjadi salah satu hewan yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia yang juga menjadikan habitatnya sebagai taman nasional yang bertujuan untuk melestarikan dan melindungi mereka.

Namun, saat ini habitat komodo justru harus terusik karena pembangunan proyek wisata “Jurassic Park” yang semakin terus digodok pelaksanaannya oleh pemerintah Indonesia sendiri. Beredarnya foto seekor komodo saat tengah menghadang truk material yang sempat viral beberapa waktu lalu, seharusnya sudah cukup memberikan pesan tentang ketidaknyamanan komodo dengan situasi pembangunan proyek wisata tersebut. Bagaimana tidak, hewan endemik seperti komodo sudah terbiasa hidup di padang rumput terbuka, hutan belukar, dan terkadang di pesisir pantai. Apa jadinya jika habitat komodo harus diubah layaknya “Jurassic Park”? Maka sudah pasti habitat komodo akan terusik dan terancam. Dengan ini, dapat diketahui bahwa sudah jelas komodo tidak mendapat keuntungan dari adanya pembangunan proyek wisata “Jurassic Park” tersebut.

Seperti yang diketahui, pariwisata dan pembangunan infrastruktur merupakan salah satu jalan liberalisasi ekonomi kapitalisme. Melalui pembangunan proyek wisata “Jurassic Park” tersebut, para investor yang notabenenya adalah para kapital telah kembali diundang dengan tangan terbuka untuk meraup banyak keuntungan. Pulau komodo yang menawarkan pesona keindahan alam dan beragam keunikan hewan telah menggiurkan para investor untuk berbondong-bondong melakukan investasi. 
Akan tetapi, sungguh miris dan ironi. Karena kehidupan masyarakat sekitar saat ini justru belum sejahtera meskipun telah berdampingan dengan pesona alam yang begitu memukau. Keberadaan para investor justru tidak memberikan perubahan yang signikan terhadap kondisi perekonomian maupun sosial bagi masyarakat sekitar.

Ketua Forum Masyarakat Peduli Pariwisata Manggarai, Barat Aloysius Suhartim Karya, mengatakan keberadaan warga asing yang mendominasi operator wisata selam di sekitar Pulau Rinca dan Pulau Komodo membuat tumpul mata pencaharian warga lokal. Menurut Aloy, mayoritas yang menduduki jabatan kepemilikan bisnis hingga manajer adalah orang asing. Sementara warga lokal sebagian yang bekerja paling mentok menjadi staf, itu pun dengan persentase yang masih sedikit. (cnnindonesia, 07/11/2020)

Seperti itulah faktanya bahwa para kapital telah masuk ke Pulau Rinca dan sekarang mengancam eksistensi Komodo dan keasrian lingkungan alamnya. Tidak hanya itu, pembanguan proyek wisata “Jurassic Park” juga pasti akan berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi bagi warga sekitar. 
Buntut dari kerakusan rezim kapitalistik kini telah membuat habitat komodo terusik. Lalu, bagaimana Islam memandang hal ini? 
Meskipun Komodo secara hukum fiqh tidak boleh dikonsumsi karena termasuk hewan yang berkuku tajam dan pemangsa daging. Tetapi melindunginya dari kepunahan adalah bentuk amal kebaikan terhadap makhluk ciptaan Allah SWT. Islam melarang eksploitasi hewan purba ini demi kepentingan bisnis. Sehingga, komodo harus diselamatkan begitu juga manusia yang berada di wilayah Indonesia dari kekejaman kapitalisme global. 

Dalam Islam, objek wisata bertujuan sebagai sarana dakwah dan di’ayah (propaganda). Objek wisata bisa berupa keindahan alam dan peninggalan bersejarah. Objek wisata ini bisa dipertahankan sebagai sarana memahamkan Islam kepada wisatawan.
Selain itu, objek wisata juga bisa digunakan untuk mengukuhkan keimanan dan keyakinan mereka kepada Allah, Islam beserta peradabannya. Objek wisata juga bisa menjadi sarana propaganda. Dengan menelusuri jejak dan peninggalan bersejarah, siapa pun yang melihat akan takjub dan yakin dengan keagungan Islam.
Rasulullah SAW bersabda:  “Kaum Muslimin berserikat dalam 3 perkara yaitu padang rumput, air dan api” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Dalam hal ini, api diartikan dengan barang tambang dan migas. Air bermakna perairan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti ikan, terumbu karang, mutiara dan lain-lain. Sedangkan padang rumput adalah hutan dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya. Semua ini haram dikuasi para kapitalis tetapi harus dikelola oleh negara dan hasilnya diserahkan kepada masyarakat.

Islam melarang segala bentuk jenis kegiatan yang merusak lingkungan, makhluk hidup, dan alam. Perlindungan Islam terhadap hewan ditunjukkan dengan adanya larangan membunuh hewan tanpa tujuan dan alasan yang jelas. Ajaran kasih sayang dalam Islam sangat sempurna dan menakjubkan. Islam mengajarkan kasih sayang bukan hanya kepada manusia tapi juga terhadap hewan. Suatu ketika Rasulullah Saw. melihat seekor burung yang terpisah dari induknya. Beliau lalu menegur dan bersabda, “Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaan burung ini karena anaknya? Kembalikanlah kepadanya anak-anaknya.” (HR Abu Dawud)

Begitulah indahnya apabila Islam diterapkan dalam sebuah Negara Khilafah. Karena Negara Khilafah tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. Selain itu, Negara Khilafah tidak akan membangun infrastruktur yang mengabaikan hak manusia, alam, dan lingkungan. Sehingga, bukan hanya manusia saja yang akan sejahtera. Melainkan alam, lingkungan serta hewan pun juga akan senantiasa terjaga. Wallahu ‘alam Bishawab.[]

Oleh: Eka Yustika, SP
(Muslimah Peduli Umat)

Posting Komentar

0 Komentar