'Gal Gadot' di Tengah Pusaran Korupsi Istana



Baru-baru ini netizen seantero jagat media sosial dihebohkan oleh cuitan Imam Darto, seorang presenter dan podcaster tanah air yang menganggap korupsi yang dilakukan Mensos adalah suatu hal yang sulit dihindari.

"Bukannya mendukung korupsi ya, tapi di depan mata disodorin 17M siapa yang nggak gentar anjir. Point is, semua orang punya setannya masing-masing. Tinggal nunggu waktu bikin dosanya aja", kicau Imam di akun twitter pribadinya. 

Alih alih mendapat dukungan, Imam Darto malah menerima kritik pedas dari warganet hingga menjadi trending topic twitter Indonesia. Mendapat cemoohan dari netizen membuat Imam memberi klarifikasi atas cuitannya itu, yang malah semakin blunder dan dianggap tidak memahami bagaimana korupsi tersebut bisa terjadi.

"Wah, twitku ramai. Gini, bukan rasionalisasi. Ganti analogi, deh. Contoh berita: seorang publik figur dengan sosok keluarga rukun dicintai jutaan orang, tiba-tiba ketahuan tidur sama Gal Gadot. Komen gue: disodorin Gal Gadot telanjang di depan mata siapa yang tak gentar anjir", klarifikasinya.

Sebagaimana pemberitaan akhir-akhir ini, lagi-lagi rakyat harus menelan pahitnya pengkhianatan pemangku kekuasaan yang menyelewengkan uang rakyat secara bertubi-tubi. Belum reda hiruk pikuk kasus korupsi ekspor benih lobster yang melibatkan pejabat di lingkaran istana, Edhy Prabowo, selaku Menteri Kelautan dan Perikanan. Selang dua minggu terkuak kasus korupsi bantuan COVID-19 yang melibatkan Menteri Sosial RI, Juliari Batubara. 

Hal ini menimbulkan kemarahan luar biasa dari masyarakat. Di tengah pandemi yang banyak memakan korban jiwa, usaha gulung tikar, dan banyaknya pengangguran karena kena PHK. Masih saja masyarakat di dzalimi oleh pejabat negara yang telah hilang akal dan nuraninya.

Korupsi adalah Keniscayaan Demokrasi

Siapa yang tak gentar disodori uang sebanyak 17 Milyar? Uang yang pada hari ini bisa untuk beli rumah mewah dan mobil mewah. Siapa yang tak gentar disodori aktris hollywood, Gal Gadot telanjang? Wanita sexy pemenang Miss Israel 2004 dan pemain film Wonder Woman yang banyak diidamkan lelaki jaman sekarang. Jawabannya adalah hampir tak ada yang bisa, selama sistem yang diterapkan adalah sistem demokrasi. 

Mungkin masih banyak masyarakat yang belum menyadari, bahwa pejabat korupsi itu dilandasi oleh gaya hidup hedonisme dan ongkos politik demokrasi yang mahal. Sistem demokrasi meniscayakan para calon menggandeng korporasi untuk bisa membiayai kampanye politiknya. Sehingga terjadi politik transaksional dengan adanya jual beli jabatan dan jual beli kebijakan.

Sungguh, penguasa yang dilahirkan sistem demokrasi adalah mereka yang berorientasi pada kursi dan kuasa. Sehingga, bukannya memberikan kemaslahatan pada umat, yang ada malah bekerja sama dengan korporasi untuk menggarong kekayaan alam milik umat. Maka, korupsi tercipta karena sistem demokrasi yang menjadikan 'Gal Gadot telanjang', bukan serta merta disodori. 

Menteri Kelautan & Perikanan Edhy Prabowo dan Mensos Juliari Batubara bukan yang pertama yang diciduk KPK. Sebelumnya ada Mensos Idrus Marhan, Menpora Imam Nahrawi dan Andi Mallarangeng, Menteri Kebudayaan Jero Wacik, Menag Suryadarma Ali dan deretan nama-nama yang mendongkrak popularitas negeri ini atas prestasinya dalam hal korupsi.

Korupnya demokrasi berpangkal pada paham kebebasan (liberalisme) yang menjadi asasnya. Politik dipisahkan dari agama (sekularisme), sehingga pemerintahan dijalankan sesuai nafsu manusia (penguasa). Vox populi vox dei hanya menjadi jargon basa-basi. Suara rakyat dibeli secara murah dalam demokrasi, lalu dijadikan legitimasi atas peraturan yang rusak dan merusak.

Pemerintahan Bersih itu Khilafah

Khilafah dalam memberantas korupsi, telah memiliki perangkat yang tidak ditemukan dalam sistem demokrasi. Pertama, ketakwaan individu. Bahwa satu-satunya motivasi seseorang menduduki kursi jabatan adalah ketakwaanya kepada Allah. Bukan harta, tahta, dan wanita yang mereka incar, tetapi pahala. Mereka hanya takut kepada Allah SWT. Jika ada rakyatnya yang terzalimi, maka dia akan menjadi orang yang paling dibenci Allah SWT.

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

Tata cara kepengurusan umat, telah tertuang dalam Al Quran dan Al Hadist. Maka dari itu, orang yang berani mengambil amanah ini dan orang yang ditunjuk umat dalam mengemban amanah ini, mestilah orang yang paham agama. Sehingga keimanan kepada Allah Swt. dan kepiawaiannya dalam mengurusi urusan umat sudah tak diragukan lagi. Akhirnya , para pemimpin terpilih, dialah yang dalam hatinya hanya takut kepada Allah Swt. Dan secara otomatis mereka akan berlomba-lomba menjadi pemimpin yang adil. Para pemimpin akan menjaga tingkah laku mereka, karena apa yang diperbuat pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban Allah Swt.

Jika para politisi telah diliputi oleh keimanan yang tinggi, tentulah partai politik yang ada berisikan orang-orang yang saleh. Roda yang mendorong pergerakan partai pun adalah akidah Islam, bukan kemaslahatan.

Setelah terpilih, jangankan korupsi yang merugikan masyarakat, kemaslahatan hewan pun jadi perhatian. Seperti yang dilakukan Umar bin Khaththab, ketika menjabat sebagai Khalifah, Umar bin Khaththab suatu kali pernah bertutur, “Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di kota Baghdad, niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya dan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?’.”

Kedua, kebijakan Khilafah yang menjadi upaya preventif teradap terjadinya korupsi. Seperti pemberian gaji yang layak pada para pejabat serta perhitungan yang ketat terhadap harta sebelum dan sesudah menjabat. Seperti yang dilakukan Rasulullah saw.

Rasulullah pernah menyita harta yang dikorupsi pegawainya. “Nabi pernah mempekejakan Ibn Atabiyyah, sebagai pengumpul zakat. Setelah selesai melaksanakan tugasnya Ibn Atabiyyah datang kepada Rasulullah seraya berkata, ‘Ini kuserahkan kepadamu, sedangkan harta ini adalah yang diberikan orang kepadaku…’ lalu Rasulullah bersabda, Seorang pegawai yang kami pekerjakan, kemudian dia datang dan berkata, ‘Ini kuserahkan kepadamu, sedangkan harta ini adalah yang diberikan orang kepadaku. Apakah tidak lebih baik dia duduk (saja) di rumah bapak/ibunya, kemudian dapat mengetahui apakah dia diberi hadiah atau tidak. Demi Zat yang nyawaku ada di tangan-Nya, salah seorang dari kalian tidak akan mendapatkan sedikitpun dari hadiah itu, kecuali pada hari kiamat dia akan datang dengan membawa unta di lehernya…'” (HR Bukhari-Muslim, Abdul Qadim Zallum, Sistem Keuangan Khilafah, hlm. 119).

Ketiga, hukum sanksi bagi koruptor dalam Islam sangat menjerakan. Menurut Ustaz Hafidz Abdurahman Karena korupsi ini tidak termasuk mencuri dalam pengertian syariat, maka kejahatan ini tidak termasuk dalam kategori hudud. Tetapi, masuk dalam wilayah ta’zir, yaitu kejahatan yang sanksinya diserahkan kepada ijtihad hakim. Sanksinya seperti yang tadi disebut, bisa berbentuk publikasi, stigmatisasi, peringatan, penyitaan harta, pengasingan, cambuk, hingga hukuman mati.

Oleh karena itu, hanya sistem Khilafah lah yang mampu menjadikan pemangku kekuasaan tak gentar mengkorupsi uang rakyat 17 M ataupun godaan sekelas Gal Gadot. Maka tinggalkan sistem demokrasi dan terapkan sistem Khilafah dengan seperangkat aturannya yang terbukti kuat dan stabil. Apalagi aturannya lahir dari sang pembuat kehidupan, pasti akan mampu menghilangkan budaya korupsi.[]

Oleh: Mia Denah Mentari, SP
(Aktivis Muslimah Lahat)

Posting Komentar

0 Komentar