Dua Catatan Besar Tragedi Tol Cikampek



Insiden Senin dini hari (7/12) masih menyisakan duka yang mendalam. 6 orang anggota FPI yang mengawal rombongan HRS menjadi korban penembakan. Selama kejadian tersebut, sebenarnya rombongan HRS dan pengawalnya hanya mengetahui kalau yang menghadang mereka adalah OTK (orang tidak dikenal). Ternyata lewat konpers, Kapolda Fadhil Imron yang didampingi oleh Pangdam Jaya mengakui bahwa yang menguntit dan melakukan penembakan adalah dari pihak kepolisian.

Di dalam tulisan ini ada 2 hal besar yang mestinya patut untuk dicermati yaitu penguntitan dan penembakan. Dengan begitu akan bisa diketahui kelayakan atau tidaknya hal tersebut terjadi.

Penguntitan termasuk bagian dari kegiatan tajassus atau memata-matai. Padahal aktifitas memata-matai seorang muslim itu hukumnya haram. Hal tersebut ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Surat al-Hujurat ayat 12. 

Begitu pula Rasulullah Saw menyatakan dalam haditsnya berikut ini. 

ان الامير اذا بتغي الريبة من الناس افسدهم. 
Sesungguhnya seorang pemimpin tatkala mencari-cari celah kesalahan rakyatnya, ia telah merusak rakyatnya (HR Ahmad dan Abu Dawud). 

Dalil-dalil tersebut menegaskan larangan sesama muslim saling mematai-matai. Bahkan pemimpin negeri yang memata-matai rakyatnya termasuk perbuatan yang merusak.

Pertanyaannya, apakah rombongan HRS dan pengawalnya tersebut masuk dalam kelayakan untuk dimata-matai sehingga perlu dikuntit dari belakang? Memang Rasul Saw pernah memerintahkan kepada sahabatnya guna menguntit Ka'ab bin al-Asyraf, seseorang yang menyakiti Rasul Saw dan kaum muslimin. Akhirnya Ka'ab bin al-Asyraf pun dieksekusi di rumahnya di malam hari. Begitu pula terhadap tokoh munafik, Abdullah bin Ubay, negara melakukan aktifitas memata-matainya. 

Dari profil kedua orang tersebut terlihat bahwa orang-orang yang dimata-matai adalah orang-orang yang disebut Ahlur Riyab. Ahlur Riyab adalah pihak-pihak dari rakyat yang loyalitasnya kepada Islam dan kaum muslimin patut untuk dicurigai. Mereka seringkali melakukan hubungan-hubungan khusus dengan bangsa-bangsa kafir yang bisa membahayakan negeri-negeri Islam. Mereka enggan menyatakan perlawanan terhadap bangsa-bangsa imperialis. Mereka selalu menyakiti Islam dan kaum muslimin. 

Jadi jelas bahwa rombongan HRS dan pengawalnya bukanlah Ahlur Riyab. Justru yang menjadi cita-cita dan tujuan mereka adalah kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Selayaknya negara itu melakukan kegiatan tajassus atau spionase kepada kelompok-kelompok separatis dan negara-negara kafir yang mempunyai hubungan dengannya. OPM sebagai kelompok separatis yang ingin melepaskan diri dari kesatuan negeri Islam yakni Indonesia patut untuk selalu dipantau manuvernya. Jangan sampai kejadian lepasnya Timor Leste terulang kembali.

Berikutnya adalah terkait dengan insiden penembakan mati 6 anggota FPI. Sesungguhnya patut kita camkan sabda Rasul Saw yang menyatakan berikut ini. 

امرت ان اقاتل الناس ان تشهد ان لا اله الّا اللّه وان محمدا رسول اللّه واذا قالوها عصموا مني دمائهم واموالهم الا بحقها. 

Aku diutus untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah. Dan apabila mereka telah mengatakannya, maka terjagalah dariku akan darah mereka dan harta mereka kecuali sesuai dengan haknya.

Dari hadits tersebut jelas bahwa seorang muslim itu terjaga darah dan hartanya. Termasuk terjaga pula kehormatannya. Dalam riwayat yang lain Rasul saw menegaskan bahwa barangsiapa yang terbunuh karena membela kehormatannya maka ia telah syahid. Oleh karena itu, membunuh seorang muslim secara dholim itu hukumnya haram dan merupakan dosa besar.

Allah Swt menyatakan dalam firmannya:

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا (93)
Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka Jahannam yang mereka kekal di dalamnya, kemurkaan Allah, laknat Allah, dan Allah menjanjikan padanya akan siksaan yang pedih (Surat An-Nisa ayat 93).

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan:
ثم لما بين تعالى حكم القتل الخطأ ، شرع في بيان حكم القتل العمد ، فقال : ( ومن يقتل مؤمنا متعمدا [ فجزاؤه جهنم خالدا فيها وغضب الله عليه ولعنه وأعد له عذابا عظيما ] ) وهذا تهديد شديد ووعيد أكيد لمن تعاطى هذا الذنب العظيم ، الذي هو مقرون بالشرك بالله في غير ما آية في كتاب الله ، حيث يقول ، سبحانه ، في سورة الفرقان : ( والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق [ ولا يزنون ] ) الآية [ الفرقان : 68 ]

Ketika Alloh menjelaskan tentang sangsi bagi pembunuhan tidak sengaja, Allah juga menjelaskan sangsi bagi pembunuhan yang disengaja, dengan firmannya dalam surat an Nisa ayat 93 tersebut. Ayat 93 an Nisa ini merupakan ancaman yang keras dan janji yang kuat bagi siapa saja yang melakukan dosa besar pembunuhan sengaja tersebut. Kejahatan pembunuhan terhadap seorang mukmin menjadi tanda akan kesyirikan pelakunya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam al-Furqon ayat 68.

Sangsi di dunia bagi pelaku pembunuhan yang sengaja adalah qishash atau balas bunuh. Jika keluarga korban memaafkan, sangsinya adalah diyat sebanyak 100 ekor unta (40 ekornya bunting) atau 1000 dinar, untuk satu nyawa.

Membunuh jelas haram kecuali sesuai haknya. Maksudnya sesuai dengan koridor Islam. Adapun kejahatan yang sangsinya hukuman mati adalah berzina muhson, membunuh dengan sengaja, murtad, para perusuh pembuat onar atau separatis, para perampok dan pembegal jalanan. Pertanyaannya, apakah FPI termasuk pelaku kejahatan yang dalam Islam hukumannya adalah mati? Apakah anggota FPI itu kaum separatis atau pembegal jalanan?

Jikalau kemudian kita menggunakan logika konpers kepolisian bahwa telah terjadi penyerangan terlebih dahulu sehingga kepolisian membela diri. Maka membela diri itu bukan langsung dengan menembak mati. Bisa diambil tindakan tembakan peringatan dan tembakan melumpuhkan. Anggota FPI bukanlah penjahat, perampok ataupun separatis yang harus diperangi. 

Sedangkan hadits Nabi Saw dalam shahihain yang menyatakan:

اذا التقى المسلمان بسيفهما القاتل والمقتول في النار. 

Apabila telah bertemu dua orang muslim dengan membawa senjatanya. Maka pembunuh dan yang terbunuh keduanya masuk kedalam neraka. 

Mendengar demikian para sahabat bertanya mengapa yang terbunuh itu juga divonis masuk neraka. Rasul saw menjawab: yang terbunuh itu sudah berniat untuk membunuh saudaranya.

Al-Imam an Nawawi menjelaskan:

من نوى المعصية، واصر على فعلها ولم يمنعه منها الا العجز يكون آثما، وان لم يفعلها ولم يتكلم بها. 

Barangsiapa yang berniat melakukan membunuh lantas ia melakukannya dan tidak ada yang mencegahnya kecuali karena lagi apes, ia berada dalam dosa. Dan jika ia tidak melakukannya, janganlah membicarakannya.

Hadits tersebut tidak bisa diterapkan pada insiden terbunuhnya ke-6 anggota FPI tersebut. Pasalnya rombongan HRS dan pengawalnya bukan dalam berniat untuk melakukan kejahatan. Rombongan tersebut sekiranya berangkat dalam rangka menghadiri pengajian keluarga.

Oleh karena itu, insiden penembakan mati terhadap ke-6 anggota FPI tersebut harus diusut tuntas. Termasuk trauma pada wanita dan anak-anak yang ada di dalam rombongan harus mendapatkan perhatian serius. Semoga Allah Swt memberikan pertolonganNya kepada Islam dan kaum muslimin. Sebuah pertolongan yang memuliakan yakni dengan tegaknya Syariat Islam dan Khilafah. 


Oleh: Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 
#09 Desember 2020

Posting Komentar

0 Komentar