Demokrasi Sistem Bermasalah, Hidup Perempuan Jadi Susah


Bagai jelatang di hulu air, sistem demokrasi nyatanya selalu membuahkan masalah yang tidak berkesudahan. Sistem yang aturannya lahir dari manusia itu, meniscayakan ketidaksempurnaan. Akibatnya kehidupan menjadi susah, tak terkecuali menimpa kaum perempuan.

Menteri keuangan, Sri Mulyani, secara lugas menyebutkan susahnya hidup menjadi perempuan saat ini. Ia menyebut di beberapa negara masih saja perempuan di tempatkan pada posisi yang tidak jelas. Diskriminasi sering kali dialami oleh perempuan. Misalnya di beberapa tempat bayi perempuan tak bisa mendapat akte lahir. Begitu juga terjadi kesenjangan dalam kesempatan untuk mendapat pendidikan, laki-laki cenderung diprioritaskan. Belum lagi perempuan susah untuk memiliki rumah, toko atau usaha atas namanya sendiri. (money.kompas.com, 20 Desember 2020)

Sistem Demokrasi Bermasalah

Sayangnya masih sedikit yang bisa mendeteksi, bahwa kesulitan hidup yang terjadi pada perempuan disebabkan karena sistem demokrasi kapitalisme yang diterapkan saat ini. Seperti yang disampaikan oleh Sri Mulyani, yang menyebutkan bahwa norma nilai-nilai kebiasaan budaya dan agama sering menjadi latar belakang munculnya aturan yang membuat hidup perempuan susah.

Padahal persoalan perempuan tidak hanya terjadi di negara yang mayoritas penduduknya menganut agama tertentu atau secara kultural masih memegang erat budaya, tapi juga terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika, yang konon gambaran negara maju. Lihat saja, bagaimana perjuangan kaum feminis menuntut kesetaraan terus berlangsung hingga kini. Ini menunjukkan di negara-negara tersebut kehidupan perempuan juga sulit.

Sistem demokrasi yang notabene buatan manusia ini secara asasnya saja sudah bermasalah, yaitu sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga patokan benar salah dan baik buruknya segala sesuatu disesuaikan dengan kepentingan manusia, yaitu manfaat. Itupun tergantung pada siapa yang memegang kekuasaan. 

Ironisnya, penguasa seringkali justru mewakili kepentingan pihak pemodal yang telah membiayainya hingga berhasil menghantarkannya duduk di kursi jabatan. Wajarlah, bila kemudian tercipta kekuasaan yang berkolaborasi dengan kepentingan pengusaha melalui aturan dan UU, hingga memuluskan jalan menguasai kekayaan alam demi keuntungannya sendiri.

Sementara rakyat tak lagi dipedulikan. Urusan mereka tak dipenuhi. Bahkan tak segan dibungkam saat suara kritik menggaung seiring dengan kebijakan-kebijakan penguasa yang menzalimi rakyat berlangsung. Kesusahan hidup akhirnya harus dialami oleh rakyat. Negara hanya menjadi regulator yang melanggengkan eksploitasi korporasi atas aset milik rakyat. Akibatnya rakyat harus membeli pelayanan pendidikan, kesehatan, bahkan kebutuhan pokoknya pun tidak dijamin dapat dipenuhi negara. 

Inilah yang menyebabkan kesusahan hidup yang dialami oleh rakyat baik laki-laki maupun perempuan. Demokrasi membuat kesenjangan akut akibat harta hanya beredar di segelintir orang saja. Kesejahteraan yang adil dan merata sulit terwujud. Sayangnya hal ini tidak disadari oleh kaum perempuan. Bahkan dengan senang hati turut dalam permainan kapitalis yang menempatkan mereka tak ubahnya sebagai obyek eksploitasi berkedok pemberdayaan perempuan.

Persoalan kemiskinan yang membelitnya justru diselesaikan dengan mendorong para perempuan bekerja, meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu yang mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Beban ganda yang dipikul seorang ibu, membuat dirinya tak dapat optimal melaksanan tugas pentingnya tersebut. Akibatnya lahir persoalan sosial lain seperti munculnya kenakalan remaja, terlibat tawuran, seks bebas hingga narkoba. Bahkan tak jarang perempuan menjadi korban kekerasan seksual.

Perempuan Hidup Berkah Sejahtera dengan Sistem Islam

Semua kesusahan hidup yang menimpa kaum hawa, tidak akan terjadi bila sistem yang mengaturnya adalah Islam. Sistem yang dibangun di atas aqidah Islam ini, meletakkan kedaulatan hanya di tangan Allah SWT. Sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah akan menerapkan seluruh aturan Islam atas seluruh rakyatnya. Dalam Islam, pemimpin (khalifah) adalah ra’in (pengurus). 

“Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Negara dalam hal ini wajib menjamin kebutuhan pokok dan dasar umat terpenuhi secara keseluruhan, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, perempuan tidak diwajibkan untuk bekerja. Nafkahnya wajib dipenuhi oleh walinya. Kaum laki-laki harus bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan para ibu dan anak-anaknya. 

Untuk itu khilafah akan memastikan kewajiban ini ditunaikan oleh para laki-laki. Bila terjadi pelanggaran hingga menelantarkan keluarganya, negara akan menegakkan sanksi tegas. Sementara bila karena kondisi tertentu, suami atau wali tidak bisa menunaikan kewajiban untuk menafkahi, maka negaralah yang akan mengambil alih peran tersebut.

Khilafah juga akan mengelola seluruh sumber daya alam yang dimiliki secara mandiri. Dengan begitu akan tercipta banyak lapangan kerja yang menyerap tenaga kerja. Sehingga rakyat akan bisa memperoleh harta untuk mencukupi kebutuhannya. Hasil pengelolaan kekayaan alam tersebut juga dapat dimanfaatkan negara untuk membiayai penyediaan berbagai kebutuhan pendidikan, kesehatan, transportasi dan lain-lain, yang merupakan hak dasar rakyat.

Rakyat kemudian dapat menikmati pelayanan kebutuhan pendidikan dan kesehatan tersebut secara gratis dengan kualitas terbaik. Khilafah juga menjamin seluruh rakyat dapat mengaksesnya secara mudah tanpa ada diskriminasi, baik untuk laki-laki maupun perempuan, muslim dan non muslim. Hak mereka akan dilindungi dan bila ada penguasa yang zalim, khalifah akan menindak tegas.

Dengan pelaksanaan aturan Islam yang sedemikian sempurna, kesejahteraan yang hakiki akan terwujud. Para ibu pun dapat fokus dalam menunaikan tugas utama sebagai ummu wa rabbatul bait. Ia akan bisa secara optimal mendedikasikan pikiran dan tenaganya untuk mendidik anak-anak menjadi generasi rabbani. 

Kaum perempuan tidak akan tersibukkan untuk menuntut kesetaraan karena dalam sistem Islam kedudukannya betul-betul dimuliakan. Bahkan negara akan memfasilitasi pengembangan diri para ibu, sehingga bisa memberikan pengasuhan terbaik untuk anak-anaknya. Bila pun perempuan ingin bekerja, maka khilafah akan menciptakan sistem yang kondusif dan memberikan perlindungan pada kaum perempuan. 

Begitulah khilafah telah menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Di dalam naungannya perempuan akan hidup dalam kesejahteraan yang penuh berkah. Sebab, di tangan seorang ibu lah pembentukan generasi yang berkualitas dan berjiwa pemimpin diawali. Dengan didikan seorang ibu yang hebat akan tampillah sosok-sosok generasi terbaik yang kelak menjadi penjaga dan pengemban Islam sebagai rahmat ke seluruh dunia. Wallahu’alam bisshowab.[]

Oleh: Dwi Indah Lestari, S.TP 
(Penggiat Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar