Demokrasi Membungkam Ulama Pewaris Nabi


Ulama adalah sosok yang semestinya menjadi pewaris para nabi dalam mendakwahkan Islam kepada seluruh umat manusia, tanpa harus takut tekanan yang di dapatkan, seperti beraninya para ulama terdahulu dan para sahabat yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk Islam. Namun kini fakta rezim yang berusaha mengebiri peran MUI (menyingkirkan yang kritis, dianggap main politik) adalah bukti bahwa sistem sekuler makin kuat dan dominan mewarnai pengambilan kebijakan yang harus diterapkan saat ini.

Dalam pidato yang disampaikan oleh wakil presiden Ma’ruf Amin bahwa sampai saat ini di Indonesia belum ada satu orang pun yang mampu tampil sebagai imam umat Islam, Ma’ruf Amin juga mengatakan sejauh ini yang ada adalah imam atau pemimpin dari organisasi masyarakat (ormas) seperti FPI, NU, maupun Muhammadiyah.

Belum ada orang yang mampu tampil sebagai imamah saksiyah (imam kepribadian) menjadi imam umat Islam. Yang ada hanya imamah saja. (TribunNews.com/Jakarta,Jumat/27/11/2020)
Pernyataan Ma’ruf Amin tersebut seakan tidak ada ulama yang pernah menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar dan melupakan apa yang terjadi pada ulama ketika menyampaikan kedzoliman yang dilakukan oleh penguasa dan menyerukan kepada Islam, salah satunya Wapres Ma’ruf Amin sendiri adalah bagian dari Ulama yang saat ini menjadi kaki tangan penguasa dalam menyampaikan kebijakan yang bertentangan dengan Islam.

Dari Abu Dzar berkata, “Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan dajjal yang aku takutkan atas umatku.” Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah selain dajjal yang paling engkau takutkan atas umatmu?” Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan.” (Musnad Ahmad (35/222))

Anas ra. meriwayatkan, “Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik terhadap dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul, karena itu jauhilah mereka.” (HR al Hakim)

Hadis di atas menggambarkan kemuliaan ulama terletak pada kehati-hatian mereka terhadap harta, kekuasaan dan ilmu yang mereka sampaikan. Jika salah menyampaikan berakibat fatal. Ilmunya bisa menyesatkan manusia.

Maka dari itu, ulama semestinya tidak boleh terjebak dengan narasi yang membingungkan umat. Ulama harus mewaspadai upaya mengaburkan dan memisahkan Islam dari ajaran yang sesuai risalah Nabi Saw. Ulama juga tidak boleh terjebak dalam politik pragmatis demokrasi. Terkungkung dalam arus kepentingan penguasa. Terbawa alur demokrasi yang penuh tipu daya. Tak boleh gentar, justru harus ada kesadaran bahwa Majelis Ulama wajib mencontohkan sikap menentang kezaliman dan muhasabah lil hukkam (makna politik dalam Islam). Ulama juga wajib mewaspadai arus moderasi yg memanfaatkan posisi mereka untuk  menyesatkan umat.

Kita harus ketahui bahwa ulama itu mata hatinya umat. Ucapannya berhikmah. Lisannya adalah Al-Qur’an dan Sunah. Sikapnya mewarisi sifat Nabi. Seruannya adalah tegaknya syariat Islam di muka bumi. Itulah ulama akhirat. Tidak takut terhadap celaan. Tak gentar menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim. Zaman memang berbeda tapi yang diperjuangkan oleh Islam tetap sama yaitu menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Ulama itu layaknya Imam Hasan al Bashri yang tegas dan berani menentang kezaliman penguasa Irak kala itu, Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Ulama itu seperti Imam Abu Hanifah ra. yang menolak tawaran jabatan dan harta dari Abu Ja’far Al Manshur. Keteguhannya menjaga ilmu dan kepercayaan umat membuatnya rela dihukum cambuk hingga meregang nyawa karenanya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR al-Imam at-Tirmidzi, Ahmad, ad Darimi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Pewaris Nabi adalah mereka yang menyeru tegaknya hukum Allah sebagaimana seruan para Nabi dan Rasul. Merekalah para ulama yang mewarisi ilmu dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah. Ulama harus berani untuk menyerukan untuk tinggalkan demokrasi kapitalisme, tegakkan Islam kafah. Yaitu menerapkan dua warisan Nabi yang tercantum dalam sabdanya, “Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Malik, Al-Muwaththa’, no 1594).

Itulah fokus kiprah ulama, sedangkan  menghentikan kerusakan akibat sistem rusak ini tak bisa diserahkan pada umat (ormas)  tapi hanya bisa dijalankan sempurna oleh negara ( khilafah islam).[]

Oleh: Fitri Khoirunisa,A.Md
(Aktivis Back To Muslim Identity)

Posting Komentar

0 Komentar