Demokrasi Gagal, ke Mana Umat Berlabuh?



Tahun segera berganti, harap pun tersemat bahwa hari esok segala penderitaan berakhir. Berakhirnya pandemic yang telah memporak-porandakan kehidupan keluarga bahkan dunia, hingga resesi ekonomi dan kemelaratan hidup. 

Setiap menjelang pergantian tahun umat selalu berharap, namun faktanya kesengsaraan bertambah. Bahkan kerusakan semakin menjadi-jadi, semakin mengoyak nurani manusia. Kehormatan dan nyawa manusia semakin tak ada harganya, penistaan agama dan kriminalisasi ulama tak kunjung henti. 

Sudah saatnya kita introspeksi diri, mengapa kerusakan dan penderitaan tak jua berakhir? Sejatinya Allah Swt telah memberikan jawabannya dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). “ (QS. Ar-rum: 41)

Semua kerusakan ini adalah akibat ulah manusia yang telah jauh meninggalkan aturan dari Allah. Dengan jumawa merasa lebih layak mengatur hidupnya. Demokrasi diagungkan sebagai sistem terbaik, sementara syariat Islam dianggap tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Bertentangan dengan Fitrah

Demokrasi adalah sistem bernegara yang lahir dari azas sekularisme, memisahkan bahkan menafikkan campur tangan agama dari kehidupan. Sehingga dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara mengandalkan kecerdasan akal manusia. 

Padahal, secerdas apapun manusia tetap saja kemampuan akalnya terbatas, tak mampu menyingkap hakikat sesuatu. Bahkan akal manusia tak mampu memahami baik dan buruk bagi dirinya. Semisal percintaan sesama jenis, begitu terbatasnya akal hingga sebagian manusia menganggap itu sah-sah saja.

Dengan kelemahan akalnya, manusia menjadikan tolok ukur kemaslahatan materi dalam membuat aturan serta standar perilaku. Walhasil, perpecahan dan perselisihan kerapkali terjadi karena perbedaan standar ini. Fitrah manusia yang menginginkan ketenangan hidup pun ternodai.

Belum lagi jika berbicara kerusakan sosial dampak ide kebebasan yang diusung demokrasi. Ide ini telah mengaburkan garis nasab manusia, mencerai-beraikan rumah tangga, melejitkan kriminalitas, menjatuhkan harga nyawa manusia, dsb. 

Begitu banyak kerusakan di muka bumi yang diakibatkan demokrasi. Pun penindasan dan invasi ke suatu negeri terjadi dengan dalih demi demokrasi. Tidakkah ini semua menyiksa nurani kita sebagai manusia? 

Harus Berubah

Telah jelas bahwa kerusakan yang menimpa dunia saat ini bukanlah semata karena kezaliman rezim penguasa, namun sangat dipengaruhi oleh kebobrokan sistem demokrasi. Maka umat harus menanggalkan kepercayaan mereka pada sistem demokrasi dan mengubah haluan. 

Lalu kemana umat harus berlabuh? Ketika seorang muslim meyakini Allah sebagai Penciptanya maka ia juga harus yakin terhadap aturan Allah. Betapa Allah paling mengenal seluk-beluk dirinya, melebihi manusia mengenali dirinya sendiri. 

Allah sebagai pencipta manusia dan alam semesta pasti tak akan membiarkan mahluk-Nya hidup dalam kekacauan dan tak terarah. Ia telah memberikan seperangkat aturan kehidupan yang menjamin terciptanya keteraturan dan kemaslahatan. 

Allah berfirman: 
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [QS. al-A’râf: 54].

Dalam ayat yang lain, 
“Bukankah Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan hukum?” (QS. At-Tiin: 8).

Bahkan Allah Subhanahu wata’ala juga mengutus manusia pilihan untuk memberi teladan dalam menjalani hidup agar manusia tak tersesat.

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al-A’raaf : 157)

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berpesan,

“Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan Sunahku.” (HR Al-Hakim)

Jelaslah bahwa demokrasi harus segera ditinggalkan. Melabuhkan hidup pada hukum Allah adalah sebuah pilihan tepat yang akan memposisikan manusia sesuai dengan fitrah kemanusiannya. Menerapkan syariat Islam secara kaffah adalah perwujudan keimanan, selain itu akan mendatangkan keberkahan, kemaslahatan dan rahmat bagi seluruh alam. 

Siapa yang akan menjamin tercurahnya keberkahan hidup? Allah sendiri yang memberikan jaminan dalam Firman-Nya, 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)
Kalau sistem demokrasi, siapa yang akan menjamin? Wallahu a’lam.[]

Oleh: Maya Ummu Azka

Posting Komentar

0 Komentar