Dari Prancis hingga Uighur, Pengamat Ini Ungkap Kasus Pelecehan dan Penzaliman pada 2020



TintaSiyasi.com-- Menyorot kasus pelecehan dan penzaliman terhadap Islam dan umat Islam yang marak terjadi di tahun 2020, Pengamat Politik Internasional Umar Syarifuddin angkat bicara. Ia mengungkapkan, kasus pelecehan paling kontroversial dilakukan oleh Prancis kepada Nabi Muhammad SAW dan kasus penzaliman paling kontroversial dilakukan rezim Cina kepada Muslim Uighur.

"Ada banyak pelecehan terhadap Islam, namun yang populer di antaranya adalah pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa agama Islam itu dalam krisis di seluruh dunia, termasuk pembelaan Presiden Prancis Emmanuel Macron kepada penghina Rasulullah SAW," tuturnya kepada TintaSiyasi.com Jumat, (18/12/2020).

Dia mengatakan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang dilakukan media satire Charlie Hebdo merupakan yang kesekian kalinya dilakukan oleh media barat, seperti Jyllan Posten di Denmark, dan lainnya. 

"Selalu saja mereka berdalih, pembuatan dan pemuatan kartun ini merupakan bagian dari kebebasan berekspresi atau freedom of exspression," ujarnya.

Menurutnya, penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang mereka klaim sebagai bentuk freedom of expression merupakan bentuk kebodohan dan ke-phobia-an mereka terhadap Islam dan simbol-simbolnya.


Kasus Penzaliman Paling Kontroversial Dilakukan Rezim Cina kepada Muslim Uighur

Menurut Pengamat Politik Internasional ini kasus penzaliman terhadap umat islam yang paling memilukan adalah yang dialami oleh umat Islam Uighur di Turkistan Timur (Xinjiang).

Dia menuturkan, kisah nestapa Muslim Uighur hingga saat ini masih mengalami perbudakan modern. "Dan ini bagian dari program otoritas Cina yang sebelumnya membangun kamp pendidikan ulang politik dengan tujuan mengembalikan program pemikiran politik di benak Muslim Uighur yang ditahan di kamp itu dan menghapus keyakinan Islami mereka dan mengubah identitas mereka sejak akarnya," bebernya.

Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya Associated Press telah melaporkan kesaksian seorang yang berhasil keluar dari kamp itu. Dia menjelaskan bahwa para tahanan dipaksa memakan makanan haram seperti babi dan dilarang untuk sholat serta dipaksa menghapal lagu dan memuji Partai Komunis Cina.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, Muslim Uighur yg tinggal di dalam kamp tersebut dilarang menghapal Al Qur'an dan pergi ke masjid. Selain itu ungkapnya, mereka juga didoktrin, melaksanakan sholat adalah bukti radikalisme dan Islam.

"Apa yang disembunyikan dari apa yang terjadi di kamp itu lebih besar lagi, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah SWT," pungkasnya.[] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar