Berharap pada HAM Dapat Memberikan Keadilan?


10 Desember 2020 lalu negara kita ikut memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Melansir United Nations, dipilihnya 10 Desember sebagai Hari HAM karena pada tanggal itu bertepatan dengan hari Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) pada tahun 1948. 
UDHR merupakan dokumen tonggak sejarah yang menyatakan hak-hak setiap orang sebagai manusia tidak dapat dicabut tak peduli ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan sebagainya. Hari HAM kerap kali menjadi ajang unjuk rasa terkait hak asasi manusia seperti soal kekerasan, penangkapan dan pemenjaraan para pengunjuk rasa saat aksi demonstrasi terjadi. (kompas.com, 10/12/2020)

Namun anehnya, masyarakat Indonesia seolah merasakan bahwa di dalam negeri ini telah terjadi krisis keadilan. Hal ini terbukti banyaknya dislike pada Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rangka peringatan Hari HAM Se-Dunia 2020 pada Rabu (9/12), disiarkan secara virtual oleh akun Youtube Kemitraan Indonesia. 

Hingga Sabtu (12/12) pukul 06.45 WIB, sekitar 29 ribu dislike dan hanya 1,1 ribu akun yang memberi like. Terlihat jelas akun yang tidak suka berkali-kali lipat daripada yang suka dengan pidato Jokowi. Pun dengan 13 ribu komentar, mayoritas menyorot pidato Jokowi yang terkesan hanya seremoni tanpa penegakan di lapangan. Begitulah nyatanya apabila hukum buatan manusia dijadikan alat untuk menegakkan keadilan, tak akan pernah semanis janjinya.

Padahal Allah Swt memerintahkan manusia untuk berbuat adil. Allah Swt berfirman di dalam Al Quran surat An-nahl ayat 90,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Demikian pula di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 58 Allah Swt berfirman yang artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Adil oleh para fuqaha dan mufassir dimaknai melaksanakan hukum Allah Swt yang manusia menghukuminya sesuai dengan syariat Islam sebagaimana yang telah di wahyukan Allah kepada Nabi dan RasulNya. Karena itu lawan dari adil adalah zalim yakni memutuskan segala sesuatu tidak berdasarkan syariat Islam. Karena itu di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 135 ketika Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menjadi penegak keadilan ada larangan untuk mengikuti hawa nafsu,

فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Artinya: Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Maka syariat Islam harus menjadi ukuran penegakan keadilan. Jika tidak, maka manusia akan terus dihadapkan pada pandangan subjektif tentang keadilan tersebut. Hak Asasi Manusia yang sering dipakai sebagai ukuran kezaliman atau tidaknya seringkali tidak diterapkan secara fair. Karena sekali lagi, hawa nafsu kecenderungan berbuat tidak adil itu melekat pada sifat manusia yang amat lemah. 

Sifat lemah ini justru kian menjadi-jadi saat manusia memiliki kekuasaan. Dengan kekuasaannya manusia bebas menafsirkan keadilan, maka sekalipun masyarakat melihat kezaliman di depan mata, kebohongan dan kebusukan skenario rezim terlihat dan tercium bau busuknya, rezim masih bebas berbuat tanpa takut akan kemarahan rakyat apa lagi kemarahan Allah Swt dan siksa akhirat.

Realitas ini akan terus dihadapi umat ketika kebenaran diserahkan pada tangan manusia yakni saat demokrasi yang berkuasa. Tentu kaum muslimin seringkali tetap akan menjadi sasaran kezaliman tersebut. Karena demokrasi adalah pemerintahan yang menghilangkan peran agama di dalam kehidupan.

Jadi apabila ingin lepas dari tafsir zalim tentang keadilan, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengembalikan keadilan itu sesuai syariat Islam yakni penegakan keadilan dalam Khilafah Islamiyah. 

Fragmen keadilan khilafah tergambar saat Sayyidina Ali ra. menjadi khalifah. Ali tidak mampu membuktikan baju zirahnya yang dicuri Yahudi sebagai miliknya. Maka Qadhi Suraih sang Hakim tidak menerima dakwaan. Sehingga khalifah sebagai pemimpin tertinggi menerima keputusan tersebut. 

Mengapa kemudian realitas seperti ini tidak bisa terjadi pada hari ini? Hanya anda yang bisa menjawabnya.[]

Oleh: Nabila Zidane, Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar