Begini Penjelasan Ulama Tentang Hukum Iklan dalam Pandangan Islam



TintaSiyasi.com-- Menyoal bagaimana pandangan Islam tentang hukum iklan, KH M. Shiddiq Al Jawi menjelaskan hukum asal iklan adalah boleh (mubah). 

"Hukum asal iklan adalah mubah menurut syariat Islam. Sesuai kaidah fikih:
اإلعالنات التجارية اإلباحةيناألصل ف
Hukum asal iklan dagang adalah boleh," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Ahad (6/12/2020).

Ia menjelaskan beberapa dalil syar’i tentang kebolehan iklan dalam Islam. Pertama, taqrir (persetujuan) Nabi SAW. Ia mengungkapkan bahwa Nabi SAW telah men-taqrir (menyetujui) aktivitas para pedagang di pasar Madinah waktu itu yang menjajakan barang dagangan mereka, baik oleh pedagang sendiri secara langsung atau melalui budak-budak mereka.

Menurutnya, Nabi SAW telah membolehkan pedagang untuk menyodorkan atau menawarkan (display) dagangan mereka sesuai hadis sebagai berikut.

يب عنيده فأدخل .طعام ص ية عىل مر وسلم عليه هللاصىل هللا رسول أن هريرة؛ أيا .السماء أصابته :قال "الطعام؟ صاحب يا هذا ما" فقال .بلال أصابعه فنالت .فيهايك الطعام فوق جعلته أفال قال !هللا رسولفليس غش من الناس؟ يراهنن يرواه ممسلم

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW pernah melintasi setumpuk makanan (shubrah at tho’aam). Lalu Rasulullah SAW memasukkan tangannya ke tumpukan makanan itu, lalu mengenai makanan yang basah. Rasulullah SAW lalu bersabda,”Ini apa hai pedagang makanan?” Pedagang makanan menjawab, ”Itu terkena hujan wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda, ”Mengapa tidak kamu letakkan di atas sehingga dapat dilihat orang Barangsiapa menipu maka dia bukan golongan kami." (HR Muslim, no 134).

"Dalam hadis ini Rasulullah SAW telah melarang penipuan atau kecurangan dalam menawarkan dagangan, tapi Rasulullah SAW tidak melarang penawaran atau display makanan itu sendiri," jelasnya.

Kedua, bolehnya sumpah yang tidak dusta (al yamiin ghairal kaadzib) bagi pedagang.

Ia mengatakan bahwa sumpah dalam berdagang itu dibolehkan asal yang tidak dusta (al yamiinghair al kaadzib) bagi pedagang. Ia mengungkapkan, Rasulullah SAW bersabda,

الكاذبة منفقة للسلعة وممحقة للربكةاليم ين

“Sumpah palsu akan merusak barang dagangan dan menghancurkan keberkahan.”

"Hadis ini melarang sumpah palsu bagi pedagang dalam memasarkan dagangannya (tarwiij albidhaa’ah)," ujarnya.

Ketiga, bolehnya iklan sebagai sarana (wasilah) untuk maksud yang mubah (lil wasaa`il hukmulmaqaashid).

Ia menjelaskan alasan dibolehkannya iklan karena menurutnya iklan hanyalah sebagai sarana untuk maksud yang mubah. 

"Iklan hanyalah sarana atau alat untuk memasarkan suatu barang atau jasa," imbuhnya.

"Maka, hukum iklan itu sesungguhnya bergantung pada barang atau jasa yang diiklankan. Kaidah fikih: للوسائل حكم المقاصد
Sarana itu hukumnya mengikuti tujuannya," pungkasnya.[] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar