Begini Kronologis Penembakan Rombongan Imam Besar Yang Menewaskan Enam Laskarnya


TintaSiyasi.com-- Menanggapi banyaknya kabar yang beredar tentang penembakan rombongan IB HRS dan menewaskan enam laskar yang di-framing seolah-olah laskar yang menyerang aparat, Dewan Pimpinan Pusat FPI, Munarman, S.H memberikan penjelasan kronologinya.

"Untuk menjelaskan rangkaian fakta-fakta peristiwa yang terjadi, maka berikut ini kami sampaikan kronologi peristiwa dan identitas mujahid yang menjadi syuhada dalam tugas pengawalan IB HRS, sebagai berikut," ujar Munarman dalam keterangan persnya, Senin (7/12/2020) di Jakarta.

Dia menjelaskan, pada hari Ahad (6/12/2020) pukul 22:45 WIB, IB-HRS dan keluarga keluar dari Perumahan The Nature Mutiara Sentul Bogor menuju tempat pengajian keluarga, sekaligus peristirahatan dan pemulihan kesehatan di Karawang. Dia mengatakan rombongan IB-HRS keluar melewati Tol Jagorawi arah Jakarta, lalu ke jalan Tol Linkar Luar Cikunir, dan mengambil arah Tol Cikampek. 

Adapun dalam rombongan tersebut ungkap Munarman, terdiri dari delapan mobil yaitu, empat mobil keluarga IB-HRS dan empat mobil lainnya laskar FPI sebagai tim pengawal. Dalam keterangannya, dia menyebutkan rombongan keluarga terdiri pertama, laki-laki di antaramya, IB-HRS dan menantu serta seorang ustaz dari keluarga dan tiga orang Sopir. Kedua, perempuan dan anak-anak, terdiri dari dua belas wanita dewasa, tiga bayi dan enam orang balita. Ketiga, laskar FPI berjumlah dua puluh empat orang dalam empat mobil.

Ia mengungkapkan, semenjak rombongan keluar dari perumahan The Nature Mutiara Sentul, mereka diikuti oleh mobil Avanza Hitam dengan nomor polisi B 1739 PWQ dan Avanza Silver dengan nomor polisi B ...KJD, serta beberapa mobil lainnya. 
Dia menuturkan kesaksian dari tim pengamanan mengatakan mobil tersebut sudah standby selama dua hari di sekitar Perumahan The Nature Mutiara Sentul dan di dalamnya ada beberapa orang menggunakan masker. 

Selama perjalanan di tol ungkap Munarman, ada upaya-upaya dari mobil (penguntit) yang ingin mepet dan masuk ke dalam konvoi rombongan IB HRS. "Tentu saja sebagai tim pengawal dan pengaman, respon dari tim adalah mengamankan rombongan IB HRS dan keluarga dari pihak yang menggangu tersebut, dengan cara menjauhkan mobil para pengganggu agar tidak masuk ke dalam rombongan keluarga IB HRS dan tidal melakukan manuver mepet ke mobil rombongan keluarga IB HRS," tandasnya.

"Kami ingatkan, selama manuver manyalip, memepet dan upaya memecah konvoi rombongan IB HRS tersebut, pihak aparat berpakaian preman tersebut tidak ada dan tidak pernah menunjukkan identitas dan perilaku sebagai aparat hukum," tegasnya.

Menurutnya, perilaku petugas berpakaian preman tersebut lebih mencerminkan perilaku premanisme, yang berbahaya dan mengancam keselamatan rombongan keluarga IB HRS termasuk para bayi dan balita yang ada dalam kendaraan rombongan keluarga IB HRS. 

Sebagai contoh yang membahayakan menurutnya, saat melintasi tol Cikunir mobil Habib Hanif dipepet sebuah mobil jenis SUV Fortuner atau Pajero (belum terverifikasi) berwarna hitam dengan nomor polisi B 1771 KJL. Namun, ungkapnya, mobil tersebut berhasil di jauhkan oleh tim pengawal keluar tol.

Lebih lanjut Munarman mengatakan, Senin (7/12) pukul 00:10 WIB dini hari, tiga mobil penguntit kembali mepet dan berusaha masuk kedalam konvoi rombongan. "Tiga mobil penguntit tersebut berhasil dijauhkan oleh mobil berisi laskar yang posisinya paling belakang," jelasnya.

Beliau mengungkapkan saat rombongan keluar pintu Tol Karawang Timur, salah satu mobil pengawal dipepet namun berhasil lolos, tapi salah satu mobil (jenis Chevrolet) pengawal lainnya dikepung tiga mobil penguntit lalu diserang. 

Ia memalarkan, informasi dari laskar yang berada di mobil Chevrolet melalui sambungan telepon bahwa ketika Chevrolet B 2152 TBN dikepung, Sufyan alias Bang Ambon mengatakan, "tembak sini tembak". "Hal itu mengisyaratkan ada yang mengarahkan senjata kepadanya dan setelah itu terdengar suara rintihan laskar yang kesakitan seperti tertembak," ungkapnya.

Dia mengungkapkan enam orang laskar yang ada dalam mobil Chevrolet itu sampai Senin siang mereka tidak dapat dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya. 

Munarman mengaku, pihaknya baru mengetahui ke enam laskar yang hilang telah syahid (meninggal dunia) ketika kapolda Metro Jaya melakukan konferensi pers dan memberikan Informasi bahwa keenam laskar tersebut di tembak mati .

Dari enam orang laskar yang menjadi korban penembakan tersebut adalah Adi Oktaviani, Ahmad Sofyan atau Ambon, Faiz Ahmad Syukur, Muhammad Reza, Lutfi Hakim, dan Muhammad Suci Khadavi.

"Perlu kami tegaskan, bahwa tidak benar laskar pengawalan melakukan penyerangan. Yang terjadi justru rombongan IB HRS yang diganggu dan terancam keselamatannya serta diserang. Bahwa, tidak benar laskar memiliki senjata api dan melakukan penembakan. Karena laskar FPI tidak ada yang dibekali atau membekali diri dengan senjata apapun juga," tegasnya.

Dia menilai tindakan dan sikap serta perilaku dari para penguntit yang membahayakan keselamatan berlalu lintas tersebut sama sekali tidak mencerminkan tindakan dan perilaku serta identitas sebagai aparat penegak hukum.

Menurutnya patut dipertanyakan, apabila benar terjadi peristiwa tembak menembak, berapa orang dari aparat yang diakui sebagai petugas hukum tersebut yang terkena tembakan? "Adalah aneh, disebut peristiwa tembak menembak, namun tidak ada satu peluru pun yang mengenai pihak yang diakui sebagai petugas, namun justru enam orang laskar meninggal terkena tembakan semua," ujarnya.

DPP FPI menduga tindakan penguntitan dan gangguan terhadap IB HRS hingga pembantaian terhadap enam orang laskar itu adalah terencana, sistematis dan memiliki struktur komando.

Munarman mengungkapkan perkara yang dituduhkan kepada IB HRS adalah hanya sekedar pelanggaran protokol kesehatan. Namun, dia mempertanyakan mengapa dilakukan pengintaian, penguntitan dan gangguan yang berpuncak pada pembunuhan secara keji terhadap enam laskar oleh pihak yang diakui sebagai aparat penegak hukum. 

"Perilaku ini tentu sangat tidak proporsional apabila perkara ini hanya sekedar perkara pelanggaran protokol kesehatan. Kami juga menuntut penjelasan, apabila benar aparat yang mengintai, menguntit, dan mengganggu perjalanan rombongan keluarga IB HRS, berasal dari satuan penegakan hukum apa ?,"pungkasnya.[] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar