Begini Kaidah-Kaidah Iklan dalam Islam




TintaSiyasi.com-- Iklan merupakan pendahuluan dari suatu muamalah seperti jual-beli atau sewa atau jasa, dalam Islam iklan memiliki kaidah-kaidah tertentu. KH M Shiddiq Al Jawi menjelaskan beberapa kaidah iklan tersebut.

"Dalam suatu pesan iklan (ar risalah al i’laniyyah), terkandung unsur-unsur iklan," ujarnya kepada TintaSiyasi.com Ahad (6/12/2020).

Adapun unsur-unsur iklan menurut beliau yaitu, pertama, kaidah syariah unsur judul. Dalam kaidah ini ia menjelaskan tidak boleh mengandung ajakan mengkonsumsi sesuatu yang haram, atau berperilaku yang bertentangan dengan syariah.

Selain itu ungkapnya, judul iklan juga harus sesuai dengan teks iklan, yang kesesuaiannya dapat diuji secara terukur serta tidak melebih-lebihkan, menipu atau menyesatkan konsumen.

Kedua, kaidah syariah unsur teks. Ia menjelaskan bahwa teks iklan harus sesuai dengan fakta barang atau jasa yang diiklankan, tidak melebih-lebihkan atau menipu, menyesatkan, serta tidak menggunakan ungkapan yang tidak berakhlak.

Ketiga, Kaidah syariah unsur gambar. Dalam kaidah ini, ia menjelaskan iklan harus menampilkan gambar yang sesuai dengan kenyataan, agar tidak terjadi penipuan.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa juga tidak boleh melebih-lebihkan, tidak boleh menampilkan aurat, tidak boleh menampilkan gambar porno serta tidak boleh menampilkan unsur-unsur menyerupai orang kafir maupun laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya.

"Harus menampilkan gambar apa adanya, tanpa memodifikasi atau mengedit gambar sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan tadliis (menutupi cacat) atau taghriir (menampilkan ketidak jelasan)," jelasnya.

Keempat, kaidah syariah unsur slogan. Menurutnya, unsur teks dalam iklan tidak boleh mendorong berbuat haram atau mungkar, tidak boleh melebih-lebihkan,
tidak boleh mengandung makna baik eksplisit maupun implisit yang menjatuhkan produk kompetitor.

Kelima, kaidah ayariah unsur merek.
Dia menjelaskan dalam iklan tidak boleh mengandung hal yang bertentangan dengan akidah, juga tidak menggunakan lafal jallaalah (Allah SWT) atau nama-nama Allah lainnya, atau nama para Nabi SAW sebagai merek dagang. "Tidak menggunakan kata atau gambar binatang atau sesuatu yang najis," ungkapnya.

Keenam, kaidah syariah unsur musik.
Dalam hal ini ungkap beliau, terjadi perbedaan pendapat. "Pengarang kitab Al I’lanat At Tijariyyah mengharamkan musik, sehingga hanya membolehkan suara alam. Menurut kami, musik hukumnya boleh asalkan memenuhi syarat-syaratnya," pungkasnya.[] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar