Bagaimana Menyikapi Dua Informasi yang Kontradiktif?

Seperti diketahui, berharap keadilan dari sistem demokrasi ibarat mimpi tak berkesudahan. Ditambah berbagai penyelesaian masalah yang malah memunculkan polemik baru. Bahkan tak jarang pernyataan tidak benar digunakan untuk menutupi kebohongan sebelumnya yang justru dinilai semakin tidak masuk akal. Lebih memprihatinkan lagi, hal ini dilakukan oleh institusi-institusi yang seharusnya melindungi kehidupan segenap warga negara.

Mengenai kabar duka akibat penembakan enam anggota laskar FPI yang dilakukan kepolisian di area jalan tol Cikampek beberapa waktu lalu, sempat memunculkan opini dan analisa dari berbagai pihak. Padahal olah TKP ataupun gelar perkara oleh pihak berwenang belum dilakukan. Namun demikian, betapa tindakan yang mengharuskan ditangkapnya seseorang karena diduga bersalah, bukan berarti menghilangkan nyawa tertuduh menjadi hal lumrah. Mengutip penjelasan ahli hukum tata negara Rafly Harun di kanal youtube beliau, 'Dengan koruptor seperti mantan Mensos Juliari Peter Batubara saja kita masih berdebat soal pantas tidaknya dia dihukum mati. Apalagi sama anggota FPI yang tidak melakukan kejahatan'. Jadi sangat tendensius dalam kasus ini berlaku standar ganda dan dibuat pengecualian dengan tidak berlakunya asas praduga tak bersalah.

Terlepas opini dan analisa dari versi manapun, perlu juga diingat bahwa kaum sekuler senantiasa menginginkan agar umat terombang-ambing oleh ketidakjelasan informasi. Maka seperti diulas ustaz Hutri Agus Prayudo S.Pd, Inspirator Hijrah sekaligus Founder Majelis 'Gaul', setidaknya ada lima sikap yang harus diambil seorang muslim ketika menerima berita atau opini yang (terlebih) berasal dari orang fasiq. Diantaranya adalah, pertama, tabayyun. Artinya, mengkonfirmasi opini sebagai wujud menjalankan perintah Al Qur'an yang sudah dipercaya sebagai panduan hidup. Perintah ini tertuang di dalam surat Al hujurat, ayat 6 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu".

Dengan tidak bermaksud mengabaikan asbabun nuzulnya terkait peristiwa antara sahabat Walid bin Uqbah dengan Al Harits bin Abu Dhirar dari Bani Mustaliq paling tidak, bisa diambil pelajaran akan pentingnya aktivitas tabayyun terhadap berita yang datangnya dari seorang muslim sekalipun. Apalagi kepada orang fasiq yang tanda dan track recordnya sudah jelas. Jadi diharapkan umat tidak termakan pendapat tertentu tanpa menyandingkan opini sandingan sebagai penyeimbang.

Kedua, bersikap arif (bijaksana) dengan senantiasa memikirkan akibat setelah menerima opini sepihak. Terutama jika pengaruhnya sampai berdampak buruk terhadap marwah Islam. Terlebih modus dari kaum sekuler setelah melemparkan narasi adalah terus menerus menggoreng isu hingga tujuan mencitraburukkan Islam tercapai atau minimal penganutnya merasa bimbang terhadap kemuliaan agama yang diyakini selama ini. Ambil misal narasi tentang muslim Uighur yang diopinikan sebagai kelompok teroris dan kaum separatis yang harus dibumihanguskan dan dihilangkan.

Di dalam Al Qur'an surat Al Kahfi ayat 65-82 juga merepresentasikan tindakan bijak yang harus diteladani muslim manapun. Yaitu tatkala Nabi Khidir as secara hikmah melakukan perbuatan yang jika di nalar akal pasti menjadikan siapapun tidak mampu memahami. Tetapi hingga protes Nabi Musa as terjawab, ternyata Nabi yang memiliki ilmu 'laduni' tersebut sudah mempertimbangkan tindakannya terhadap dampak secara umum.

Maka dari itu jika ada kritik, saran apalagi solusi dari pihak manapun hendaknya oleh pihak terkritik menganggap secara arif sebagai pelecut evaluasi segala kebijakan yang berdampak kepada umat, lebih luas terhadap kemuliaan Islam itu sendiri. Jangan justru menganggap pengkritik sebagai musuh yang seakan mau mengambil haknya dan layak disingkirkan. Sementara para perampok aset negeri dibiarkan melenggang girang membawa hasil rampokannya.

Ketiga, memperhatikan track record personal maupun komunitas kaum sekuler yang gemar mengkriminalisasi gerakan Islam. Mau apapun namanya, aktivitas amar ma'ruf nahi mungkar telah menjadi nafas mobilitas suatu pergerakan yang menyebut dirinya pembela Islam. Dan suatu keniscayaan jika tersanding dengan kelompok kontra yang pada dasarnya tidak ingin kedudukannya bergeser walau sejengkal.

Sebagaimana telah dikabarkan di Al Qur'an surat An-nisa ayat 61 yang artinya, "Apabila dikatakan kepada mereka 'marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul', niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu".

Demikian dunia seakan berisi sejarah yang terus berulang. Hanya tokoh pemeran yang berganti nama. Artinya, sejak dulu hingga nanti, kaum sekuler selalu menolak hukum-hukum Allah untuk diterapkan keseluruhan dengan alasan bahwa (benar) kaumnya menginginkan perdamaian namun mereka khawatir jika terjadi perpecahan di antara anak bangsa. Tapi sepertinya mereka lupa bahwa pluralitas adalah keniscayaan yang harus dijaga dan demokrasi yang mereka puja pun meniscayakan wujudnya perbedaan itu sendiri. Namun mengapa karena alasan demokrasi juga, mereka mengkultuskan sekulerisme sebagai pijakan hidup dengan menyingkirkan kebenaran Islam sebagai asas sudut pandang segala sesuatu?

Di sisi lain slogan yang mereka propagandakan paling segalanya, nyatanya tidak sedikit pun mengurangi jumlah kasus yang menimpa kebanyakan mereka. Korupsi, suap, jual beli aset negeri hingga manipulasi prestasi yang sebenarnya sudah menjadi tupoksi yang wajib dijalani. Dan terbaru, kasus penembakan oleh kepolisian yang mengakibatkan kematian enam orang anak bangsa apakah lantas sesuai dengan sila ke dua, kemanusiaan yang adil dan beradab? Jika mau jujur, sejak awal kebangkitannya, sesungguhnya hanya Islam yang senantiasa mencintai perdamaian. Tetapi damai yang bersandar kehendak Ilahi. Bukan kepada kemauan akal manusia yang cenderung sarat perbedaan kepentingan.

Keempat, menahan emosi. Seorang muslim tidak boleh seketika terjerat amarah lalu bertindak anarki. Cukuplah bertindak sesuai aturan positif yang sedang berlaku. Sebagaimana ketika dakwah Islam periode Makkah yang betapa menuntut kesabaran ekstra tinggi. Namun bukan berarti sabar kemudian diam tidak bertindak apapun terhadap kedzaliman di depan mata. Tetapi respon sekaligus tindakan melawan kedzaliman tetap disandarkan dengan apa yang diteladankan Rasulullah ﷺ. 

Sekali lagi, seorang muslim tidak akan pernah terpancing hanya karena sekedar opini receh untuk kemudian bertindak ala bar-bar yang lambat laun bisa menghabisi dirinya sendiri. Artinya, melawanlah sesuai aturan syariat serta tidak pernah gentar menyediakan opini alternatif yang benar (Islam) dengan tetap menghindari hal yang tidak aman seperti jaring undang-undang ITE.

Kelima, memohon dengan do'a. Mengharap kebaikan merupakan salah satu sikap mukmin sejati yang meyakini adanya Allah ﷻ yang mengatur segala sisi keseharian manusia dan alam semesta. Sama halnya dengan penggunaan perangkat alternatif ketika sistem pertahanan adu kekuatan membutuhkan dukungan tambahan, betapa do'a juga sangat dianjurkan sebagai senjata pamungkas seorang mukmin. Sebagaimana hadits Nabi ﷺ, "Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi" (HR Abu Ya’la).

Namun apabila seseorang setelah berikhtiar serta berdo'a terkadang diliputi perasaan lelah dan putus asa karena usaha dan do'anya tak segera diijabah, maka di titik inilah peran berserah diri (tawakkal) pada kehendak Allah harus dilakukan. Sebab Allah ﷻ menilai amalan manusia dari sudut usaha tiap-tiap muslim. Sedangkan hakikat hasil adalah mutlak menjadi hak prerogatif-Nya.

Dengan demikian sudah menjadi kewajiban etnik muslim, berusaha menyelamatkan Islam dari tipu daya dan makar kaum fasik yang berharap munculnya keraguan dalam benak kaum muslimin atas keyakinannya. Kendatipun Islam belum pernah di beri panggung walau sebentar setelah keruntuhannya tahun 1924 M, sedangkan di saat bersamaan betapa kaum pembenci justru semakin memberangus dan mendzalimi, tetaplah selalu berdakwah serta yakin bahwa Allah yang maha membolak balikkan hati seseorang. Maka di situlah kemudian muncul suatu kekuatan maha Tunggal, yang amat Besar dan tak tertandingi oleh siapapun dan apapun yaitu kekuatan Allah ﷻ.[]

Oleh: Zainul Krian

Posting Komentar

0 Komentar