Antara Kebangkitan Islam dan Ketakutan Barat



Usai pernyataan  dari Presiden Prancis Macron yang menghina agama Islam dan nabi Muhammad SAW tempo lalu yang menuai kecaman dari umat Islam, Macron berulah lagi. Setelah banyak kecamanan bahkan tidak hanya kecaman tapi seruan boikot produk Perancis pun mulai merebak di mana-mana. Bahkan di Bangladesh dan Pakistan terjadi demonstrasi besar-besaran. Macron bukannya melunak dengan kecaman-kecaman ini justru membuat geram umat Islam lagi. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron di dalam salah satu surat kabar mengeluarkan ultimatum kepada Dewan Ibadah Muslim Prancis (CFCM/Conseil Fran├žais du Culte Musulman,) untuk menandatangani piagam "nilai-nilai Republik". 
Melalui ultimatum ini selama 15 hari ke depan Dewan Ibadah Muslim Perancis diminta untuk menandatangani kesepakatan tersebut. Ultimatum ini terjadi di tengah tuduhan bahwa pemerintah Macron menstigmatisasi Muslim menyusul tiga serangan teroris terpisah, yang dikutuk oleh masyarakat, Macron menginginkan agar CFCM menyatakan secara terbuka bahwa Islam hanyalah sebuah agama dan bukan gerakan politik. Selain itu, dia juga ingin menghentikan negara-negara muslim lain untuk membantu komunitas muslim Perancis yang terkepung dalam apa yang dipandang Paris sebagai "campur tangan asing".
(https://www.cnbcindonesia.com/news/20201122123829-4-203709/macron-ultimatum-muslim-prancis-apaan-lagi-nih) 

 Sebenarnya tidak hanya Perancis, permusuhan yang terjadi antar barat dan Islam tidak dapat dilepaskan dari akar sejarahnya. Perang salib telah membentuk pondasi awal sikap Barat terhadap Islam. Penaklukan Konstantinopel tahun 1453 M oleh Daulah Utsmani yang merambah sampai ke Eropa Timur menambah rasa kebencian Barat terhadap Islam. Terbukti kebencian ini berlangsung hingga kini,  gagasan Macron untuk membentuk front bersama Eropa melawan politik Islam itu kini dianut oleh para pemimpin Eropa lainnya.

Kanselir Austria Sebastian Kurz mendesak sesama pemimpin Eropa untuk membentuk front bersama melawan apa yang oleh sebagian pemimpin disebut “politik Islam.” Kurz mengatakan dia akan menempatkan masalah politik Islam dalam agenda pertemuan puncak Uni Eropa yang dijadwalkan akhir bulan ini. Dia mengatakan telah berbicara dengan Macron dan “banyak pemimpin pemerintah lainnya sehingga kami dapat berkoordinasi lebih erat di dalam UE.” Komentar kanselir Austria itu muncul setelah terjadinya penembakan di Wina pada hari Senin (voaindonesia, 6/11/2020).

Pernyataan para pemimpin Eropa jelas menunjukkan ketakutan mereka terhadap politik Islam. Maka dapat kita sadari pula bahwa Islam politik yang saat ini mereka serang adalah Islam yang hakiki, bukan Islam moderat yang sejalan kepentingan imperialisme barat. Kebangkitan politik Islam merupakan hal yang paling ditakuti oleh Eropa. Lantas kenapa hal ini amat ditakuti? Kota Wina, tempat terjadinya penembakan, adalah saksi ketika dulu Eropa pernah mati-matian mempertahankannya dari serangan tentara Khilafah Utsmaniyah.

Pada 22 September 1529, Pasukan Sultan Sulaiman mengepung  Wina. Pengepungan terhadap Wina terjadi selama 3 pekan. Pasukan Turki mencoba membobol gerbang setinggi 80 meter yang bernama gerbang Kaertner. Setelah bobolnya gerbang tersebut maka dimulailah pertempuran yang jika dilihat dari jumlah maka pasukan Austria akan kalah. Namun Sutan Sulaiman mengakhiri pertempuran.

Raja Ferdinand hanya diharuskan membayar jizyah kepada Sultan Sulaiman sebanyak 30,000 Gulden per tahun. Jizyah tersebut dibayar sebagai jaminan keamanan yang diberikan Khilafah pada Austria. Untuk melanjutkan keberhasilan Sultan Sulaiman, Sultan Muhammad IV berniat mengepung Wina untuk kedua kalinya. Pada 12 September 1683, Khilafah Utsmaniyah kembali mengepung Wina, namun gagal. Sejak itu, futuhat (pembebasan) Eropa berhenti hingga keruntuhan Khilafah.

Futuhat merupakan aktivitas militer keluar negeri yang dilakukan ketika dakwah Islam menemui halangan fisik (militer). Futuhat bertujuan menyebarkan Islam, bukan untuk tujuan materi sebagaimana penjajahan oleh Barat. Futuhat Islam telah dilakukan oleh Khilafah ke Eropa, hingga Islam tersebar di Cordoba, Granada, Toledo, Sevilla, Zaragoza, Barcelona, Aragon, dan Castillia. 

 Khilafah memang telah runtuh, tapi Austria hingga kini masih mengingat jelas kekuatannya. Sebuah kekuatan yang sangat menggentarkan Eropa, bukan semata karena besarnya jumlah, tapi lebih karena ruh Islam dalam diri para prajuritnya. Khilafah ditakuti Eropa bukan karena pernah berbuat zalim seperti menjajah, membantai, atau yang sejenisnya. Khilafah ditakuti justru karena melindungi negeri-negeri muslim dari imperialisme Eropa. 
Eropa di masa lalu kondang sebagai negara-negara penjajah yang menguras kekayaan di Asia dan Afrika dan memperbudak penduduknya. Pasca runtuhnya Daulah Utsmaniyah pada tahun 1924 wilayah Islam dibagi antara Inggris dan Prancis pada perjanjian Versailles. Dan hingga perang dunia kedua Amerika yang mengambil alih kepemimpinan dunia atas Inggris. 

Penjajahan terus berlanjut di dunia Islam. Kekayaan umat Islam dijadikan rebutan oleh Eropa dan Amerika. Dengan dalih menjaga perdamaian dunia, Barat mengintervensi urusan negeri-negeri muslim dan mendikte kebijakannya. Sejak era 2000-an, isu terorisme dijadikan legitimasi Barat untuk mengatur dunia Islam hingga mereka bisa menduduki Irak dan Afghanistan. 

Dunia dipaksa ikut kemauan Amerika. Isu terorisme seolah tongkat yang akan memukul siapa saja yang tak sesuai kemauan Barat. Menghadapi penjajahan Barat, dunia Islam tidak diam. Terjadi Musim Semi Arab pada 2011. Hingga kini, wilayah tersebut masih terus melawan penjajahan Barat, seperti di Suriah.

Musim semi Arab menjadi benih munculnya revolusi Islam. Meski revolusi ini dibajak oleh Barat dengan naiknya agen Barat yang satu menggantikan agen Barat yang lain, opini perlawanan terhadap penjajah Barat masih menggema. Hal ini membuat Barat -termasuk Eropa- khawatir. Mereka khawatir jika Islam bangkit seperti dahulu, dan melengserkan hegemoni mereka, dan membebaskan dunia Islam. Yang mereka takuti adalah kebangkitan Islam yang sesungguhnya, Islam yang hakiki yang mengatur  dengan segala hidupnya dari urusan pribadi hingga berpolitik. 

Inilah kenapa akhirnya Macron mengeluarkan ultimatum yang isi piagamnya  harus diterima Dewan Kepercayaan Muslim Prancis (CFCM). "Dua prinsip akan tertulis hitam di atas putih dalam piagam itu, yakni penolakan atas politik islam dan campur tangan asing," kata satu sumber kepada surat kabar Le Parisien setelah pertemuan itu, dilansir di BBC, Jumat (20/11).

Kebangkitan Islam seperti dulu yang mereka khawatirkan, sehingga memaksa agar Islam hanya sebuah agama saja seperti mereka tidak berhak untuk mengatur yang lainnya. Gambaran islam yang sesungguhnya telah mereka hapuskan dengan gambaran islam yang moderat yang harus toleran berbaik hati dengan para penghina nabi. 

Demikian menyedihkan kondisi umat Islam saat ini. Bahkan ketika Rasulullah Saw. dihina, kita tak sanggup membungkam mulut pelaku dan menyerang negara yang melindunginya. Seruan boikot dan kecaman tak akan berpengaruh banyak. Bisa jadi produsen barang-barang itu kelabakan hingga mengemis untuk menghentikannya, tapi langkah ini tidak akan pernah membuat kapok para pembenci Islam. Sebenarnya di dalam Islam sudah jelas mengatur tentang perlakuan terhadap negara-negara kafir. 

Saat ini para pemimpin negara muslim pun tak kuasa melakukan apa-apa kecuali dengan kecaman atau boikot, karena mereka sudah tersandera oleh para penjajah. Sungguh kita kembali merindukan pemimpin seperti dahulu, pemimpin yang berani mengumumkan perang melawan kafir harbi, pemimpin yang mampu membela kemulian Rasulullah SAW dan kehormatan Islam. Pemimpin inilah yang kemudian akan ditakuti munculnya oleh barat sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk menghalaunya. 

Pemimpin yang akan menerapkan Islam secara sempurna. Tentu kita sebagai umat Islam merindukan hadirnya pemimpin ini. Tidak ada jalan lain untuk umat Islam bangkit dari keterpurukannya, bangkit dari aturan jahiliah, lalu kembali kepada aturan Allah SWT. Karena hanya dengan menerapkan aturan Allah secara keseluruhan akan mampu menghentikan segala bentuk serangan kafir Barat terhadap Islam dan kaum muslimin. Wallahu’alam Bisshawab.[]


Oleh: Astari Rizky Dini Andiny, S.IP

Posting Komentar

0 Komentar