Anda Sudah Berulang kali Dikecewakan, Tetapi Kenapa Anda Mau Berulang kali Dikhianati Demokrasi?



Salah satu jampi sihir yang membelenggu umat tidak segera beranjak dari keterpurukannya, adalah ungkapan mitos yang selalu diulang-ulang, seolah akan memberikan harapan. Misalnya saja, baru saja Umat ditipu dalam Pilpres 2019, belum selesai berbagai duka dan nestapa karena Pilpres, kemudian ada yang menghembuskan jampi sihir "kita akan ambil perbaiki itu nanti di Pilpres 2024".

Kemudian, umat diajak sibuk mencari tokoh ini dan itu untuk didukung menjadi Capres. Walaupun akhirnya, Umat kembali kecewa karena yang menentukan capres bukan umat tetapi partai politik.

Sebaik apapun calon jika tidak didukung partai, akan tereliminasi. Partai juga tidak mempertimbangkan kepahaman calon akan Islam atau urusan ketaatan. Yang penting calon ada dukungan kapital, yang akan membiayai pencalonan.

Pada saat parpol tidak mampu membiayai sendiri calon, masuklah oligarki kapitalis membiayai Pilpres. Dengan kompensasi, setelah terpilih sebagai presiden harus mengabdi pada para kapitalis, bukan kepada rakyat. UU Cipta Kerja salah satu buktinya.

Kemudian, Umat diajak mendukung dan mengedarkan partai yang akan memperjuangkan Islam. Partai berdalih tak mampu membela Umat karena suara yang kecil. Padahal, pada banyak isu keumatan partai juga meninggalkan umat dan terjebak logika kekuasaan. Misalnya, saat umat ingin menunda Pilkada karena alasan pandemi, semua partai termasuk yang mengaku partai Islam juga ikut mendukung Pilkada.

Setiap selesai Pilkada, Pemilu maupun Pilpres, jumlah orang yang kecewa pasti lebih banyak daripada yang bahagia. Sebab, yang kalah lebih banyak, yang ditipu lebih banyak, dan rakyat yang dikhianati oleh kampanye juga lebih banyak lagi.
 
Tapi begitu gelaran Pilkada, Pemilu dan Pilpres dibuka kembali, umat ini kembali berduyun-duyun mendatangi bilik persegi. Kembali memberikan suara, walaupun sadar suara itu pasti akan dikhianati. Lalu, sampai kapan umat ini tersadar ? Sampai kapan, umat Muhammad Saw yang mendapat gelar Khairu Ummah akan benar-benar mulia ?

Sudahlah wahai umat, tinggalkan demokrasi dan seluruh atributnya. Tidakkah kalian rindu diatur dengan Islam ? Tidakkah kalian rindu sosok pemain seperti Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA dan Ali RA ? Sosok seperti mereka hanya ada dalam sistem Khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah. Sosok seperti mereka, mustahil lahir dari rahim demokrasi sekuler yang penuh dengan kezaliman.

Kalian memiliki Nabi, tapi dalam politik kalian mengikuti petunjuk Montesqueu. Kalian memiliki Al Qur'an dan as Sunnah, tapi dalam bernegara kalian justru mengikuti UU rakyat. Kalian memiliki ulama sekelas Imam Malik, Syafi, Hanafi dan imam Ahmad bin Hambal. Tetapi dalam politik, kenapa kalian merujuk ulama barat ?

Yang jelas, kalian ini manusia yang dikaruniai akal dan fikiran. Bukan hewan ternak yang kerjanya cuma mencari makan. Terapi kenapa, kalian mau berulang kali ditipu demokrasi ? Jangan-jangan kalian sebenarnya tidak inginkan Islam, hanya berburu kekuasaan dan harta dunia ?

Saya berulang kali, dan tak akan ada bosannya untuk mengajak segenap umat ini untuk memperjuangkan Islam dengan menegakkan sistem Khilafah. Tegaknya sistem Khilafah juga bukan dengan demokrasi, Pilkada, Pemilu dan Pilpres. Akan tetapi, dengan dakwah sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Sudahlah wahai umat, akhiri semua kekecewaan ini. Segeralah menuju Rahmat Allah SWT, menuju ridho Nya, dengan berjuang menegakkan Khilafah.[]


Oleh: Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Posting Komentar

0 Komentar