Anak Pak Lurah Wajib Dihukum Jika Bersalah


Meski berada di penghujung tahun, ternyata dugaan kasus korupsi belum mereda. Tagar Tangkap Anak Pak Lurah sempat trending di media sosial. Tagar yang dikaitkan dengan putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka yang namanya dikaitkan dengan dengan korupsi bantuan sosial (bansos) covid-19 yang menjerat mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara (nasional.okezone.com, 21 Desember 2020).
 
Kasus korupsi sudah hampir menjadi tradisi di negeri ini. Tak perduli dengan tanggung jawab yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan rakyat, karena negara ini telah mengidap penyakit sekularisme akut. Terbukti, saat pandemi yang berimbas kepada menurunnya perekonomian negara. Bansos covid-19 yang diharapkan membantu sejenak penderitaan rakyat justru diselewengkan oleh Menterinya sendiri. Terbukti, mantan Mensos Juliari Batubara telah ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai Tersangka.

Korupsi Tumbuh Menjamur Karena Demokrasi

Hari antikorupsi baru saja dilewati 9 Desember 2020 kemarin, bahkan Pemerintah Indonesia melalui KPK melakukan peringatan Hari Korupsi Sedunia (Hakordia) dengan membuat logo Hakordia 2020. KPK yang sempat wangi dengan berhasil menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan dan Menteri Sosial ternyata ternoda dengan Laporan yang diterbitkan Transparency In International (IT) yang menempatkan Indonesia sebagai Negara peringkat 3 juara korupsi di Asia, di bawah India dan Kamboja (Rmco.id, 2 Desember 2020).

Peringkat juara yang memalukan bagi Negara yang bersemboyankan Ketuhanan Yang Maha Esa. Meskipun tak dipungkiri, kasus korupsi sudah menjadi tontonan yang sudah biasa dinikmati oleh rakyat yang hidup di Negeri mayoritas Muslim ini. 

Biaya politik yang mahal dalam demokrasi menjadi salah satu faktor terbesar menjamurnya korupsi di Negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum, praktik mahar politik ketika menggandeng partai politik pengusung menuju kursi jabatan termasuk praktik jual beli suara untuk memenangkan pertarungan politik di suatu wilayah akan membuat jiwa-jiwa calon pemimpin tamak. Mereka pasti akan memikirkan bagaimana agar modal kembali termasuk modal ke pencalonan selanjutnya di periode berikutnya. 

Jika para petarung jabatan politik tidak memiliki dana, sokongan dana dari para cukong akan diterima. Kucuran dana besar dari para cukong ini akan menuntut kompensasi maksimal, mulai pemenangan tender strategis hingga penerbitan undang-undang yang hanya menguntungkan sepihak bagi mereka tapi tidak untuk rakyat keseluruhan. 

Belum lagi perlakuan saat mereka ditangkap karena terbukti korupsi. Keringanan hukuman karena kebijakan ajaib Negeri ini, mulai dari program asimilasi, pengurangan hukuman atau remisi.

Anak Raja di Hadapan Islam

Rasulullah SAW adalah suri tauladan terbaik sebagaimana firman Allah SWT,

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَة...

Artinya: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik...” (TQS Al Ahzab: 21).

Rasulullah SAW telah mencontohkan secara sempurna bagaimana menangani para pencuri ataupun koruptor tanpa memandang latar belakang pelakunya. Pada masa Fathul Makkah, seorang perempuan bernama Fatimah dari kalangan bangsawan Bani Makhzum mencuri. Sehingga kejadian ini menghebohkan pada saat itu. Kemudian mereka merundingkan perkara aib besar ini kepada sahabat Usamah Bin Zaid meminta syafa’at ataupun ampunan dari Rasulullah SAW.

Ketika Usamah Bin Zaid yang dicintai oleh Rasulullah SAW menyampaikan keinginan keluarga perempuan Bani Makhzum ini, lantas Rasulullah SAW berkata, “Apakah Engkau hendak membela seseorang agar terbebas dari hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT?”

Lalu Rasulullah SAW berdiri dan bersabda, “Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang yang terpandang mencuri, mereka dibiarkan. Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di Tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang memotong tangannya.” (HR Bukhori no. 4304)

Dari sini tampak jelas tidak ada perbedaan antara rakyat biasa maupun Anak Pak Lurah. Semuanya sama di mata hukum. Ketegasan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW merupakan suri tauladan yang wajib untuk diikuti, sehingga keadilan tercipta tanpa memilih dan memilah. Pada sistem mana lagi ini akan terwujud selain dalam sistem Islam sebagaimana yang Rasulullah SAW contohkan? []

Oleh: Novida Sari

Posting Komentar

0 Komentar