Wahai Umat, Janji Biden Hanya Siasat!


Riuh rendah publik menyambut kemenangan Biden ternyata tak terbatas di Amerika Serikat saja. Sejumlah suara dari generasi muslim di tanah air pun tak ketinggalan. Rupanya, hal ini disebabkan sikap dan janji Joe Biden yang dirasa lebih ramah kepada Islam ketimbang Trump. 

Namun demikian perlu dilihat lebih lanjut, apa yang mendasari sikap dan janji tersebut sehingga bisa disikapi secara proporsional. Sebelum Pilpres digelar, Farooq Mitha, penasihat senior kampanye Biden untuk keterlibatan Muslim Amerika menyatakan “Pemungutan suara Muslim adalah bagian dari strategi kami untuk menang. Meski jumlah muslim di AS hanya sekitar satu persen dari total populasi negara (3,45 juta jiwa), akan tetapi sangat memengaruhi hasil pilpres. Mereka terkonsentrasi  di negara bagian penting dan medan pertempuran, seperti Michigan, Florida, Wisconsin, dan Pennsylvania (Gatra.com/ 20 Oktober 2020).

Di sinilah ada kebutuhan untuk mengangkat isu-isu yang dianggap penting dan menunjukkan "keberpihakan" kepada komunitas muslim. Masih menurut Mitha, dalam kepentingan inilah Biden menyiapkan agenda bagi komunitas Muslim Amerika di antaranya berupa penghapusan larangan perjalanan (travel ban) terhadap Muslim dan menangani  kejahatan  rasial yang mereka alami. Di satu sisi pasca 9/11, Partai Republik dianggap lebih memusuhi Islam sehingga kecenderungan pemilih muslim kepada Partai Demokrat makin besar. Jadi potensi ini tak mungkin disia-siakan jika Biden ingin menang. 

Pertanyaan yang muncul berikutnya, sejauh mana agenda-agenda tersebut bisa diwujudkan dalam kepemimpinan Biden? Amerika Serikat merupakan negara federasi konstitusional yang bertolak belakang dengan bentuk negara monarchi absolut. Sebagaimana negara Demokrasi yang lain, AS tidak memberikan wewnang mutlak kepada figur presiden. Dengan demikian, kalaulah memang Joe Biden berniat mewujudkan agendanya kepada komunitas Muslim AS, dia bukanlah raja diraja yang menentukan secara penuh kebijakan AS. 

Di sisi lain, dalam atmosfer kapitalistik di mana berlaku ungkapan "tak ada kawan dan lawan yang abadi, melainkan kepentingan yang abadi", realisasi suatu janji/program dalam kampanye akan terikat kuat dengan persepsi tentang kepentingan itu. Bukankah sudah tak terhitung bukti di mana janji-janji surga yang begitu rupa dalam suatu strategi untuk meraih dukungan massa dalam Demokrasi, tak pernah benar-benar terwujud? Bila hal itu tak lagi dianggap sebagai kepentingan yang sejalan dengan kekuasaan. Inilah ironi Demokrasi. 

Lebih dari itu semua, pergantian antara Partai Republik dan Partai Demokrat dalam menduduki kepresidenan hanyalah pergiliran kekuasaan yang berimbang. Keduanya tak pernah mengeluarkan AS dari posisinya sebagai pengemban Ideologi Kapitalisme. Imperialisme atau penjajahan merupakan metode baku penerapan dan penyebaran kapitalisme (Mafahim Siyasiyyah li Hizbi at Tahrir,, Taqiyuddin an Nabhani, hal 9). Dengan begitu, entah presiden dari kader Republik atau Demokrat tak akan mengurangi kadar aktivitas imperialistiknya terhadap dunia. Tak terkecuali terhadap dunia Islam. 

Terlebih setelah runtuhnya Uni Soviet yang mengantarkan AS menjadi adidaya tanpa pesaing. Hal ini menjadikan raksasa ini merasa superior atas negara lain. Kesan ini bisa dibuktikan dari pernyataan-pernyataan arogan politisi AS. Madeleine Albright, Menlu AS di masa Clinton pernah berujar ".... Tidak ada hambatan-hambatan yang menghadang jalan kami, karena dunia adalah milik kami, dunia adalah milik orang-orang Amerika". Bertolak dari pandangan inilah, AS menjalankan politiknya. Termasuk membuat berbagai rancangan hegemonik di berbagai kawasan. 

Hal ini menunjukkan siapa pun presidennya, AS akan tetap memaknai eksistensi dirinya sebagai pemilik dunia, pemimpin bahkan polisi dunia. Pergantian sosok presiden hanya berdampak pada perubahan "langgam" imperialisme. Hanya beralih dari penggunaan hard power seperti yang tampak pada kebijakan Trump dan pendahulunya dari kalangan Republikan seperti George W Bush, ke soft power hingga smart power seperti yang dijalankan Obama. 

Oleh karena itu tak semestinya umat terkecoh dengan naiknya Biden menggantikan Trump. Sudah sepatutnya umat fokus pada agendanya sendiri untuk mengembalikan izzul Islam wal muslimin dengan kembalinya Khilafah sesuai metode kenabian. Di situlah tertambat kemuliaan bagi umat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا ۗ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْـكَلِمُ الطَّيِّبُ وَا لْعَمَلُ الصَّا لِحُ يَرْفَعُهٗ ۗ وَ الَّذِيْنَ يَمْكُرُوْنَ السَّيِّاٰتِ لَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ ۗ وَمَكْرُ اُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُوْر

"Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur."
(QS. Fatir 35: Ayat 10).[]

Oleh: Hayatul Mardhiyyah

Posting Komentar

0 Komentar