TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Urgensi Khilafah Agar Penghina Nabi SAW Jera



Berulang kali Islam dilecehkan, dihina, dan diolok-olok. Berulang kali pula negeri muslim mengecam, mengutuk, dan memboikot. Namun, apakah dengan kecaman itu Prancis kapok? Apakah dengan pemboikotan, negara mereka bangkrut? Apakah dengan pengusiran duta besar, Prancis takut? Sampai sekarang mereka tetap baik-baik saja. Malah bertambah arogansinya. Tak merasa salah dan enggan meminta maaf. 

Semua berlaku atas nama kebebasan. Meski demikian, kita patut mengapresiasi respons umat yang marah karena Nabi Saw. dihina. Ekspresi itu ditunjukkan dengan kecaman, kutukan, pemboikotan produk, dan tuntutan pengusiran duta besar Prancis.Hanya saja, umat Islam dunia bagai buih di lautan. Banyak, tapi tak memiliki kekuatan. Hanya berbekal lisan dan seruan. Tapi lemah menghadapi penghinaan Nabi Saw. yang dilakukan kaum kafir.

Andai saja Erdogan, Jokowi, raja Saudi, Presiden, Perdana Menteri negara Arab dan negeri Islam lainnya menyatukan seruannya mengancam akan memerangi Perancis bila tak berhenti menerbitkan karikatur Nabi Saw, barulah Perancis mungkin akan takut. Sayangnya, sekat nation state memustahilkan hal itu.Yang dilakukan pemimpin muslim itu sekadar mengecam. Adakah pemimpin-pemimpin muslim berani memutus hubungan diplomatik dan menyeru jihad kepada kaum muslim? 

Sebagaimana yang sudah pernah terjadi, panasnya bela Nabi Saw akan menyurut seiring berjalannya waktu.Inilah kelemahan umat. Tersekat oleh paham nasionalisme. Tak punya kekuatan bersatu padu melawan dan menekan Prancis ataupun Barat baik secara politik maupun ekonomi. Para pemimpin muslim lebih memikirkan dampak buruknya bila terus berkonfrontasi dengan Prancis. Mereka lebih mengutamakan kepentingan nasional negara masing-masing dibanding membela kehormatan Nabi Saw.

Bersatu kita kuat, bercerai kita lemah. Nasionalisme telah mengerat tubuh umat Islam menjadi puluhan negara. Dahulu saat Khilafah masih digdaya, Perancis yang ingin mengadakan teater mengenai Nabi Saw pun dibuat merinding dengan ancaman Khalifah Abdul Hamid II. Muruah kaum muslim disegani dunia saat Khilafah masih berdiri tegak. Namun, kemuliaan itu sirna setelah Khilafah hancur akibat paham nasionalisme. 

Barat membagi-bagi wilayah Khilafah dengan konsep nation state. Mengoyak tubuh Khilafah menjadi bagian-bagian kecil negeri muslim sebagaimana kita saksikan hari ini. Umat pun tercerai-berai. Tersandera kepentingan nasional masing-masing. Tersebab Islam tak memiliki kekuatan politik yang mampu menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan tunggal.

Menghadapi negara bebal seperti Prancis itu harus dengan kekuatan yang mampu menandingi kedigdayaan mereka. Pernyataan Macron mestinya menyadarkan kita semua bahwa tanpa kekuatan politik, umat tak berdaya. Tanpa institusi yang menjalankan politik pemerintahan, Islam akan terus ditindas dan dihina.

Umat butuh persatuan. Bukan hanya persatuan karena bersatunya perasaan, namun juga bersatunya pemikiran. Tatkala perasaan dan pemikiran menyatu, bukan tidak mungkin rumah besar umat akan terwujud. Ya, rumah besar kita sebagai umat terbaik adalah Khilafah Islamiyah, bukan demokrasi sekuler. 

Umat membutuhkan persatuan politik dan ukhuwah Islam. Agar bermunculan kembali sosok sultan Sulaiman Al Qanuni yang disegani Barat. Agar terlahir kembali sosok khalifah Abdul Hamid II yang tegas membela kehormatan Rasulullah dan Islam. Khilafah menjadi urgensi yang tak bisa ditunda lagi. Dengan Khilafah, penghina Nabi Saw merasakan efek jera. Tanpa Khilafah, Islam hanya akan jadi tempat bully-an para pembencinya.[]


Oleh: Tatik Ummu Zakrina

Posting Komentar

0 Komentar