+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Ulama Ini Bantah Logika Berbahaya yang Sebut Aksi Damai Haram



TintaSiyasi.com--Menyoal pandangan bahwa aksi damai haram dilakukan karena tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW, Ulama, Peneliti Kajian Tsaqafah Islamiyyah, Tafsir, Balaghah, Ustaz Irfan Abu Naveed membeberkan bahwa itu logika berbahaya.

"Ini logika berbahaya, berbicara tentang hukum yang disimpulkan dari perbuatan Nabi SAW tanpa dasar ushuli, simplifikasi bi al-jahli. Padahal siapa pun paham, tidak setiap perkara mubah lantas bisa sembarangan divonis haram hanya karena tidak ada dalil spesifik dari nash syara'," tulisnya dalam akun Facebook Irfan Abu Naveed, Jumat (6/11/2020).

"Bolehnya dakwah di Facebook, bikin yayasan dakwah, kajian rutin kitab al-Tauhid setiap Senin pukul 20.00-22.00 WIB, memangnya ada dalil spesifik dari nash syara' yang menyebutkan itu semua?" tambahnya.

Sebelumnya ia prihatin, terdapat wahm (dugaan lemah/keliru) di tengah gelombang protes kaum Muslim atas kejahatan penistaan Prancis yang mengatakan tidak boleh aksi damai karena tidak pernah dicontohkan Nabi SAW.

Menurutnya, membahas Islam dan mengkritik penistaan dalam aksi damai, tidak ada bedanya dengan pengajian membahas Islam dan kritik penistaan di Masjid atau live kajian online.

"Sama-sama dihadiri orang banyak cuma beda tempat dan medianya saja kok, mikir simple ushuli model begitu tidak susah. Apa tak bisa mikir lebih kompleks ya?" tegasnya.

Selanjutnya ia membeberkan tiga bantahan terhadap wahm (dugaan lemah/keliru) sebagai berikut.

Pertama, aksi damai bukan perkara terlarang. Menurutnya, aksi damai bisa menjadi uslub muhasabah al-hukkam (mengoreksi penguasa) secara terbuka yang boleh dilakukan sesuai situasi, kondisi, dan ke-maslahatan-nya. 

"Yakni dalam rangka menunjukkan protes keras atas penistaan, serta kritik atas diamnya orang yang memiliki kekuasaan (tidak bertindak nyata). Artinya, bisa menjadi uslub untuk menegakkan al-amr bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-munkar dan muhasabah al-hukkam," jelasnya.

Padahal sebelumnya, ia memaparkan dalam banyak tulisan, artikel dan buku, sudah ia hadirkan dalil-dalil kebolehan muhasabah al-hukkam  (mengoreksi penguasa) secara terbuka dari perbuatan salaf. "Makanya baca, ngaji lebih luas literasi," sanggahnya.

Kedua, ia menjelaskan bahwa di zaman Nabi SAW sudah tegak institusi Islam yaitu khilafah yang akan menghukum penghina Nabi SAW.  

"Di zaman Nabi SAW negara kafir harbi pelaku penistaan bisa langsung diperangi, individu kafir penista pun bisa langsung di eksekusi, karena kekuasaan Islam tegak pada waktu itu. Lalu buat apa aksi damai? Lah, mampu menegakkan jihad dan hukuman kok, ya tak perlu aksi damai, langsung solusi inti, sikon-nya (situasi dan kondisi) tidak relevan ya bukan berarti haram, mikir ushuli simple model begini susah ya?" tandasnya.

"Untuk setiap peristiwa, ada tutur kata (yang sesuai) untuknya," tambahnya.

Ia menyayangkan ada sikap terlalu polos bicara soal hukum yang diambil dari perbuatan Nabi SAW dan menutupi keawamannya dengan berdusta mengatasnamakan Nabi SAW.

"Apa yang tidak Beliau SAW lakukan dahulu berarti haram", comot kaidah darimana itu? Ketidaktahuan terhadap dalil bukanlah dalil tidak adanya dalil," tegasnya.

Ketiga, sekarang belum tegak kekuasaan Islam. Menurutnya, umat Islam wajib aktif berupaya tegakkan khilafah. Karena baginya, khilafah sebagai penjaga kehormatan Islam dan penegak sanksi riil bagi pelaku penistaan (negara/individu).

Ia menyadari, sekarang tidak ada satu pun negara yang bisa mewakili khilafah dalam menjaga kehormatan Islam. Oleh sebab itu menurutnya, umat harus aktif muhasabah al-hukkam (mengoreksi penguasa) dan berupaya mewujudkan kesatuan umat dengan menegakkan khilafah 'ala minhaj al-nubuwwah (khilafah sesuai tuntunan Nabi).

"Terus apa yang dilakukan umat? Cuma diam main facebook-an? Yang benar saja! Umat Islam wajib melakukan berbagai hal yang bisa dilakukan, salah satunya aksi protes atas penistaan tersebut," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar