+
TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

UEA Bolehkan Miras dan Kumpul Kebo, Iffah Ainur Rochmah: Inilah Akibat Kampanye Beracun Moderasi Islam



TintaSiyasi.com--Terkait Uni Emirat Arab (UEA) yang akan membolehkan minum-minuman keras (miras) yang mengandung alkohol dan kumpul kebo atau tinggal bersama kekasih sebelum menikah, Aktivis Muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah memandang ini akibat kampanye beracun moderasi Islam.

"Saya kira ini adalah hasil dari kampanye beracun yang secara global menimpa dunia Islam yang berasal dari negara-negara Barat yaitu apa yang disebut sebagai moderasi. Moderasi Islam salah satunya," ujarnya kepada TintaSiyasi.com, Kamis (12/11/2020).

Menurutnya, moderasi Islam itu bukan lahir dari ajaran Islam, tapi sebuah ajaran baru yang mengada-ada dan meracuni kaum muslimin dengan pandangan-pandangan menyesatkan. 

Ia juga menjelaskan bahwa pandangan-pandangan ini sejalan dengan kepentingan Barat kapitalis dan kolonialis.

"Apa itu moderasi Islam, adalah pandangan-pandangan yang dipaksakan kepada kaum Muslimin, bahwa Islam yang disebut sebagai Islam moderat itu adalah Islam yang ramah terhadap nilai-nilai Barat, atau yang sejalan dengan kepentingan-kepentingan dunia Barat yang kapitalistik bahkan kolonialis," jelasnya.


Wujud Penentangan terhadap Ajaran Islam

Ia juga menilai, akibat racun moderasi Islam inilah, UEA semakin berani menunjukkan penentangannya terhadap syariat Islam. Padahal sebelumnya, menurutnya, UEA membolehkan minuman keras hanya untuk orang-orang non Muslim.

"Ini menunjukkan semakin berani dan semakin besarnya atau semakin terbukanya penentangan terhadap ajaran Islam atas nama moderasi, atas nama Islam moderat atau moderasi tadi," tandasnya.

Kondisi ini menurutnya, hal yang sangat buruk yang menimpa negeri kaum muslimin, karena meskipun di dalamnya banyak hidup warga asing dari Eropa dan Amerika, tetap saja identitas UEA adalah negeri muslim yang penduduk aslinya adalah orang-orang Arab yang beragama Islam. 

"Karena itu, ini adalah sebuah fitnah bagi kaum muslimin, yaitu sebuah ujian besar, sebuah kondisi buruk yang menimpa kaum muslimin," ungkapnya.

Namun ia juga menegaskan, meskipun UEA merupakan negeri Muslim yang warga negaranya mayoritas Muslim, ini tidak menunjukkan UEA adalah representasi negara yang memberlakukan syariat Islam.

"Nah, memang hukum-hukum syariat sebagian ada yang diadopsi sebagai hukum negara atau sebagai hukum positif di negeri tersebut. Tetapi sesungguhnya UEA tidak bisa merepresentasikan diri sebagai sebuah negara Islam. Karena apa? Karena banyak juga hukum-hukum yang dipraktekkan di negara tersebut yang tidak bersumber dari Islam," lanjutnya.

Bahkan, ia juga mengingatkan pengkhianatan UEA sebelumnya terhadap kaum Muslimin. "Sebelumnya UEA juga sudah menunjukkan pengkhianatannya terhadap kaum Muslimin dan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya dengan normalisasi hubungannya dengan Israel," bebernya.


Kebutuhan Memperjuangkan dan Mewujudkan Khilafah Islamiyah

Aktivis Muslimah ini menegaskan, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kaum muslimin dan mendorong memperjuangkan terwujudkan sistem khilafah Islamiah. "Karena itu, ini seharusnya mendorong kaum muslimin untuk bergiat memperjuangkan segera terwujudnya sistem khilafah Islamiah," tegasnya.

Karena menurutnya, selama belum memiliki institusi politik yang menerapkan Islam secara keseluruhan (kaffah), umat Islam tidak memiliki jaminan kehidupan meskipun hidup di negeri mayoritas muslim dan sekalipun memiliki pemimpin muslim.

Dan ketika khilafah tegak, ia yakin, kaum Muslimin akan terjamin penjagaan agamanya dan syariat diterapkan dalam aspek kehidupan. "Kemudian ada jaminan penjagaan terhadap agama mereka, penjagaan terhadap syariat yang dipraktekkan di aspek kehidupan mereka," pungkasnya.[] Liza Burhan dan Dewi Srimurtiningsih

Posting Komentar

0 Komentar