Tidak Ada yang Bisa Dibanggakan dari Demokrasi



Lembaga Indikator Politik Indonesia mencoba memotret kondisi demokrasi di Indonesia melalui survei opini publik. Salah satu yang menjadi variabel yakin hak menyatakan pendapat. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, pihaknya menanyakan setuju tidaknya responden dengan adanya pernyataan bahwa warga makin takut dalam menyatakan pendapat. "Hasilnya 21,9 persen sangat setuju; 47,7 persen agak setuju, 22 persen kurang setuju; dan 3,6 persen tidak setuju sama sekali," tutur Burhanuddin saat diskusi virtual, Minggu (25/10). (Www. Merdeka.com)

Kesenjangan yang terjadi di negeri ini terpapar nyata antara penguasa dan rakyat terbangun tembok yang begitu tinggi sehingga tidak terjalin komunikasi yang baik antara penguasa dan rakyat. Penguasa merasa benar dan semua kebijakan yang dikeluarkan harus dipatuhi tanpa adanya penolakan.

Tidak ada lagi kata pemimpin mengayomi rakyat dan mendengarkan semua keluh kesah rakyat, yang ada saat ini bagaimana rakyat harus taat patuh kepada semua kebijakan negara walaupun kebijakan itu tidak berpihak terhadap rakyat. Sedangkan rakyat harus menerimanya dengan lapang dada walaupun rakyat harus hidup susah kehilangan pekerjaan, harta, bahkan keluarga harus rela mati untuk menerima kebijakan pemerintah.

Rakyat semakin sengsara tanpa mampu lagi untuk membela diri. Ketika rakyat ingin protes dengan kebijakan penguasa, maka dicap radikal, pembangkang dan makar akan disematkan kepada mereka. Tidak hanya itu bahkan mereka akan mendapatkan sanksi sosial dengan bully, bahkan ada yang sampai dikriminalisasi.

Apakah ini yang disebut sebagai kedewasaan dalam berdemokrasi? Jika benar negeri ini menganut sistem demokrasi, apakah ini sudah sesuai dengan slogan demokrasi yaitu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat? Apakah dengan menakuti dan menindas rakyat itu sesuai dengan demokrasi? Sejak awal konsep ini sudah batil.

Faktanya selama demokrasi diterapkan dibelahan dunia manapun tidak ada yang namanya keadilan dan kebebasan bagi rakyat. Rakyat selalu menjadi  korban kedzoliman atas nama Demokrasi oleh penguasa.

Beda dengan sistem Islam yang terbukti berhasil selama ratusan tahun dalam menciptakan keadilan serta keamanan bagi rakyatnya tanpa adanya ke senjangan di antara rakyat.

Bahkan dalam banyak ayat dijelaskan bagaimana seharusnya pemimpin bersikap.

۞ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٲمِينَ بِٱلۡقِسۡطِ شُہَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ أَوِ ٱلۡوَٲلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَ‌ۚ إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرً۬ا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِہِمَا‌ۖ فَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلۡهَوَىٰٓ أَن تَعۡدِلُواْ‌ۚ وَإِن تَلۡوُ ۥۤاْ أَوۡ تُعۡرِضُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرً۬ا (١٣٥)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kerana ingin menyimpang darikebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.” (QS. An-Nisa’ [4]: 135).

Ketidakadilan hanya akan mengakibatkan terjadinya kerusakan, orang yang salah diberi amanah, sedangkan orang yang benar dituduh sebagai pembuat onar. Ketidakadilan akan semakin mempercepat terjadinya kericuhan, kegaduhan bahkan kehancuran jika dilakukan oleh seorang pemimpin atau penguasa, sementara tidak ada satu pihak pun yang memberikan perimbangan pendapat.
Wallahu a'lam.[]


Oleh: Lutfiatul Hasanah -Surabaya

Posting Komentar

0 Komentar