Terungkap! Target Revolusi Akhlak adalah Bangun Peradaban Islam



TintaSiyasi.com-- Konsep revolusi akhlak yang dikemukakan oleh Habib Rizieq Syihab diperjelas oleh Majelis Syura DPP FPI KH.Tb Abdurrahman Anwar AI Bantany, S.H., M.H., bahwa target dari revolusi akhlak adalah membangun kehidupan Islam dari timur sampai barat dengan akhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

"Salah satu target yang diinginkan di dalam revolusi akhlak itu antara lain mencontoh dan meneladani Rasulullah sebagai pemimpin revolusi akhlak. Mencontoh keagungan dan kemuliaannya di dalam mengemban misi Islam, di dalam mengemban misi kehidupan merubah peradaban dari timur sampai barat, merubah nilai-nilai kemanusiaan dari timur sampai barat dengan akhlak yang mulia," tuturnya dalam acara FGD #13 PKAD: "Revolusi Akhlak, Apa dan Bagaimana?" di akun Youtube Pusat Kajian dan Analisis Data, Sabtu (14/11/2020).

Menurutnya, keberhasilan Rasulullah SAW telah disebut oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an sebagai bapak revolusi akhlak. Ia menjelaskan, bapak revolusi akhlak adalah insan yang memiliki akhlak yang mulia, sempurna, dan agung. "Dengan keagungan dan kesempurnaan akhlak Baginda Rasul berhasil membangun peradaban kemanusiaan dari timur sampai barat," ungkapnya.

Selain itu, target dari revolusi akhlak, menurutnya adalah menjalankan dan menerapkan apa yang diterapkan Rasulullah SAW dalam revolusi akhlak. Ia memaparkan, Indonesia ini merdeka tidak lepas dari peran ulama dan umat Islam. 

Selain itu ia mengatakan, umat Islam adalah pemegang saham terbesar di negara ini, sehingga kontribusinya sangat besar bagi bangsa ini. "Indonesia ini merdeka ditebus dengan darah ulama, darah santri dan darah pesantren. Wajar, kita menuntut agar bangsa ini dikembalikan kepada revolusi akhlak," ujarnya. 

Ia menilai semua sistem sudah dibangun dan dijalankan, tetapi tidak menjadi solusi yang baik dan menguntungkan bagi kehidupan bangsa. "Malah bangsa yang subur bangsa dan makmur ini cenderung salah urus dan salah kelola yang pada akhirnya kita menjadi penonton di negeri kita sendiri. Kita merasa diperas dijajah oleh bangsa sendiri," pungkasnya.[] Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar