TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tatkala 'Kiblat Fashion Dunia' Menghina Nabi




Negara yang menjadi kiblat fashion dunia ini kembali menjadi sorotan. Bagaimana tidak, lagi-lagi terjadi penghinaan pada Nabi Muhammad saw, atas nama kebebasan berpendapat. Diawali dari seorang guru mata pelajaran sejarah yang memberikan materi kebebasan berpendapat dengan menunjukkan kartun Nabi Muhammad saw dari majalah Charlie Hebdo. Kondisi ini mendorong salah satu muridnya -yang notabene seorang Muslim- untuk menghabisi nyawa sang guru. Karena dalam keyakinan seorang Muslim, seorang penghina Nabi memang layak dibunuh.

Hilangnya nyawa guru, membuat pihak keamanan Prancis melayangkan tembakan untuk sang murid yang baru berusia 18 tahun. Suasana di kota fashion inipun semakin kacau, karena pemimpin tertingginya membuat pernyataan yang membolehkan majalah Charlie Hebdo untuk menerbitkan lagi kartun Nabi Muhammad saw. Dikutip dari popbela.com “Menanggapi hal ini, Emmanuel mengatakan bahwa tidak masalah jika warganya menggambar karikatur Nabi Muhammad karena Prancis sangat menjunjung kebebasan berpendapat. Melansir TheGuardian.com, Emmanuel juga menambahkan kalau umat Islam di seluruh dunia sedang mengalami krisis dan mereka ingin merebut masa depan negaranya”. (Selasa, 27 Oktober 2020)

Liberalisme Ide Khayali

Kebebasan dalam kehidupan sekuler demokrasi merupakan ide yang utopis untuk diterapkan. Karena antara satu orang dengan orang yang lainnya tentu punya isi kepala yang berbeda-beda. Sehingga sangat memungkinkan sekali tumbuh secara liar yang namanya perbedaan pendapat, perbedaan sikap dan akhirnya menimbulkan kekacauan bahkan sampai pada penghilangan nyawa manusia.

Kejadian di Prancis menyingkap bobroknya sistem demokrasi, yang mengagungkan akal manusia. Yang mana keterbatasan dan kelemahan akal manusia menjadi sumber lahirnya peraturan dan undang-undang dalam tatanan masyarakat. Hingga akhirnya bukan kedamaian masyarakat yang terjadi, tetapi justru pertikaian, perpecahan dan kekacauan merupakan fakta umum dalam masyarakat sekuler demokrasi.

Di Prancis orang-orang ghoiru Muslim (selain Muslim) memiliki kebebasan untuk menghina Nabi saw dan menggambar Beliau. Namun teori ini tidak berlaku bagi Muslim di Prancis yang misalkan ingin memakai pakaian yang menutup aurat dan cadar sebagai representasi keyakinannya. 

Charlie Hebdo Bukanlah yang Pertama

Penghinaan pada Islam (terkhusus pada manusia mulia Rasulullah saw) bukanlah yang pertama terjadi Perancis. Setidaknya ada dua peristiwa besar yang menunjukkan bahwa sistem sekuler demokrasi pasti akan melahirkan penghinaan pada kemuliaan Islam dan mengagungkan kreatifitas dalam meramu kemaksiatan.

Pertama, Prancis dan Inggris merencanakan pementasan drama bertajuk "Muhammad atau Kefanatikan" karya Voltaire (seorang pemikir Eropa). Mendengar kabar tersebut, maka sang khalifah Abdul Hamid II bersikap tegas dengan memanggil dutanya di Paris supaya menghentikan pementasan drama itu dan mengatakan akan memerangi Prancis dan Inggris jika tetap melangsungkan pertunjukan drama penghinaan Nabi tersebut. Sang khalifah mengatakan, “Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami. Saya akan kobarkan jihad al akbar (jihad besar). Maka rencana pementasan dramapun dibatalkan.

Kedua, diciptakannya dansa mesum antara laki-laki dan perempuan. Dikutip dari ahli sejarahwan Budi Ashari, "Sultan terbesar di Dinasti Turki Utsmani, Sulaiman Al Qonuni -rohimahulloh- suatu hari mendengar bahwa di Prancis, masyarakatnya menciptakan dansa antara para laki-laki dan kaum perempuan".

Sulaiman Al Qonuni mengirim surat kepada raja Prancis : Telah sampai padaku berita bahwa kalian membuat dansa mesum antara laki-laki dan perempuan. "Jika suratku ini telah sampai padamu, pilihannya : kalian hentikan sendiri perbuatan mesum itu atau aku datang kepada kalian dan aku hancurkan negeri kalian".

Setelah surat itu, dansa di Prancis berhenti selama 100 tahun. (Hari-Hari Ketika Kita Besar, @budiashariofficial) Senin, 2/11/2020.

Islam Solusi yang Solutif

Dari sejarah kita bisa mengambil ibroh (pelajaran berharga) bahwa berbagai penghinaan dan kemaksiatan bisa dibabat habis hanya dengan kepemimpinan Islam politik. Kesabaran dalam Islam tidaklah dimaknai diam dan tidak melakukan apapun. Namun makna sabar adalah teguh dan istiqomah dalam melaksanakan haknya Allah Ta'ala dan haknya Rasulullah Muhammad saw. Semoga sekat-sekat nasionalisme bisa terkikis hingga umat bisa bersatu untuk mengamalkan ajaran Islam secara sempurna. Selanjutnya bersegera mewujudkan kepemimpinan Islam yang terbukti mampu menumpas negara penghina Nabi dengan tuntas. Wa ma taufiqi illa bilLah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.[]


Oleh: Dahlia Kumalasari 

Posting Komentar

0 Komentar