Sumber Konflik: Islam atau Sekulerisme?




Negeri muslim di seluruh dunia kembali bergejolak. Berbagai kecaman dan ancaman dilayangkan kepada Prancis, khususnya kepada presidennya yaitu Emmanuel Macron yang mengeluarkan pidato kontroversi terhadap umat Islam. Macron dalam pidatonya telah mengaitkan Islam dengan kekacauan teror di Prancis baru-baru ini (kompastv.com, 30/10/2020)

Macron menganggap bahwa Islam radikal kembali mengancam nilai-nilai kebebasan yang begitu agung di Prancis. Hal ini berkaitan dengan kasus Samuel Paty, guru di sebuah sekolah menengah di Prancis yang dipenggal oleh muridnya Abdullah Anzarov setelah membahas kebebasan berpendapat menggunakan objek karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW (bonepos.com, 21/10/2020).

Macron kembali mengaruskan “perang melawan terorisme” yang juga disambut oleh menteri dalam negeri Prancis, Gerald Darmanin. Ia menyatakan bahwa Prancis berada dalam ancaman terorisme dan dengan sadar meningkatkan sikap defensif dan reaktif. Ini adalah sikap konfrontasi secara terbuka antara negara yang menjunjung tinggi sekulerisme dengan Islam ideologis.

Sumber Konflik : Islam atau Sekulerisme?

Sejarah panjang perselingkuhan gereja dengan raja yang sewenang-wenang menimbulkan fobia mendalam terhadap aturan agama di berbagai negara Eropa termasuk Prancis. Hal ini menumbuhkan sekulerisasi yang begitu mengakar di Prancis, yang salah satunya bermanifestasi dalam bentuk kebebasan berpendapat termasuk kebebasan menghina agama.

Mereka sangat yakin bahwa batasan-batasan dalam aturan agama adalah sumber dari segala malapetaka, tak terkecuali agama Islam. Maka dari itu mereka mengagungkan kebebasan, yang melepas belenggu aturan Tuhan terhadap manusia. Kebebasan manusia tidak boleh terkekang atau bahkan sekedar bersinggungan dengan doktrin-doktrin agama. 

Namun, siapa sangka bahwa kebebasan yang diagung-agungkan ini justru menimbulkan petaka yang baru. Jika kita lihat dengan seksama, awal mula dari rentetan konflik di Prancis ini adalah akibat penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, yang kedudukannya adalah utusan Allah, tokoh agama sentral yang amat penting dan dihormati bagi umat Islam yang jumlahnya ada milyaran di dunia. 

Sebelumnya, tanpa ada penghinaan terhadap Nabi, 9% umat Islam di Prancis hidup berdampingan dengan agama lain datar-datar saja tidak ada konflik, begitupun umat Islam di negara lain. Kemarahan umat Islam ini bukan tiba-tiba, namun respon terhadap pelecehan yang telah terjadi berulang kali. Bukan sekali dua kali. 

Bukankah menghina dan merendahkan agama juga termasuk menciderai hak orang yang menganutnya? Alangkah buruknya kebebasan jika pada akhirnya ia membolehkan tindakan yang merendahkan dan menindas orang lain. Inikah kemajuan sebuah peradaban, dimana kebebasan membolehkan rakyatnya untuk saling mencaci dan menghina?

Dari sini kita dapat mempelajari betapa absurdnya konsep kebebasan berpendapat dan berperilaku. Seberapa jauhkah batas kebebasan yang tidak mencederai hak orang lain? Tentunya batas hak orang lain ini akan berbeda-beda tergantung persepsi orang dan sangat sulit untuk diukur, sehingga kebebasan akan selalu berpotensi mencederai hak orang lain dan akhirnya menyulut konflik.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam yang membolehkan adanya diskusi, perdebatan dan perbedaan pendapat dengan satu koridor berperilaku yang sering kita sebut sebagai adab dan dibatasi pada topik-topik tertentu. Termasuk juga adanya larangan untuk mengolok-olok sebagaimana dalam QS Al-Hujurat ayat 11. Bahkan terdapat pula larangan untuk menghina Tuhan dari agama lain.

Walaupun begitu, koridor ini tidak menghalangi umat Islam untuk menyebarkan agamanya. Justru mendakwahkan agama Islam ke seluruh manusia adalah wajib, karena setiap manusia berhak untuk merasakan indah dan lengkapnya konsep Islam. Jalan perang baru diambil ketika memang ada rintangan fisik yang menghalangi sampainya Islam ke suatu negeri belum mengenali Islam.

Tanpa adanya kebebasan berpendapat, umat Islam sudah mampu menciptakan gambaran toleransi beragama dalam masyarakatnya, jauh sebelum lahirnya sekulerisme yang sangat diagung-agungkan. Tanah suci Yerusalem menjadi saksi kehidupan damai tiga agama pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Berlanjut pada masa kekhilafahan Umayyah, Abbasiyyah, bahkan Utsmaniyah.

Semua keharmonisan itu didapatkan justru pada saat Islam diterapkan di masyarakat dan bukan sekulerisme. Pada masa itu kita bisa lihat bagaimana Khalifah Abdul Hamid II bersikap tegas hingga mengancam mengirim pasukan kepada orang-orang Prancis yang ingin melakukan teatrikal yang menghina Nabi Muhammad SAW. Sejak saat itu, mereka tidak berani menghina agama.

Melalui sedikit penalaran di atas, kita dapati justru sekulerisme penyebab dari konflik berlandaskan agama yang sekarang marak terjadi. Selain konsep kebebasan berpendapat, berbagai masalah juga muncul dari kebebasan lainnya seperti kebebasan kepemilikan dan kebebasan berperilaku. Kesenjangan sosial yang semakin menjauh dan maraknya pergaulan bebas adalah contoh riilnya.

Masihkah kita mau mengagung-agungkan sekulerisme sebagaimana halnya Macron dan negara barat lainnya?

Oleh: Staviera A., dr.

Posting Komentar

0 Komentar