Soal Resesi Ekonomi, Pengamat Ini Ungkap Solusi Kapitalisme Justru Menambah Masalah



TintaSiyasi.com-- Menyoal data BPS (Badan Pusat Statistik) yang mengkonfirmasi Indonesia terperosok ke jurang resesi, Pengamat Ekonomi dan Bisnis Syariah, Muhammad Sholahuddin, SE, M.Si, Ph.D., mengungkapkan bahwa solusi dari sistem ekonomi kapitalisme telah menambah masalah semakin besar.

"Alih-alih menyelesaikan masalah resesi, solusi kapitalisme justru berpotensi menambah masalah yang lebih besar," ujarnya kepada TintaSiyasi.com, Sabtu (14/11/2020).

Ia menuturkan, dalam ekonomi kapitalis permasalahan ekonomi disebabkan karena kelangkaan barang atau jasa. "Jadi, solusinya adalah memproduksi barang atau jasa agar tidak mengalami kelangkaan," tambahnya.

Namun menurutnya, ketika produksi barang dan jasa berlimpah sementara daya beli masyarakat rendah, ini menjadikan produsen mengurangi jumlah produksinya.

Dengan logika demikian ia mengatakan, biasanya pemerintah memberikan rangsangan agar masyarakat beli produk. Ia mencontohkan, di antaranya dengan memberikan gaji ke sekian, bantuan langsung tunai, dan semacamnya. 

"Cilakanya, dana rangsangan itu berasal dari utang berbunga atau jangan-jangan malah menyalahgunakan dana stimulus itu untuk beli produk impor?," tandasnya.

Selanjutnya ia menjelaskan, kalau berkurangnya jumlah barang dan jasa yang diproduksi di Indonesia dikibatkan kesadaran masyarakat untuk tidak terlalu konsumtif adalah kabar bagus. "Diakibatkan karena masyarakat mulai sadar untuk tidak bergaya hidup konsumtif hedonis dan mulai selektif dalam membeli barang dan jasa, ini malah pertanda bagus," tegasnya.

Namun menurutnya, jika penurunan produksi barang dan jasa itu ternyata masyarakat beralih beli produk impor yang sekarang mudah sekali dibeli eceran via belanja online, ini yang berbahaya terutama bagi nilai tukar uang rupiah. 

"Atau penurunannya akibat pandemi Covid-19 sementara masyarakat masih bersifat konsumtif hedonis, maka resesi ini bersifat sementara," imbuhnya.

Justru yang berbahaya menurutnya, jika terjadi depresi dan krisis ekonomi. Karena menurutnya, dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. 

"Yang biasanya uang seratus ribu bisa untuk kebutuhan sehari dalam satu keluarga, bisa jadi akhirnya kita butuh dua ratus ribu untuk kebutuhan sehari dalam satu keluarga," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar