Sistem Sampah Kapitalisme Merenggut Keadilan Rakyatnya


Pada umumnya negara menjadi pengayom, pelindung, dan pelayan bagi rakyatnya. Yakni dapat memberikan rasa aman, adil serta mensejahterakan. Menegakkan keadilan tanpa tebang pilih dan menjunjung tinggi kebenaran. Melayani rakyat kecil bak seorang bapak kepada anaknya yang menyayanginya dengan Penuh keikhlasan dan kesabaran. 

Namun hal ini sulit didapati. Bahkan rakyat yang seharusnya diayomi justru menjadi bulan - bulanan hukum, padahal dia tidak bersalah. Sebaliknya pejabat yang terbukti korup bisa lepas dari jeratan hukum. 

Misalnya, Seorang pencuri satu buah mangga karena lapar  bisa dijerat hukum. Sedangkan dirinya sangat membutuhkan untuk mengganjal isi perutnya. Atau mungkin mencuri satu ekor ayam, lalu tertangkap dan dihukumi masa. Dan pada akhirnya  dimasukan pula dalam penjara. Seperti yang dialami mbok minah, 55 tahun warga banyumas yang di vonis satu bulan penjara lantaran mencuri 3 buah kakao diperkebunan Rumpun sari antan. Ia di tuntut pasal 362 pasal undang- undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pencurian. https://m.liputan6.com/regional/read/3203697/belajar-dari-kasus-nenek-minah-pencuri-kakao.

Kasus serupa juga dialami oleh nenek
Berusia 92 tahun di vonis 1 bulan 14 hari oleh pengadilan negeri Balige ,Toba, Samosir lantaran menebang pohon milik kerabatnya japaya Sitorus. Tentu hal ini menyayat hati, karena tidak ada rasa iba terhadap nenek tersebut.
https://www.brilio.net/duh/5-kasus-hukum-paling-menyayat-hati-ada-nenek-92-tahun-divonis-penjara-1802028.html.

Namun sebaliknya para pejabat dan  konglomerat bebas melenggang padahal mereka terjerat korupsi yang merugikan uang negara dengan nominal besar. Sebut saja Mochtar Muhammad mantan wali kota Bekasi 11 Oktober 2011. Suparman mantan Bupati Rokan hulu pada 23 February 2017. Kemudian Syarifuddin Arsyad Temanggung, mantan kepala BPPN juga lolos dari jeratan KPK. https://m.cnnindonesia.com/nasional/20191105075455-12-445632/sofyan-basir-orang-ketiga-yang-divonis-bebas-dalam-kasus-kpk

Lebih nampak lagi kasus belakang ini, Di antara kurun waktu 10 tahunan. Kasus yang melibatkan para pengemban dakwah, aktivis, ulama, dan para tokoh oposisi. Di mana begitu nampak kedzoliman rezim ini dengan mengkriminalisasi tanpa penyelidikan lalu dijebloskannya ke penjara. Tanpa pandang bulu, pikir,  dan adab terhadap orang penyeru kebenaran. 

UU ITE yang dibuat sejatinya sebagai alat mengendalikan lawan politik terutama para pejuang dakwah yang tak kenal lelah menyadarkan umat untuk kembali kepada hukum Allah SWT. Yang akhirnya undang - undang karet tersebut dapat menjebak para pengemban dakwah maupun oposisi politik.

Anehnya, Undang - undang ITE hanya berlaku bagi para pengemban dakwah dan para tokoh oposisi. Sedang kepada penguasa dan para kroni - kroninya melempem, termasuk para buzernya yang nyata - nyata telah melanggar undang - undang tersebut.

Maka, menjadi sangat jelas bahwa negara gagal memberi rasa aman dan adil bagi rakyatnya. Keuntungan dan kemaslahatan yang selama ini diperoleh sama sekali bukan untuk rakyat, namun demi kepentingan dirinya dan para cukongnya. Pemodal selalu dibela dan didepankan dalam kesejahteraan, kemakmuran,dan kebahagiaan. serta mereka tidak pernah merasa salah di hadapan hukum yang ada.

Memang benar Kapitalisme tidak akan memberi rasa keadilan. Sistem yang memandang kehidupan harus dipisah dari agama, yakni agama hanya urusan ibadah spiritual atau beribadah saja, sedang aturan dalam kehidupan dibuat oleh manusia. Sekulerisme yang asal muasal hasil kesepakatan dari pihak Gereja dengan cendikawan. Di mana sebelumnya pihak gereja terlalu agresif dalam mengatur kehidupan hingga menimbulkan pertentangan dari kaum intelektual, maka sepakatilah, sekulerisme. Maka wajar jika Kapitalisme dalam membuat hukum sarat akan kepentingan masing - masing, terutama para kaum pemodal. Wajar, jika negara yang menerapkan Kapitalisme akan membuat kerusakan dan kedzoliman secara terus menerus, karena semua berjalan sistemik sesuai keinginan kaum pemodal yang rakus akan kekayaan demi memuaskan hawa nafsunya. Pantaslah jika Kapitalisme adalah sistem sampah yang membuat kehidupan menjadi rusak dan merusak.

Lain halnya dengan sistem Islam. Sistem yang berasal dari sang pencipta, wujud kecintaan kepada hambanya, agar dalam memanfaatkan nikmat - nikmatnya tidak rakus dan tercipta rasa adil bagi sesama manusia. Sistem yang menerapkan aturan dari Allah SWT secara kaffah. 

Lalu sistem ini melahirkan pemimpin yang adil dan dapat mensejahterakan rakyatnya. Pemimpin pilihan umat dengan melalui teknis yang sesuai Syara'. Kemudian ia memimpin umatnya dengan sebaik mungkin, melayani dan memberikan rasa aman dan damai.serta Kepemimpinanya didasari taqwa kepada Allah SWT.

Maka mustahil sistem yang shohih dari pencipta kemudian dijalankan oleh pemimpin yang senantiasa taqwa kepada Allah SWT yang menjalankan aturan dari Allah SWT, mengakibatkan ketidakadilan bagi manusia. Yang ada adalah mendatangkan kebaikan - kebaikan sebab Allah menurunkan Islam sebagai rahmatan Lil Al-Amin.

Allah SWT berfirman dalam surat Al anbiya' ayat 107:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
Wallahua'lam bishowwab.[]

Oleh: M Azzam Al Fatih, Penulis dan Aktivis Dakwah

Posting Komentar

0 Komentar