Si Kecil Korban Penerapan Sistem Batil



Miris! Hubungan terlarang dua sejoli di Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berujung pada pembuangan bayi. Bayi hasil hubungan gelap itu mereka buang di belakang Puskesmas Gapura pada 18 September lalu. Keduanya akhirnya berhasil ditangkap pada 16 Oktober lalu di rumahnya. 

Melansir dari kabarjatim.com (21/10/2020), berdasarkan penjelasan Kapolres Sumenep, Ajun Komisaris Besar Polisi Darman diketahui jika pelaku lelaki berinisial AD (25) berhubungan badan dengan YF (16) yang masih adik tirinya pada Januari 2020. Namun, pelaku tidak mengetahui kalau korban hamil karena korban tidak bercerita. Korban menutupi kehamilan hingga melahirkan pada 18 September lalu.

Kapolres Darman mengatakan, motif pembuangan bayi tersebut dilakukan pelaku AD karena merasa malu dan takut kelahiran bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut akan menjadi aib keluarga. Apalagi, korban YF masih di bawah umur, belum mempunyai suami dan merupakan adik atau saudari seibu dengan pelaku.

*Buah dari Penerapan Sistem Batil*
Kasus pembuangan bayi di Sumenep ini tentu bukan kasus perdana di negeri ini. Ratusan kasus pembuangan telah menjadi hiasan di media massa baik dalam kondisi masih berbentuk janin maupun yang sudah menjadi bayi, ditemukan hidup maupun meninggal, ditemukan dalam kardus hingga yang mengambang di sungai.

Pun juga sulit jika berharap kejadian ini adalah penutup dari deretan kasus pembuangan bayi. Terbukti, tak berselang lama kasus penemuan bayi kembali terjadi. Di Madiun, siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 21 Oktober lalu membuang bayi yang baru saja dilahirkannya tak jauh dari rumahnya. Bayi yang ditaruh dalam tas ransel berwarna hitam itu ditemukan setelah salah seorang warga mendengar suara tangisan bayi. 

Si Kecil yang tak berdosa akan terus menjadi korban selagi hidup di sistem batil kapitalisme-sekular hari ini. Sistem sekular telah menjadikan hidup jauh dari tuntunan syari'at sebab asasnya memang memisahkan agama dari kehidupan. Wajar jika kita melihat perilaku individu muslim hari ini amat sangat jauh dari ajaran Islam. Pengetahuan tentang haramnya aktivitas pacaran misalnya. Apakah berpengaruh? Tidak! Karena agama tak mereka jadikan sebagai standar berperilaku. 

Ditambah lagi masyarakat di sistem sekular yang juga tak menjadikan agama sebagai standar menilai benar dan salah. Anggapan pacaran adalah hal yang dibenarkan selama dilakukan secara "sehat" diamini oleh sebagian besar masyarakat hari ini. Bahkan adanya istilah jomblo seolah menegaskan kondisi single alias tak punya kekasih menjadi sebuah kondisi yang patut dihindari agar tak menjadi objek penindasan verbal.

Tapi bukan hanya individu dan masyarakatnya saja yang bermasalah di sistem batil ini. Negaranya pun turut andil atas kerusakan yang terjadi selama ini. Sebab bagaimanapun juga, negaralah yang mempunyai peran besar sebagai pengatur rakyatnya, baik itu individu maupun masyarakat. Namun yang terjadi sebaliknya, negara justru memfasilitasi agar kemaksiatan tumbuh subur di wilayah pemerintahannya ini.

Masih ingatkah dengan RUU (Rancangan Undang-Undang) PKS (Pencegahan Kekerasan Seksual)? Wajar jika RUU ini dinilai seolah melegalkan perzinahan sebab yang menjadi soal di RUU ini adalah pemaksaan atau ketiadaan persetujuannya. Misalnya, ketiadaan persetujuan untuk aborsi baru dikatakan pemaksaan atau kekerasan. Tetapi aborsi dan perzinaannya tidak dianggap sebagai sesuatu yang bermasalah sehingga jika itu dilakukan atas dasar suka sama suka atau karena saling menyetujui itu tidak menjadi masalah. 

Ibarat rumah, rapuhnya tiang penyangga sistem kapitalisme-sekular ini bukan hanya di satu sisi saja melainkan semua pilarnya bobrok. Maka wajar, kejadian memilukan seperti pembuangan bayi ini akan menjadi sulit untuk dihentikan. Individu, masyarakat hingga negara sama-sama memasang tembok pemisah antara agama dengan kehidupan.

*Hanya Islam yang Memuliakan*
Berbeda dengan sistem kapitalisme-sekular, Islam justru tegak dengan pilar-pilarnya yang kokoh, mulai dari individu hingga negara. Penerapan sistem Islam inilah yang kemudian mampu mewujudkan individu, masyarakat hingga negara yang beriman dan bertaqwa.

Keimanan dalam diri tiap individu umat Islam akan mendorongnya untuk senantiasa menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan mematuhi apa yang diperintah-Nya. Iman yang kuat ini pula yang kemudian menjadikan masyarakat menilai benar dan salah sesuai dengan apa yang telah Allah turunkan. Apalagi negara, tersebab keimanan yang menghujam dalam lubuk hati setiap para penguasa negeri inilah, mereka akan menjadikan syari'at Islam sebagai dasar dalam membuat perundang-undangan. 

Sinergi ketiga pilar inilah yang akan mampu menciptakan kehidupan yang jauh dari kerusakan. Keberhasilannya telah terbukti dalam torehan sejarah peradaban dunia. Selama tak kurang dari 13 abad, tercatat hanya sekira 200 tindak kejahatan yang terjadi. Sungguh tak sebanding dengan sistem saat ini bukan? 

Maka, sudah seharusnya umat memperjuangkan kembali penerapan sistem hidup yang bersumber dari Al-Khaliq. Dengannya individu, masyarakat dan negara akan menjadikan Islam sebagai satu-satunya pedoman. Kemuliaan tak lagi hanya jadi angan, sebab al-Hakim telah meriwayatkan, "Sesungguhnya kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Ketika kita mencari kemuliaan bukan dengan yang Allah telah muliakan kita (Islam), maka Dia akan membuat kita hina.” Wallahua'lam bish-shawab.[]


Oleh: Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST (Aktivis Muslimah Jember)

Posting Komentar

0 Komentar