Sekolah Tatap Muka di Tengah Pandemi, Haruskah?


Pemerintah disebut berencana membuka sekolah untuk pembelajaran tatap muka pada Januari 2021 mendatang. Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menyatakan, Komisi X DPR mendukung rencana tersebut dengan beberapa syarat. “Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan protokol Kesehatan ketat” ujar Huda dalam keterangannya, Jumat (20/11/2020). (www.liputan6.com)

Setelah sekian bulan anak-anak sekolah secara online di rumah dengan tugas-tugas yang banyak dan itu membuat mereka jenuh serta bosan, saat ini pemerintah merencanakan akan membuka sekolah kembali diawal tahun 2021. Disaat yang sama masyarakat yang positif Covid-19 semakin bertambah bahkan banyak RS yang kewalahan untuk menangani pasien Covid-19.

Prokontra pun terjadi di masyarakat, ada yang setuju dengan rencana pemerintah untuk membuka kembali sekolah ada pula yang tidak setuju sekolah kembali dibuka dengan resiko anak-anak mereka menjadi korban Covid-19. Jika kita mau jujur pemerintah sejatinya belum siap untuk membuka kembali sekolah. Fakta di lapangan banyak sekolah yang tidak memiliki standart keamanan dan kesehatan yang memadai di lingkungan sekolah mereka.

Jangankan sekolah di desa, sekolah di kota pun mengalami hal yang sama. Keterbatasan fasilitas dalam menunjang sekolah tatap muka. Kebijakan membuka kembali sekolah tatap muka terkesan mendadak seperti ada yang dikejar dan ditargetkan tanpa berpikir keselamatan siswa dan pendidik. Padahal ancaman Covid-19 belum berakhir dan masyarakat masih dihantui ketakutan akan bahayanya Covid-19.

Jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia mengalami penambahan sebanyak 78 orang pada Jumat (20/11/2020). Dengan begitu, akumulasi angka kematian akibat virus Corona di Tanah Air menjadi 15.678 orang. (www.liputan6.com)

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jawa Timur tercatat melaporkan kasus kematian paling tinggi karena Covid-19 yakni 25 orang. Saat ini jumlah kumulatifnya mencapai 4.109 kasus.

Dengan fakta seperti ini apakah orangtua akan rela membiarkan anak-anak mereka berangkat sekolah tanpa rasa was-was akan keselamatan anak-anak mereka?

Berbeda dengan sistem Islam yang akan melindungi semua rakyatnya tanpa pengecualian, karena di dalam Islam nyawa adalah tanggungjawab penguasa yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ

"Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat)." (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Wallahu a'lam.[]

Oleh: Lutfiatul Khasanah

Posting Komentar

0 Komentar