RUU Minuman Beralkohol: Regulasi Setengah Hati


Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Daniel Johan, mengatakan RUU Larangan Minuman Beralkohol berkaitan dengan berbagai macam tradisi yang ada di Indonesia. Ia menilai keterkaitan minuman beralkohol dengan tradisi ini juga harus dilihat secara utuh.

RUU Larangan Minuman Beralkohol (Minol) diusulkan oleh 21 anggota Dewan. Sebanyak 18 orang dari Fraksi PPP, 2 orang dari PKS, dan satu orang dari Fraksi Gerindra. Saat ini, RUU tersebut tengah diharmonisasi di Badan Legislasi DPR.

Salah satu pengusul RUU Larangan Minol, Illiza Sa'aduddin Djamal, mengatakan RUU ini bertujuan melindungi masyarakat dari dampak negatif, menciptakan ketertiban dan ketenteraman di masyarakat dari para peminum minuman beralkohol. Illiza juga mengklaim adanya RUU tersebut demi menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya minuman beralkohol.(tempo.co, 15/11/2020)

Imam At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Abu Daud meriwayatkan melalui sahabat Nabi, Jabir bin Abdillah bahwa Nabi Saw bersabda: "Sesuatu yang memabukkan bila banyak, maka sedikit pun tetap haram."

Semua yang memabukkan adalah haram, dan semua yang memabukkan adalah khamr (HR Muslim melalui Ibnu Umar). 

Hadits tersebut menguatkan larangan meminum minuman beralkohol sesuai alquran surat Al maidah ayat 90

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Larangannya sangat keras sehingga Allah menyebutnya sebagai rijzun (perbuatan keji) dan termasuk perbuatan setan bahkan tidak hanya celaan namun larangannya juga jelas di akhir ayat Faj tanibuuhu la'allakum tuflikhuun (maka jauhilah agar kalian beruntung).

Larangan tersebut menjadi perintah yang tegas bagi orang-orang beriman untuk menjauhi minuman beralkohol. Bukan karena pertimbangan kesehatan, bukan karena efek adiktifnya dan bukan karena kerusakan organ vital bagi yang kecanduan alkohol atau karena alasan kriminalitas sekalipun.

Bagi kaum muslimin larangan Allah dan jaminan kita akan beruntung bila meninggalkan minum-minuman beralkohol itu sudah cukup untuk menjadi larangan, baik menjadi pembuatnya, pengedarnya, penjualnya hingga peminumnya. Menjauhi Minuman beralkohol adalah wujud nyata rasa keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt saja.

Namun sayang, aturan dalam sistem demokrasi tidak mengizinkan supremasi agama menjadi pengatur kehidupan warganegara. Akal dan pertimbangan materialistislah yang harus menjadi pertimbangan utama saat akan menetapkan regulasi.

Sadar bahwa usulan ini bakal menuai kontroversi, para pengusung RUU ini berusaha mengakomodir pihak-pihak yang tidak bakal mengizinkan undang-undang ini diketok palu. Karena ternyata bahwa undang-undang ini sudah diwacanakan di DPR sejak 2015. 

Sehingga muncullah pasal 8 angka (2) Bab III tentang Larangan dituliskan pengecualian RUU Minol diberikan untuk kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi dan di tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan.

Inilah regulasi setengah hati, para pengusul tidak mampu mengelak pendapatan besar yang didapat negara dari bisnis ini. Apalagi negara ini adalah diduga penaung, pelindung para korporat yang tidak rela bisnisnya diamputasi. Sebagai contoh dilansir dari jawapos.com, (25/2/2018) memberitakan bahwa 
produsen minuman beralkohol Bir Bintang, PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) meraup untung sebesar Rp 339 miliar selama tahun 2017. Laba bersih tersebut meningkat sebesar 34,55 % jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2016.

Karena itulah, dalih untuk melindungi masyarakat dari pengaruh negatif alkohol sebagaimana pasal 3 RUU yang isinya;

Larangan minuman beralkohol bertujuan: melindungi masyarakat dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh minuman beralkohol; menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya minuman beralkohol dan menciptakan ketertiban dan ketentraman di masyarakat dari gangguan yang ditimbulkan oleh peminum minuman beralkohol.

Tujuan tersebut jelas akan sulit terealisir. Karena minuman beralkohol masih dibutuhkan oleh negara untuk memperbesar pundi-pundi pendapatan.

Fenomena ini semakin membuktikan bahwa amat sulit memperbaiki sistem dari dalamnya, amat sulit melakukan tambal sulam. So mengapa tidak langsung mengedukasi masyarakat untuk menerapkan Islam kaffah saja? []

Oleh: Nabila Zidane, Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar