Rindu Pemimpin yang Tegas




Rabiul awal merupakan bulan kelahiran Baginda Rasulullah SAW. Khususnya di Indonesia, Umat Islam menyambut dengan memperingati hari kelahiran rasulullah dengan perayaan yakni “Maulid Nabi”. 

Tetapi, di bulan Mulia ini, Emmanuel Macron sebagai Presiden Prancis telah melecehkan agama Islam. Macron mendukung penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo dengan klaim kebebasan berekspresi.

Pada awal September, Macron mengajukan UU untuk ‘Separatism Islam’ di negara yang ia pimpin. Macron sempat berujar bahwa “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia”. Karenanya pemerintahnya akan mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang tahu 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis (28/10/2020, CNBCIndonesia)

Selanjutnya Macron juga menganggap enteng masalah karikatur Nabi yang dikeluarkan oleh Charlie Hebdo. Ia mengaku tak bisa mengekang karena kebebasan berekspresi. “Tidak pernah ada kewenangan presiden memberikan penilaian pada pilihan editorial jurnalis atau berita” katanya, menambahkan untuk tetap mengutamakan kesopanan dan rasa hormat, sehingga taka da ungkapan bernada kebencian.

Pernyataan Macron semakin membuat panas Muslim. Salah satunya pada kasus pembunuhan guru sejarah dan geografi di sebuah sekolah pinggiran di kota Paris, Samuel Paty (47), setelah menunjukkan karikatur toko Nabi Muhammad SAW dalam kelas pada 6 Oktober lalu. Macro berujar sang guru ” dibunuh karena kaum islamis menginginkan masa depan kita”. Ia juga sempat berujar bahwa “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia” (28/10/2020, CNBCIndonesia).

Tindakan yang dilakukan Macron membuat Umat Islam diseluruh dunia berang. Umat islam mengecam tindakan presiden Prancis dengan melakukan boikot barang-barang yang berasal dari Prancis. 

Seruan pemboikotan berasal dari Arab Saudi, Qatar, Kuawait, Aljazira, Sudan, Palestina dan Maroko. Bahkan yang terbaru, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan rakyatnya agar melakukan hal yang sama.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengajak seluruh rakyat Turki untuk tidak membeli produk Prancis. Ajakan itu, disampaikan Erdogan dalam acara bertajuk Bestepe National Congress and Culture Center di Ankara, Senin (26/10/2020).

“Sama seperti bagaimana mereka memboikot produk Turki di Perancis, saya menyerukan kepada rakyat Turki untuk memboikot produk Prancis,” ujar Erdogar seperti dilansir laman Stasiun Televisi Berita Turki, TRT World (27/10/2020, CNBCIndonesia).

Sepanjang tahun, pelecehan terhadap agama Islam terus terjadi. Pemimpin-pemimin di negeri muslim hanya dapat memberi kecaman dan menyerukan pemboikotan. Tak ada yang berani melawan pembeci Islam seperti yang dilakukan Sultan Abdul Hamid II. Pada saat itu, Prancis merancang drama yang menghina Rasulullah. Sultan Abdul Hamid II pun mengetahui berita tersebut dan mengirimkan surat kepada Prancis untuk menghentikan penayangan drama tersebut dan Prancis pun tunduk kepada perintah Sultan Abdul Hamid II.

Umat harus mengetahui bahwa sumber dari segala pelecehan agama yang sering terjadi akibat dari penerapan sistem Kapitalis-Demokrasi. Dalam demokrasi, Kebebasan berekspresi dan kebebasan bersuara sangat dijunjung tinggi. Sehingga mereka dengan bebas dapat menghina agama Islam. Tetapi, bagi Umat Islam, kebebasan tersebut tidak berlaku. Sehingga hanya segelintir orang saja kebebasan tersebut berlaku.

Tindakan pemboikotan hanya salah satu tindakan kecil untuk menunjukkan sikap bahwa mereka membela Rasulullah. Tetapi tindakan tersebut tidak menyelesaikan masalah yang terus terjadi. Sehingga dibutuhkan sebuah langkah yang nyata untuk menghentikan tindakan tersebut secara permanen.

Langkah yang nyata hanya ada didalam sistem Islam, seperti yang terjadi pada Sultan Abdul Hamid II. Seorang pemimpin negara mengambil tindakan tegas untuk menghentikan penghinaan kepada seorang Nabi dan ajarannya. Hukum bagi penghina Nabi adalah berjihat jika mereka adalah kafir harbi. Negara tidak segan-segan melawan negara tersebut. 

Apabila penghinaan Nabi dilakukan Individu maka hukumannya adalah hukuman mati. Banyak orang yang menilai bahwa hukuman tersebut hukuman yang kejam dan tidak berkemanusiaan. Tetapi dengan adanya hukuman tersebut Umat dan Negara kafir harbi akan beribu-ribu kali berfikir untuk melakuka pelecehan kepada Nabi dan ajarannya. 

Sehingga bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah adalah dengan menjalankan ajaran yang telah Rasulullah ajarkan yakni dengan penerapan syariat Islam secara kaffah sehingga tidak ada lagi penghina dan pelecehan yang terjadi pada agama Islam.[]

Oleh: Nur Ana Sofirotun

Posting Komentar

0 Komentar