Revolusi Akhlak: Revolusi Sistem Sekuler Menuju Penerapan Syariat


Antusiasme warga menyambut kedatangan HRS beberapa waktu lalu adalah representasi simbol kerinduan umat akan keadilan dan kemuakan akan kezaliman. Seruan Revolusi Akhlak yang diinisiasi Habib Rizieq Shihab patut kita sambut dan kita dukung.

Namun, seperti apa dan bagaimana peta jalan untuk mencapai revolusi itu? Bukankah perubahan yang kita inginkan selama ini selalu tidak terwujud dalam iklim demokrasi sekuler seperti saat ini? Oleh karena itu, perubahan ini hanya bisa terwujud dengan menempuh jalan alternatif. 

Sepanjang sejarah umat Islam, ternyata lebih dari 1400 tahun yang lalu Rasulullah ﷺ. mencontohkan metode revolusi yang sangat cemerlang. Kurang dari satu dekade, beliau sukses merevolusi masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat Madani berperadaban tinggi. Tidak hanya berakhlak mulia tetapi juga menjadi adidaya dan disegani dunia. 

Rasulullah ﷺ. melakukan revolusi berlandaskan akidah yang berpengaruh terhadap world of view masyarakat jahiliyah. Akidah inilah yang mengubah wajah kemusyrikan menjadi ketauhidan. Ia mengubah penghambaan pada berhala, kurafat, dan penguasa lalim menuju penghambaan pada Allah semata.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah ra. tentang akhlak Rasulullah ﷺ. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur’an.” (HR Muslim). Ini berarti setiap perkataan, perbuatan, bahkan diamnya Rasul selalu bersandar pada Al-Qur’an.

Jika akhlak Nabi adalah Al-Qur’an, maka akhlak kita mestinya juga bersandar pada Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Keduanya adalah source of law bagi umat di seluruh alam. Itulah syariat Islam, yaitu syariat dunia yang sempurna (Q.S. Al-Maidah:3). Karena itu, ketika Islam membebaskan negeri-negeri kufur, Islam menghapuskan syariat  yang lama dan menggantinya dengan syariat yang baru secara revolusioner. Syariat itulah yang berlaku sebagai undang-undang dan hukum bagi individu, masyarakat, dan pemerintahan (tata negara).

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa revolusi akhlak dapat terwujud manakala ada institusi negara sebagai pelaksana. Negara mengadopsi sistem kehidupan berlandaskan syariat Allah, di mana akhlak menjadi bagian dari syariat tersebut.

Islam memiliki metode kehidupan yang sangat unik dalam mengimplementasikan syariat. Metode itu adalah hasil pemahaman Islam tentang kehidupan (dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup di dunia, dan akan ke mana setelah mati). Metode tersebut tak lain adalah peradaban Islam yang berbeda dengan peradaban dunia dan bertentangan dengan berbagai peradaban lainnya.

Agar umat Islam dapat mempertahankan peradaban ini, mutlak dibutuhkan eksistensi negara yang akan menerapkan Islam dan melaksanakan hukum-hukumnya.

Al-Qur'an dan hadis menjadi source of law dalam kehidupan bernegara. Keduanya memuat hukum-hukum Allah, tak hanya dalam hal ibadah, makanan, pakaian, dan akhlak tetapi juga dalam muamalah dan uqubat (sistem sanksi). Ada ayat yang memerintahkan shalat, puasa, zakat, dan haji. Ada pula ayat yang mengatur hudud, jinayat, membolehkan jual beli, melarang (mengharamkan) riba, khamr dan daging babi, dan lain-lain.
Ayat-ayat hukum itu turun untuk menyelesaikan problematik kehidupan.

Kehidupan masyarakat dikendalikan oleh pemikiran dan perasaan Islami yang ditetapkan di dalamnya syariat Islam dalam hal muamalah dan interaksi mereka. Sepanjang sejarahnya, berbagai negeri yang dibebaskan Islam memiliki beragam suku bangsa, bahasa, agama, adat-istiadat, undang-undang dan kebudayaan. Namun, tatkala mereka hidup di bawah naungan pemerintahan Islam, kemudian memahami Islam, pada akhirnya mereka berbondong-bondong masuk Islam. 

Proses revolutif yang dimunculkan Islam dalam diri bangsa-bangsa yang di taklukkan sehingga mereka masuk Islam terjadi karena Islam mengangkat akal mereka pada posisi dan taraf berpikir yang tinggi serta mewujudkan akidah Islam sebagai jalan hidup, bukan hanya gaya hidup. Akidah Islam ini kemudian menjadi standar untuk menilai benar-salahnya suatu pemikiran. Hal ini telah merevolusi mereka dari keimanan warisan dan naluriah menuju keimanan yang aqliyah (muncul karena proses berpikir), dari peribadatan menyembah berhala, api, trinitas, dsb menuju penyembahan kepada Allah.

Islam menjadikan mereka mempercayai dan membenarkan adanya kehidupan akhirat, hisab, pahala dan siksa. Pada akhirnya kehidupan mereka di dunia menjadi penuh makna dan nilai. Karena itu, mereka tidak menyia-nyiakannya. 

Syariat Islam merevolusi standar kehidupan mereka yang hanya berdasar manfaat menjadi standar halal-haram. Motivasi aktivitas (amal) perbuatan merekapun berubah, yakni berdasarkan perintah dan larangan Allah. 

Islam merevolusi pandangan mereka tentang arti kebahagiaan, yakni dari sekadar hilangnya rasa lapar atau tercapainya kenikmatan jasmani menjadi tercapainya ridha Allah. Bagi mereka, kebahagiaan adalah ketenangan jiwa manusia yang tidak mungkin terpenuhi dengan cita rasa dan pemenuhan nafsu, tetapi hanya dengan bimbingan dan petunjuk wahyu.

Sejarah membuktikan bahwa Islam telah nyata memberi teladan sempurna dalam proses revolusi, yaitu revolusi akidah. Akidah Islam menjadi world of view yang mempengaruhi pandangan hidup bangsa-bangsa yang memeluknya. World of view ini mempengaruhi pula pandangan dan sikap terhadap perbuatan mereka dalam kehidupan. Sehingga mereka menjadikan urusan akidah pada level prioritas dibandingkan urusan "perut". 

Sebelumnya, bangsa-bangsa itu memiliki tujuan hidup bermacam-macam. Namun, Islam mempersatukan tujuan tertinggi hidup mereka, yaitu mencapai ridha Allah. 

Sebelumnya pula, bangsa-bangsa itu menganggap keberanian, sikap ksatria hanya untuk kelompok. Mereka bangga terhadap harta dan jumlahnya, berlebihan dalam berderma, saling balas dendam, loyalitas hanya diberikan kepada kabilah atau kaumnya, dll. Lalu Islam datang merevolusi tabiat pokok tersebut agar selaras dengan perintah dan larangan Allah. 

Demikian sempurnanya syariat Islam dalam mengatur segala aspek kehidupan. Islam mampu menjadi satu-satunya solusi untuk beragam pemikiran, bangsa, dan adat-istiadat. 

Terlebih untuk bangsa mayoritas muslim seperti Indonesia. Sepatutnya implementasi syariat Islam itu mendapat sambutan positif untuk menyelesaikan timbunan problematik kehidupan. Bukan karena sentimen agama, melainkan karena di dalam syariat Islam terkandung kemaslahatan yang sudah "teruji klinis" dan implementatif.

Bukankah, dalam sistem kehidupan non-islami, mayoritas umat berada dalam jerat penderitaan yang sulit terurai, bahkan turun-temurun? Setiap kali solusi non-syariat yang diberikan, justru menambah masalah baru tanpa menyelesaikan masalah yang lama. 

Sepatutnya kita menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Ada Pencipta yang telah memperhitungkan segala sesuatunya. Kita adalah makhluk yang diciptakan beserta aturan. Dengan anugrah akal, kita berpikir jernih bahwa tidak mungkin aturan Allah akan menyengsarakan hamba-Nya. Karenanya, syariat Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi selayaknya menjadi tempat kembali. Tentu saja semua itu diimplementasikan dalam kehidupan bernegara, bukan kehidupan pribadi, orang perorang.[]

Oleh: Pipit Agustin R.
(Koordinator JEJAK)

Posting Komentar

0 Komentar