TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Relasi Pemimpin Formal yang Normal dan Pemimpin Informal yang Ideal


Hadirnya pemimpin di tengah masyarakat adalah keniscayaan. Sejak manusia diciptakan dan hadir dimuka bumi, mereka saling berinteraksi. Interaksi itu perlu diatur dan diurus agar tidak jadi masalah besar dan kekacauan sosial. Disinilah perlu pemimpin yang mengurus dan menyelesaikan masalah mereka.  

Salah satu fenomena unik  dibulan November ini adalah ketika Imam Besar Habib Riziq pulang ke tanah air. Meski ia bukanlah seorang Pemimpin formal, namun ada jutaan orang yang menjemputnya di Bandara. Ini melebihi penjemputan pemimpin formal selevel Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, dan lain-lain. 

Banyaknya para penjemput itu diduga salah satu faktornya karena dipicu oleh pernyataan pemimpin formal (pejabat pemerintahan). Katanya jumlah pengikut Habib itu cuma sedikit. Tidak seperti Komaini di Iran. Ini menambah semangat para penjemput yang semula sudah semangat karena ingin menyambut pemimpin mereka. Bahkan mereka rela jalan kaki berkilometer jauhnya. Belum lagi ada puluhan juta yang merindukan. Fenomena ini termasuk barang langka. Tentu tak semua pemimpin bisa memiliki relasi dengan para pendukungnya seperti ini. 

Ada pemimpin yang dicintai publik, ada pula yang dibenci. Pemimpin yang baik tentu selalu dirindukan publik. Ucapan dan tindakannya akan dijadikan teladan bagi publik. akan dicatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah. 

Terkait pemimpin ditengah masyarakat, penulis teringat pesan Ketua STPDN Sartono Hadi Sumarto seperempat abad lalu. Kala itu penulis sempat berkunjung ke rumah beliau yang sederhana di kawasan Kota Bandung. Dalam bincang santai, beliau berpesan, kelak ketika terjun di Masyarakat nanti harus mengikuti arahan pemimpin formal yang ada biar dapat kepercayaan pimpinan. Namun jangan lupa mengunjungi pemimpin Informal dan meminta nasihat mereka. Dengan menggabungkan dua pemimpin itu maka kita bisa jadi pemimpin besar yang baik. Begitulah nasihat Beliau kepada Penulis pada kunjungan terakhir sebelum bertugas ke Kota Sorong Papua pada tahun 1995 lalu.  
 
Ada hal yang menarik dalam model kepemimpinan pemerintahan kita. Di sana Ada pemimpin formal yang memiliki legalitas dari negara selaku pejabat pemerintahan. Ada pula pemimpin informal yang tumbuh dan diakui serta sangat dihormati dan jadi teladan bagi masyarakatnya. Bahkan suara mereka sangat didengar dan dipatuhi masyarakatnya. Di titik inilah perlunya komunikasi yang positif antara pemimpin formal dan pemimpin informal. 
 
Para pemimpin informal, walaupun bukan merupakan pemimpin yang resmi dan tidak memiliki legalitas menurut hukum formal namun kepemimpinannya memiliki pengaruh yang kuat pada rakyatnya. Ia tumbuh bersama  masalah dan dinamika kehidupan masyarakat. Strategi yang digunakan dalam memimpin hanya didasarkan atas ide dan ketulusan membantu masyarakatnya. Tidak seperti dengan sistem kepemimpinan formal dimana sifatnya sudah mengalami proses modernisasi dengan didukung oleh teori-teori kepemimpinan, seperti: sistem manajemen, administrasi dan lain sebagainya.
 
Setidaknya ada empat catatan penting dalam relasi antara pemimpin formal dan informal sebagai berikut:  
 
Pertama, Pemimpin formal yang normal. Seorang Pemimpin Formal mestinya memahami fungsi dan tugasnya dengan baik dan benar. Ia bisa menempatkan diri sebagai pemimpin formal dan mengoptimalkan fungsi pemimpin informal untuk menunjang kepemimpinannya.  
 
Ia paham betul akan peranan pemimpin formal dan informal.  Selaku pemimpin formal (formal leaders) mesti memandang pemimpin informal (informal leaders) sebagai mitra untuk menyukseskan kepemimpinannya. Ia menempatkan diri sebagai Pemimpin formal yang secara resmi diangkat dalam jabatan kepemimpinan. Ia paham betul bahwa jabatannya sebagai Kepala dari sebuah organisasi pemerintahan. Bukan sebagai pemimpin riil panutan rakyat sebagaimana pemimpin informal.

Sangat berbeda hal dengan pemimpin informal. Pemimpin yang menonjol sosoknya sebagai panutan rakyat karena integritasnya. Pemimpin ini dijadikan panutan dan teladan rakyat karena amal sholihnya dalam menyelesaikan persoalan rakyat. Meskipun ia tidak dijadikan pemimpin formal dan menjabat di struktur resmi pemerintahan. Sosok inilah yang dikenal sebagai pemimpin informal yang kita kenal dengan sebutan Ulama, Ustadz, Kyai, pendeta, dan tokoh masyarakat lainnya. 
 
Pemimpin Formal yang cerdas akan mengoptimalkan peran para pemimpin informal itu untuk memperkuat kepemimpinan formalnya. Sebaliknya pemimpin yang tidak cakap akan memandang pemimpin informal sebagai lawannya.  
 
Kedua, Pemimpin formal yang abnormal. Pemimpin pemerintahan yang tidak cakap maka akan nampak lemah dalam mengelola kepemipinannya. Bahkan akan nampak lebih lemah dari para pemimpin Informal dalam masyarakat. Padahal pemimpin infomal tidak memiliki legalitas formal jabatan pemerintahan. Namun dengan bekal ucapan dan tindakannya yang konsisten, ia lebih dipercaya dan jadi panutan rakyat. 
 
Sesungguhnya jika pemimpin pemerintahan formal itu normal, maka tak mungkin terjadi pemimpin informal lebih kuat pengaruhnya. Pemimpin formal memiliki segalanya, baik legalitas, fasilitas kedinasan yang menambah wibawanya, termasuk staf yang membantunya. Bahkan juga mendapat pengamanan dari aparat keamanan yang tak mungkin didapatkan oleh pemimpin informal.  
 
Oleh karenanya, jika pemimpin formal itu normal maka ia tak perlu merasa tersaingi oleh pemimpin informal. Apabila ada pemimpin informal yang lebih berpengaruh di masyarakat maka pemimpin formal mesti mengevaluasi diri. Apakah ucapan maupun tindakannya berbeda dengan keinginan rakyatnya. Bisa jadi ada ucapan dan janjinya yang belum dipenuhi. Bisa jadi pula ada kebijakan yang menyusahkan rakyatnya. 
 
Ketiga, Pemimpin formal yang illegal dan brutal. Ada pemimpin informal yang kemudian menjadi pemimpin formal. Misal, seorang ustadz pengasuh pondok pesantren dan panutan umat, kemudian mencalonkan diri menjadi Bupati. Ketika ia terpilih dan dilantik menjadi bupati maka ia telah bergeser dari pemimpin informal yang jadi panutan umat menjadi pemimpin formal yang memiliki kewenangan formal dengan segala fasilitasnya.  
 
Biasanya terjadi juga pergeseran loyalitas dari umatnya kepada dirinya. Semula ucapanya memberikan kesejukan dan harapan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kini ketika sebagai pemimpin formal maka yang keluar dari uacapan dan kebijakannya lebih formalistik. Berbicara sesuai aturan dan banyak kebijakan yang tidak nyambung dengan kepentingan rakyatnya. Bahkan terkadang bertentangan dengan kepentingan rakyatnya dan lebih berpihak pada segelintir kroninya. 
 
Dalam titik ini biasanya terjadi perlawanan rakyat. Mereka menyandarkan harapannya pada  pemimpin informal dan meninggalkan loyalitas kepada pemimpin informal yang sudah mutasi jadi pemimpin forma itul. Sayangnya pemimpin formal merasa punya aparat yang bisa digunakannya untuk memaksa rakyat agar tetap loyal padanya. Di sisi lain rakyat lebih percaya dengan ucapan pemimpin informal. Sehingga yang terjadi adalah loyalitas semu alais pura-pura. 
 
Kebanyakan Pemimpin formal kemudian menggunakan kekuasaan dan kewenangannya untuk menghadapi pemimpin informal yang tak sejalan dengan keinginannya. Awalnya masih terukur dan wajar saja. Namun seiring dinamika yang berkembang, kebijakan brutal pun tak terhindarkan. Politik bumi hangus pun terjadi. Siapa tak setuju dengannya maka dianggap musuh dan srolah mereka layak mendapat perlakukan selayaknya kriminal bahkan tindakan brutal. 
 
Keempat, Relasi Pemimpin Formal dan Informal yang Ideal. Idealnya pemimpin formal dan informal itu bersinergi untuk melayani rakyatnya dan menyejahterakan mereka. Pemimpin Formal mestinya rajin berkunjung dan mendatangi rakyatnya. Representasi rakyatnya adalah pemimpin informal itu. Disitulah pemimpin formal mendengarkan keinginan rakyat dan meminta nasihat dari pemimpin formal.

Sedangkan pemimpin formal yang ideal adalah siap memberikan nasihat terbaik buat pemimpin formal yang datang. Bukan sebaliknya malah mendatangi pemimpin formal di istananya. Dapat diduga keras, jika ia mendatangi pintu istana maka bukan nasihat yang benar dan terbaik yang diberikan kepada pemimpin formal. Tapi nasihat yang enak didengar pemimpin formil. Ini peranan pemimpin formil yang buruk karena ia tidak bisa jadi "alarm" bencana bagi pemimpin formal.  
 
Kiranya para pemimpin negeri ini  baik formal dan informal dapan memerankan dirinya secara ideal. Bukan melakukan relasi abnormal bahkan cenderung brutal. Tabbik...[].

Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. Pamong Institute)
 
NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Posting Komentar

0 Komentar