Prof. Fahmi Amhar: Mari Pelajari Sistem Pemerintahan Islam!



TintaSiyasi.com-- Menghadapi sinyal kematian demokrasi, Prof. Fahmi Amhar mengajak umat Islam untuk mempelajari sistem pemerintahan Islam. "Jadi, umat Islam marilah mempelajari sistem pemerintahan Islam dengan lebih baik," tuturnya kepada Tintasiyasi.com, Rabu (25/11/2020).

Dengan begitu, ia berharap, umat Islam dapat memahami perbedaan sistem monarki atau oligarki atau otoriter, sistem demokrasi, dan sistem khilafah dengan manhaj (metode) kenabian (Khilafah Rasyidah).

Ia mengatakan, selama ini umat hanya menganggap demokrasi lawan dari otoritarianisme atau diktatorisme. "Jadi umat Islam di Indonesia yang masih berharap dengan demokrasi, itu hanya karena mereka tidak ingin diperintah oleh diktatorisme," jelasnya.

Menurutnya, itu semua karena umat belum mengetahui bahwa Islam memiliki tawaran yang lebih baik. "Dalam Islam, semua built-in-error yang ada dalam demokrasi tidak ada. Islam menolak diktaturisme, tetapi juga menolak demokrasi," lanjutnya.

Kemudian ia menjelaskan gambaran sistem pemerintahan Islam secara sederhana, diibaratkan seperti sholat berjamaah. Ia memaparkan, sistem pemerintahan Islam itu seperti orang sholat berjamaah. Ia tambahkan, dalam sholat berjamaah, yang menjadi imam boleh dipilih dari anggota jamaah yang terbaik dan disukai. 

Namun, ia mengingatkan, saat sholat, tata cara sholat hanya boleh mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah saw. Ia menegaskan, tidak boleh imam secara otoriter suka-suka sendiri, tidak boleh juga jamaah secara demokratis minta jumlah rokaat ditambah atau dikurangi. 

"Jamaah wajib mengikuti imam selama imamnya benar. Kalau imam salah, jamaah wajib mengingatkan. Kalau imam batal, maka wajib diganti. Kalau imam tidak mau diganti, maka jamaah wajib berlepas diri (mufaroqoh)," pungkasnya.[] Dewi Srimurtiningsih

Posting Komentar

0 Komentar