TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Prajurit Disanksi Sebab Cinta Agamanya, Pengamat: Seharusnya Aparat Bangga Padanya


TintaSiyasi.com--Menanggapi sanksi yang diterima oleh Asyari, seorang anggota TNI yang berteriak 'kami bersamamu Habib Rizieq Shihab', Pengamat Sosial dan Politik Iwan Januar menilai seharusnya pemerintah dan aparat bangga memiliki perwira yang cinta pada ulama dan agamanya.

"Seharusnya pemerintah dan aparat bangga dan senang bila memiliki aparat ataupun perwira yang mereka punya rasa cinta kepada agamanya. Sudah beredar viral bahwa prajurit itu ternyata pandai mengaji dan rajin ibadah," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Kamis (12/11/2020).

Menurutnya, kalau seperti ini disikapi negatif dan dipandang sebagai sebuah tindakan indisipliner, lantas yang diharapkan dari seorang prajurit atau seorang perwira itu seperti apa? "Apakah juga mereka harus jauh dari agamanya?" tanyanya heran.

Ia menilai ini suatu hal yang sangat ironis. Karena baginya, dengan kondisi negara yang seperti sekarang dibutuhkan aparat-aparat yang dekat dengan Allah, dekat dengan agama, dan punya rasa bela terhadap agamanya. "Karena yang bisa menjamin kebaikan dan menjamin keadilan hanya agama. Kalau tidak berpihak pada agama lalu mau berpihak pada apa?" ujarnya.

Mestinya, tutur Iwan, Sapta Marga itu sejalan dengan nilai-nilai agama, karena bagaimana pun nilai agama itu ada di atas nilai-nilai yang lain. "Ayat-ayat suci ada di atas ayat-ayat konstitusi," tegasnya.

Ia sangat prihatin dengan penangkapan anggota TNI hanya dikarenakan mereka mengucapkan shalawat dan mengucapkan selamat datang dan dukungan kepada Habib Rizieq Shihab.

Pertama, menurutnya, sebagai warga negara dan tentu TNI adalah bagian dari warga negara, setiap orang berhak untuk mengekspresikan keagamaannya dan mewujudkan juga nilai-nilai keislamannya. 

"Kalau ada pernyataan bahwa TNI dan aparat harus netral, tentu benar dalam persoalan politik. Tetapi dalam masalah keagamaan, seorang Muslim sebagai warga negara itu berhak untuk mewujudkan rasa cintanya pada tokoh agama. Baik itu aparat non muslim pada tokoh agamanya, maupun aparat Muslim pada tokoh agamanya itu seharusnya dijamin oleh UU," bebernya.

Kedua, Ia menilai sebagai seorang Muslim mempunyai kewajiban untuk ihtiraman dan takziman kepada tokoh-tokoh agama, kiyai, ajengan, dan ulama. "Ini satu hal yang merupakan bagian dari akhlaqul karimah. Apalagi bila tokoh-tokoh Muslim itu ada tokoh-tokoh yang memang mereka senantiasa menunjukkan pembelaan terhadap Islam," terangnya.

Menurutnya, tidak ada alasan untuk kemudian tidak mahabah (cinta) dan tidak ihtiraman kepada tokoh-tokoh seperti itu. Ia mempertanyakan, bukankah aparat yang menunjukkan keberpihakan pada tokoh-tokoh agama yang berada di barisan pemerintah juga termasuk pelanggaran?

"Semestinya peraturan itu berlaku fair bahwa kalau memang tidak boleh menunjukkan keberpihakan. Semestinya juga perwira atau pun prajurit atau siapa pun dari kalangan aparat yang menunjukkan keberpihakan kepada tokoh agama atau pun tokoh politik yang ada di kubu manapun baik kubu pemerintah atau pun kubu sebaliknya harusnya sama-sama kena sanksi," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia sangat prihatin karena hal ini menunjukkan suatu sikap yang tidak mencerminkan rasa keadilan. "Dan sebagai kaum Muslimin, hal ini mencerminkan sikap yang tidak islami bahkan cenderung ada islamphobia," pungkasnya.[] Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar