Penistaan Tiada Akhir dalam Sistem Demokrasi

Toleransi menjadi propaganda yang selalu diserukan oleh pemimpin dunia dalam sistem hari ini. Namun nyatanya agama Islam selalu menjadi korban dan menjadi sasaran utamanya. Islamophobia semakin menjamur ditengah-tengah khalayak, pembuktian besarnya kebencian Barat terhadap umat Islam. Salah satunya ditunjukkan oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron atas dukungan terkait karikatur Nabi Muhammad SAW sebagai kebebasan berekspresi.

Pada Rabu malam di Paris (21/10), Macron memuji Samuel Paty sebagai “pahlawan diam” dan “Wajah Republik”. Bahkan Macron memberikan penghargaan tinggi negara, Legion d’honneur, kepada keluarga Paty. Sementara pembunuh Paty, Abdullakh Anzorov, remaja 18 tahun kelahiran Chechnya, ditembak mati oleh polisi setelah pembunuhan terjadi.

“Dia dibunuh karena jiwa Republik tertanam padanya. Ia dibunuh karena kelompok Islamis menginginkan masa depan kita. Mereka tahu, dengan adanya pahlawan-pahlawan yang bergerak secara diam-diam seperti ini, upaya mereka tak akan pernah berhasil,” kata Macron (bbc.com, 21/10/2020)

Mengutip jaringan berita CNN, Macron menyampaikan sikap itu pekan lalu, untuk menghormati guru sekolah menengah yang dibunuh. Guru bernama  Samuel Paty (28), tewas setelah kepala dipenggal usai mengajar di pinggiran Paris. Paty dihabisi setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas. Membahas kartun karya Charlie Hebdo, dianggap sebagai pelajaran kebebasan berekspresi. menganggapnya sebagai kebebasan berekspresi. (https://palembang.tribunnews.com/2020/10/28)

Pernyataan tersebut sontak saja membuat ummat Islam diseluruh dunia geram. Begitu juga yang ditunjukan oleh pemimpin-pemimpin dari negara Islam dunia. #boykotprodukPrancis bergema dimana-mana. Salah satunya adalah presiden Turki Recep Tayyip Erdogan."Saya menyerukan kepada orang-orang, jangan mendekati barang-barang Perancis, jangan membelinya," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin di Ankara. (https://palembang.tribunnews.com/2020/10/28)

Di Kuwait, jaringan supermarket swasta mengatakan bahwa lebih dari 50 gerainya berencana memboikot produk Perancis. Kampanye boikot ini juga sedang memanas di Yordania dan Yaman. Di mana sejumlah toko grosir membuat tulisan pernyataan bahwa mereka tidak menjual produk asal Perancis. Begitu pula di berbagai toko di Qatar, melakukan hal yang sama. Salah satunya jaringan supermarket Al Meera yang punya lebih dari 50 cabang di negara tersebut.

Begitupun juga di Indonesia dari MUI sendiri mengeluarkan imbauan kepada umat Islam Indonesia untuk memboikot segala produk asal negara Perancis.  Selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia. Tak hanya itu, MUI juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk menekan dan mengeluarkan peringatan keras kepada Perancis dengan cara menarik sementara Duta Besar Republik Indonesia yang ada di Paris. 

Aksi penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW ini bukan yang pertama kalinya. Pada tahun 2006 silam pernah terjadi pelecehan terhadap ummat islam dengan pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW yang dilansir koran Denmark. Alhasil pemboikatan juga terjadi pada produk-produk Denmark. (www.cnbcindonesia.com) 

Meski pemboikatan dan kecaman telah dilayangkan oleh pemimpin Islam dunia namun nyatanya penghinaan terhadap Islam kian menjamur dipermukaan. hal ini diakibatkan karena di sistem Demokrasi adanya kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat atas individu sehingga siapapun bebas melakukan apapun. Hal ini tentunya memberikan peluang bagi pemerintah Perancis sendiri untuk menjalankan kampanye Anti Islam. Hingga akhirnya pemboikatan serta kecaman bukanlah solusi yang solutif atas penghinaan ini. Sikap memboikot produk dan terhadap prancis ini terlihat hanya amarah yang sementara saja, jika hilang amarah tersebut maka boikot pun tak berlaku lagi dan tentunya tidak akan membuat jera para penghina. 

Hal demikian tidak akan terjadi jika kaum muslimin memiliki seorang imam (Khalifah) yang berperan sebagai pengurus dan penjaga darah, nyawa, kehormatan, akal, dan agama. Al-Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (Khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum Muslimin dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain utnuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk dibawah kekuasaannya”. 

Dalam sistem Khilafah, jika terjadi penistaan terhadap agama Islam seperti penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, maka negara tidak akan tinggal diam. Menurut al-Qadhi Iyadh rahimahullah, hukuman bagi orang yang menista atau menghina Nabi SAW adalah dengan membunuhnya. Apabila pelaku penghina Nabi Muhammad SAW adalah individu, negara akan menetapkan baginya uqubat (sanksi) berupa ta’zir karena pelanggaran yang dia lakukan berhubungan dengan agama. Sanksi ta’zir yang ia dapati berupa hukuman mati. Jika ia seorang muslim maka dia dihukum mati tanpa di terima taubatnya. Adapun jika pelakunya negara seperti Perancis saat ini, maka Khalifah tidak akan segan untuk menyerukan Jihad. 

Hal ini pernah dilakukan oleh khilafah Utsmaniyah di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II (1876-1918). Pada saat itu Perancis telah merancang drama teater untuk menghina Nabi Muhammad SAW. Tak menunggu lama Khalifah pun memberikan perintah kepada pemerintah Perancis agar menghentikan pementasan drama tersebut dan mengingatkan akan akibat Politik yang akan dihadapi oleh Perancis yaitu Jihad apabila Perancis bersikeras untuk melanjutkan pementasan tersebut. Itulah kemuliaan Islam dalam mengentikan penghinaan-penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, kemuliaan Islam yang akan terus ada hingga nanti Allah akan mengangkatnya Kembali.[]

Oleh: Lilla Hasni Killian, The Voice of Muslimah Papua Barat

Posting Komentar

0 Komentar