Penghinaan kepada Nabi, Terulang lagi



Lagi, kaum Muslim kembali dihina dan dicaci. Selalu terulang dan kembali terulang kejadian-kejadian tersebut. Luka lama saja belum sembuh total, sekarang makin bertambah dengan rasa sakit yang teramat dalam. Belum lama ini, kejadian berdekatan dengan Rabiul Awwal. Bulan dimana Rasulullah dilahirkan, ternyata ada suguhan yang tak mengenakkan.

Kasus penghinaan kepada suri tauladan kita, baginda Nabi Muhammad saw. kembali terulang, dengan munculnya karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo. Jelas, ini adalah pelecehan dengan alasan kebebasan. Ya, kebebasan berekspresi itulah yang mereka kemukakan. Karikatur tersebut diterbitkan oleh Charlie Hebdo yang diperlihatkan oleh seorang guru di Perancis (Samuel Patty), 16 Oktober 2020. Tak lama dari kejadian itu, dikabarkan Patty tewas dibunuh. Terduga pelaku pembunuhan adalah seorang pemuda 18 tahun yang tidak lama kemudian pemuda tersebut tewas tertembak di tempat oleh polisi. (Tempo.com, 21/10/2020)

Tak berselang lama, masyarakat kembali dihebohkan dengan seruan pemboikotan produk-produk yang berasal dari negeri Eiffel. Bahkan sejumlah besar kaum muslimin di seluruh belahan dunia membuat kampanye daring yang menyerukan pemboikotan produk-produk Perancis. Ditambah dengan adanya seruan tagar #NeverTheProphet dan #BoycottFrenchProducts menggema dan viral di lini masa pengguna media sosial di negara-negara Arab seperti Aljazair, Mesir, Irak, Palestina, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Qatar. (money.kompas.com, 28/10/2020)

Aksi pemboikotan tersebut dilakukan serentak oleh negeri-negeri Muslim. Hal itu bermula dari pernyataan orang nomor satu di Perancis (Emmanuel Macron) yang dinilai menghina Islam dan melecehkan Nabi Muhammad saw. presiden Perancis tersebut menyatakan bahwa tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad saw. dengan dalih kebebasan berekspresi di negaranya. Pernyataan Macron tersebut diungkapkan seminggu setelah kasus pemenggalan guru Samuel Paty oleh “ektrimis Muslim”. Paty menunjukkan karikatur Nabi saw. kepada para muridnya di dalam kelas. (bbc.com, 26/10/2020)

Permusuhan terhadap Islam yang tampak di Perancis sesungguhnya telah nyata dan gamblang. Hembusan Islomophobia yang kian santer membuat semakin lama rasa itu semakin mengemuka. Padahal sejatinya Perancis menyebut dirinya sebagai “pejuang kebebasan”. Namun pada faktanya mempunyai dua sisi yang berkebalikan satu sama lainnya. Ternyata standar ganda telah tampak dengan adanya jaminan kebebasan bagi warga negaranya sendiri. Sebagai bukti bahwa pada 2011, pemerintah Perancis melarang masyarakatnya mengenakan penutup wajah (cadar) dan menetapkan denda hingga 150 euro (sekitar Rp. 2.57 juta). Hal tersebut dilakukan dengan alasan ingin membebaskan kaum perempuan dari kekangan agama. Bahkan dalam kondisi pandemi saat ini, Perancis mewajibkan rakyatnya mengenakan masker di ruang publik tetapi tetap mempertahankan larangan pemakaian burqa. (republika.co.id, 26/05/2020)

Akan sangat mudah terjadi di depan mata kita penghinaan, pelecehan, bahkan kriminalisasi terhadap Islam dan para penganutnya serta ajarannya. Seakan Islam terus saja menjadi bulan-bulanan untuk dijadikan bahan ejekan. Padahal pada sistem ini amat menjunjung tinggi perbedaan, namun pada faktanya menyudutkan golongan tertentu. Tentunya ada motif besar di balik ini semua. Lantas, akhirnya muncul dalam benak kita kemana para penggiat HAM yang santer menyuarakan visi misi mereka? Semua diam membisu dan tak mampu berbuat apa-apa.

Melihat kejadian demi kejadian yang berkaitan dengan penghinaan terhadap Islam ini tentunya dilandasi oleh sebuah aturan yang terterap sekarang. Liberalisme-lah yang diduga kuat telah melanggengkan kejadian-kejadian tersebut. Tentunya hal ini akan terus berlanjut manakala sistem yang ada masih sama. Mereka tentunya berujar dengan dalih kebebasan tadi, hingga akhirnya mereka mempunyai pemahaman yang sama. Boleh melakukan hal apapun tanpa melanggar sesuatu.

Sungguh sedih dan miris melihat itu semua. Maka amat wajar bila seluruh kaum Muslim di dunia merasa marah dan geram dengan kejadian tersebut. Siapa yang rela, jika junjungan dan suri tauladan serta manusia mulia di muka bumi ini dihina dan dilecehkan. Tentunya hal ini memperlihatkan pada kita bahwa betapa bencinya mereka terhadap Islam dan Nabi saw. Hal itu tergambar dalam firman Allah Swt. dalam surat Ali Imran ayat 118.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Permusuhan dan kebencian yang ditampakkan oleh orang-orang kafir begitu amat nyat. Bahkan kejadian tersebut terus berulang setiap tahunnya. Entah langsung mereka yang bersikap atau lewat orang-orang kepercayaan mereka yang dinilai mampu memporak-porandakan Islam. Semua itu dilakukan dengan berbagai macam cara.

Tentunya kejadian di atas makin memperlihatkan pada kita betapa buruknya wajah demokrasi. Kebebasan berekspresi dan berperilaku yang digaungkan dan diagung-agungkan telah mencederai makna kebebasan itu sendiri. Standar ganda yang tampak menjadi sesuatu yang bias, biasa, dan wajar jika dilakukan. Tentunya yang menjadi objeknya adalah Islam dan kaum Muslim serta ajarannya bahkan Nabi saw. 

Sebagai wujud kecintaan dan keimanan yang ada pada diri seorang Muslim, maka akan sangat wajar amarah akan muncul manakala seorang Nabi atau Rasul dilecehkan. Akan lucu kondisinya jika orang yang kita junjung tinggi, kemudian dilecehkan lantas kita diam seribu bahasa tanpa ada tindakan. Maka akan dipertanyakan rasa kecintaannya tadi. Dijelaskan oleh Al Qadhi Iyadh, bahwa bentuk hujatan-hujatan kepada Nabi Muhammad saw., orang yang menghujat Rasulullah saw. adalah orang yang mencela, mencari-cari kesalahan, menganggap pada diri Rasul ada kekurangan; mencela nasab (keturunan) dan pelaksanaan agamanya; juga menjelek-jelekan salah satu sifatnya yang mulia; menentang atau mensejajarkan Rasul saw. dengan orang lain untuk niat mencela, menghina, mengkerdilkan, mencari-cari kesalahannya. Orang yang seperti ini termasuk orang yang telah menghujat Rasulullah saw.

Hal senada juga dinyatakan oleh Khalil Ibnu Ishaq al-Jundiy, ulama besar mazhab Maliki, siapa saja yang mencela Nabi saw, melaknat, mengejek, menuduh, merendahkan, melabeli dengan sifat yang bukan sifat beliau, menyebutkan kekurangan, pada diri dan karakter beliau, merasa iri karena ketinggian martabat, ilmu, dan kezuhudannya, menisbatkan hal-hal yang tidak pantas kepada beliau, mencela, dan lain-lain maka hukumannya adalah dibunuh. 

Dalam Islam, menghina Nabi saw. jelas haram hukumnya. Pelakunya disematkan label kafir dan dihukum dengan hukuman mati. Al Qadhi Iyadh menuturkan, ini telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama dan para imam ahli fatwa, mulai dari generasi sahabat dan seterusnya. Ibnu Munzir menyatakan, mayoritas ahli ilmu sepakat tentang sanksi bagi orang yang menghina Nabi saw. adalah hukuman mati. Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam al-Laits, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam Syafi’i. 

Teringat akan petuah yang disampaikan oleh ulama besar Buya Hamka rahimahullah juga mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirahnya ketika agamanya dihina, beliau menganalogikan orang seperti itu dengan orang mati. “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.” 

Dalam alam demokrasi seperti sekarang ini akan sangat mudah kita jumpai pelecehan demi pelecehan terhadap Islam dan kaum Muslim. Kecaman demi kecaman saja yang mampu dilakukan oleh pemimpin negeri kaum Muslim. Kita belum mampu secara jelas memberikan hukuman yang nyata bagi si penghina tersebut. Tentulah kita sadar bahwa sejatinya pelindung kaum Muslim belum ada, setelah terakhir kali pada 1924 di Istambul-Turki. Sehingga kita wajib adanya untuk berjuang bersama agar kemuliaan serta pelindung Islam dan kaum Muslim menjadi nyata adanya. 

Jadi, pantas saja sekarang banyak sekali orang yang dengan sengaja melecehkan Islam dan para pemeluknya. Hal tersebut dikarena Islam belum diterapkan dalam kehidupan ini sehingga benteng perlindungan belum bisa terbentuk. Oleh sebab itu, hal yang mesti dilakukan adalah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menerapkan Islam, sehingga benteng itu segera akan terbangun. Sebuah institusi yang mampu menerapkan islam secara sempurna dan paripurna berikut mampu mengayomo serta melindungi islam dan kaum Muslaim. Ialah Khilafah Islamiyah yang mampu melakukannya hingga tak ada lagi yang berani untuk melecehkan Islam dan kaum muslimin. Wallahu A’lam. []


Oleh: Mulyaningsih
(Pemerhati Anak, Remaja, dan Keluarga)

Posting Komentar

0 Komentar