Pengaruh Pilpres Amerika terhadap Umat Islam


Siapapun presiden Amerika Serikat yang terpilih, pasti akan mempengaruhi ekonomi global, tak terkecuali lokal Kalimantan Barat. Hal tersebut diungkapkan ekonom Universitas Tanjungpura Prof. Dr. Eddy Suratman kepada Pontianak Post (10/11), "Tidak secara langsung berpengaruh ke kita. Tetapi sebagai negara adidaya dan kekuatan ekonomi-politik terbesar di dunia, kebijakan-kebijakan Amerika Serikat akan berdampak juga ke kita,” ujarnya.

Biden dan Trump, masing-masing akan menciptakan tantangan ekonomi tersendiri bagi Indonesia, dan Kalbar. Seperti, jika Trump menang akan menguntungkan Indonesia dari sisi kebijakan soal keringanan pajak dalam negeri, bunga rendah, serta peningkatan industri di AS.

Begitu pula perang dagang Trump dengan Tiongkok, membuat arus investasi dari AS dan negara lain banyak berpindah ke negara ketiga. Indonesia, termasuk Kalbar yang menjadi lumbung komoditas, memiliki potensi besar untuk menjadi daerah tujuan pelarian investasi tersebut. Selain itu selama kepemimpinan taipan global tersebut, harga komoditas Kalbar seperti karet dan CPO cenderung merangkak naik.

Memang selama empat tahun memimpin, Trum juga telah membuat situasi politik-ekonomi dunia tak menentu. Kebijakan kontroversial dengan negara lain, sehingga membuat ekonomi panas dan menjadi tidak pasti. Terutama perang dagang yang tidak disukai para pelaku ekspor-impor.

Sementara soal Joe Biden, kebijakan perdagangan luar negerinya akan lebih moderat. Kemungkinan hubungan dagang dengan Tiongkok akan membaik. Peluang Indonesia untuk menarik investasi dari AS menjadi lebih berat.

Kebijakan Partai Demokrat lebih liberal ketimbang Republik. Hal-hal terkait hak asasi manusia dan lingkungan hidup akan menjadi perhatian besar oleh Joe Biden untuk negara-negara berkembang. Mungkin Indonesia akan lebih disorot soal human right dan isu perubahan iklim.

Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economic (Core), Piter Abdullah juga turut memberikan prediksi soal Pemilihan Presiden Amerika (Pilpres AS) 2020 yang tengah berlangsung saat ini terhadap perekonomian di Indonesia. Dilansir dari Antara News (5/11), Piter mengemukakan bahwa menangnya Joe Biden dalam Pilpres AS, berpotensi mendorong aliran modal asing ke sejumlah negara berkembang, tak terkecuali ke Indonesia, lantaran sesuai dengan ekspektasi pasar. Sementara selama periode Trump, pasar keuangan global gonjang-ganjing karena kebijakannya ekstrim.

Terlepas dari penilaian untung rugi dari terpilihnya Biden ataupun Trump. Tentu kaum muslim tidak boleh menjadikan materi dan asas manfaat sebagai standar penilaian seperti yang digunakan dalam paradigma ideologi kapitalisme, sekalipun dengan melihat dharar (bahaya) mana yang lebih sedikit. Namun demikianlah realitas sistem kapitalisme-demokrasi, tidak ada yang benar-benar amanah memimpin. Menghalalkan segala cara sudah biasa, bahkan menggunakan pendekatan agama sekalipun.

Perlu kita ingat, kisah seorang orientalis sekaligus agen Belanda yang berpura-pura masuk Islam. Dialah Snouck Hurgronje (1857-1936). Ia mempelajari Islam secara serius dan berguru dengan para ulama di Mekkah. Ia fasih menguasai Bahasa Arab dan mampu menukil ayat Al-Qur’an dan Hadist. Semua itu dilakukannya hanya untuk menjalankan misi rahasia dari Pemerintah Belanda. Akhirnya, dengan tipu muslihatnya itu, salah satu keberhasilan Snouck adalah melumpuhkan perlawanan umat Islam di Aceh dengan politik pecah belah (devide et impera).

Kisah Snouck Hurgronje haruslah dijadikan pelajaran, agar umat Islam tidak mudah terpikat lagi dengan topeng serta tipu daya musuh-musuh Islam. Demikian pula dalam Pilres AS 2020, pendekatan agama pun digunakan. Joe Biden mampu menarik simpatik kaum muslim Amerika dengan mengucapkan Insya Allah dan mengutip hadits Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan setiap Muslim mencegah keburukan.

"Barangsiapa di antara Kamu yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak sanggup lakukan dengan lisan mu. Jika masih tidak sanggup ubahlah dengan hatimu," ujar Biden seperti dilansir AFP. (Kalbar.inews.id, 8/11)

Apakah hal demikian menunjukkan keberpihakan AS pada Islam? Tentu tidak, lihat hubungan AS dengan Israel yang telah banyak menumpahkan darah kaum muslim di Palestina. Dilansir dari laman Republika (18/11), Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan telah melakukan percakapan hangat dengan Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih dari partai Demokrat Joe Biden, Selasa (17/11) waktu setempat. Hal itu secara resmi diumumkan kantor Perdana Menteri Israel.

Dalam percakapan yang hangat, Presiden terpilih menegaskan kembali komitmennya yang mendalam terhadap Israel dan keamanannya. Begitu pula Presiden Israel Reuven Rivlin, ia pun memberi selamat atas pemilihan Biden dan menyebutnya sebagai "teman lama" Israel.

Begitu dekatnya antara AS dan Israel. Hal tersebut tentu sangat jelas menunjukkan posisi AS sebagai Negara kafir harbi fi'lan, yang telah jelas memerangi Islam secara nyata dengan banyak menumpahkan darah kaum muslim serta mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia di negeri-negeri muslim.

AS pun tak segan-segan menggunakan strategi soft approach hingga hard approach untuk menguasai dunia. Mulai dari menguasai kebijakan, menempatkan penguasa-penguasa boneka, hingga dengan mengerahkan kekuatan militernya. Jadi, siapa pun presiden AS yang terpilih, tentu ia akan membawa visi misi imperialis global dari ideologi kapitalisme yang mereka emban.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118)

Alhasil, akankah kaum muslim semakin terpecah belah seperti yang sudah dilabelisasi oleh RAND Corporation, ataukah akan semakin bersatu dan menggaungkan ajaran agamanya seperti syariah dan Khilafah, misalnya. Ini semua tergantung kemauan dan kejelian umat Islam membaca situasi politik yang dimainkan Negara Adidaya (AS) sehingga mampu mengambil peluang besar menjadikan Islam sebagai solusi dari berbagai masalah yang dihadirkan oleh sistem kapitalisme-demokrasi yang hampir mati di tangan pengembannya sendiri. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Sri Wahyu Indawati, M.Pd
(Inspirator Smart Parents)

Posting Komentar

0 Komentar