Penerapan Syariat Islam Jaminan Revolusi Akhlak


Takbir dan shalawat menggema di Bandara Soetta 10 november lalu, terminalnya penuh sesak oleh umat yang selama ini memendam kerinduan yang sangat dalam. Habibana Riziq Shihab pulang ke Indonesia, setelah 3 tahun lamanya tinggal di Mekkah Al-Mukarromah Saudi Arabia. Umat sudah sangat rindu dengan sosok yang lantang membela agama Islam terlebih beliau adalah keturunan ke-39 Rasulullah SAW.

Sangat terasa sekali kerinduan yang membuncah saat menyambut kedatangan habibana. Seakan umat memiliki secercah harapan terang atas sejuta masalah yang sedang dihadapinya. Jika kita flashback, maka Habibana Riziq Shihab adalah salah satu ulama yang lantang dalam menyampaikan kritik kepada penguasa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap ulama yang lantang kepada rezim akan menemui banyak masalah. 

Sebut saja Ustaz Abu Bakar Ba’asyir, UAS, Ustaz Felix Siauw, Ustaz Ismail Yusanto dan lainnya. Mereka adalah ulama pelita umat, yang tak lepas dari persekusi yang dibiarkan oleh rezim. Merekalah yang lantang dalam amar ma’ruf nahi munkar, mengingatkan para penguasa untuk tidak melestarikan kezaliman dalam bentuk apapun. Tetapi banyak diantara mereka yang justru difitnah dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal agar berhenti dari dakwahnya.

Persekusi Ulama adalah Buah Demokrasi yang Merusak

Demokrasi yang dianut oleh negeri ini mulai menampakkan wajah aslinya. Apapun yang menjadi penghalang kepentingan para penguasanya akan dibungkam, meskipun para ulama hanif menjadi korban. Mereka tak segan-segan membuat stigma negatif tanpa takut akibat dari perbuatan tersebut. Apalagi saat ini umat sudah merapat kepada Ulama. Para penguasa sudah kehilangan banyak kepercayaan dari rakyat imbas dari pengesahan UU Omnibuslaw.

Tentu saja hal ini membuat rezim panik bukan kepalang. Bagaimana tidak, yang mereka pikirkan hanya uang dan kekuasaan, dan mereka akan kehilangan semua itu jika umat dibawah komando ulamanya berbalik arah untuk menerapkan Islam. 

Sudah menjadi rahasia umum juga, upaya-upaya yang dilakukan oleh rezim seperti menghapus materi jihad dan khilafah, atau sertifikasi dai dan pembatasan khotbah Jumat adalah upaya untuk membungkam kebangkitan Islam. Tetapi makar Allah adalah makar terbaik. Semakin rezim mencitra-burukan para ulama, umat malah semakin cinta dan rindu pada komando ulamanya.

Revolusi Akhlak Melahirkan Ketaatan Total

Saat ini Habibana mengajak seluruh umat hingga para pemimpin negeri untuk revolusi akhlak. Kebobrokan akhlak masyarakat saat ini sudah pada taraf yang mengkhawatirkan sehingga diperlukan revolusi total didalamnya. 

Kemerosotan akhlak yang terjadi disemua lini kehidupan bukan semata terjadi karena kesalahan individu masyarakat saja. Hal ini terjadi karena penerapan sistemik demokrasi yang rusak dan merusak. Kita hanya berangan-angan saja jika berharap revolusi akhlak akan terjadi saat demokrasi masih diberlakukan. Kita sudah membuktikannya sendiri, sudah lama kita merdeka namun akhlak semakin rusak.

Hal ini dikarenakan sekulerisme yang menyertai demokrasi itu sendiri. Sekulerisme yang diagungkan sistem ini, hanya akan menjauhkan manusia dari agamanya. Jika manusia jauh dari agamanya, maka hasilnya adalah kemerosotan akhlak yang luar biasa pada masyarakat.

Maka kita bisa sepakat, jika ingin revolusi akhlak maka kita harus berlepas diri dari demokrasi. Kita membutuhkan sistem yang shahih untuk mempimpin hidup kita. Sistem itu tidak lain adalah syari’at Islam dibawah naungan Khilafah.

Khilafah Menjamin Revolusi Akhlak

Kita bisa membaca sejarahnya, bagaimana syari’at Islam dapat mengubah akhlak bangsa arab yang asalnya jahiliyah menjadi akhlak yang terpuji. Islam mampu mengubah wajah dunia yang suram dengan sinar terang karena sistem ini berasal dari Sang Maha Pencipta, Allah Azza wa Jalla.

Saat syari’at Islam diterapkan secara total dibawah naungan Daulah Islamiyah, maka negara akan menjamin seluruh rakyatnya untuk menuntut ilmu syar’i, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Dari sinilah awal mula revolusi akhlak dimulai. Revolusi yang tidak akan bisa dibendung saat sudah dimulai. Revolusi yang akan kembali mengubah wajah dunia untuk kedua kalinya. Insya Allah. Wallahu a’lam.[]

Oleh: Aisyah Farha
(Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar